travelwithrj.com - Permainan Slot Ameba

Tag Archives

2 Articles

Sejarahnya suku Tidung yang Ada di Indonesia

by Edwin Baker

Suku Tidung  dari Kalimantan Utara pada  belakangan ini menjadi sebuah perbincangan yang sangat hangat setelah salah satu pakaian adatnya dari suku tidung ini tampil dalam uang yang baru pada pecahan Rp 75.000 mulai menuai polemik karena sangat mirip dengan bangsa China. Suku Tidung ini merupakan sub-etnis Dayak yang memiliki mata yang sipit, namun suku tidung ini bukan dari China. Yang perlu kalian ketahui tidak selalu yang bermata sipit adalah China, ada banyak suku bangsa di Indonesia yang nyatanya itu memiliki mata yang sipit.

Suku Tidung ini adalah sub-etnis dari Suku Dayak Murut yang ada di Indonesia, salah satu dari tujuh suku yang besar yang mendiami di wilayah utara Kalimantan bagian timur. Ada sekiranya enam suku lainnya yaitu, ada suku Ngaju, suku Apo Kayan, suku Iban, suku Klemantan, suku Punan, serta ada suku Ot Danum. Suku Tidung ini sendiri pun masih terbagi lagi dalam sepuluh suku lainnya. Suku tidung ini bermukim di kawasan pesisir yang ada di utara dan menganut agama Islam.

Kata tidung itu dalam Suku Tidung berasal dari kata tiding atau bisa juga tideng yang yang memiliki arti bukit atau bisa juga dengan gunung. Hal ini yang menggambarkan bahwa kelompok pada suku tidung ini berasal dari daerah pegunungan yang ada di pulau Kalimantan di sebelah timur laut. Suku Tidung ini memiliki pergerakan yang sangat dinamis, berpindah-pindah dari pedalaman yang ada di Kalimantan di Kabupaten Tanah Tidung hingga berpindah lagi ke Malaysia, Malinau, mendekati pantai di Nunukan, Tarakan, dan Berau.

Sifat yang dimiliki oleh suku tidung adalah dinamis dan dari Suku Tidung inilah yang membuat mereka mendapatkan banyak sekali pengaruh dari luar disana, yang paling terutama dari pelaut dan juga pedagang muslim. Sehingga kini sudah hampir sebagian besar dari masyarakat Suku Tidung ini yang menganut agama Islam. Hal ini sudah jelas sangat kontras dan sangat berbeda dengan Suku Dayak lainnya yang ada di Kalimantan Utara yang sebagian besar dari suku tersebut adalah menganut agama Kristen.

Bagian dari Suku Dayak

Sebenarnya jika kalian ketahui bahwa mata sipit yang dimiliki dari masyarakat Suku Tidung itu sudah diturunkan oleh leluhur mereka yang saat itu berasal dari Suku Dayak. Suku Tidung ini sudah lama sekali meninggalkan tanah kelahirannya yang berada di suku Dayak juga sejak 100 tahun yang lalu mereka meninggal kan suku Dayak melalui Sungai Sesayap atau bisa dikatakan dengan Sungai Malinau setelah itu suku tidung pergi ke daerah hilir, kemudian setelah mendiami daerah yang ada di pesisir yang ada di timur Kalimantan dan kemudian mulai ke pulau-pulau kecil lainnya untuk mereka jajaki. Mereka ini memulai hidupnya sebagai nelayan dan juga mereka mulai menjalin sebuah hubungan dengan para pelaut yang ada saat itu dan juga dengan para pedagang muslim yang ada saat itu.

Oleh karena itu, ada banyak sekali cerita dari tutur yang terputus dan tidak selesai hingga saat ini. Salah satunya itu adalah pada Suku Tidung ini tidak memiliki sebuah mitos atau bisa dikatakan tidak memiliki mits seperti kebanyakan suku-suku yang ada di Indonesia atau bahkan suku tidung ini tidak memiliki legenda yang berkaitan langsung dengan asal-usulnya nenek moyangnya dari suku Dayak sebagaimana yang ada pada masyarakat Dayak atau bahkan setiap suku memilikinya hanya suku tidunglah yang tidak memiliki ceria asal usul dari nenek moyang nya. Meskipun demikian, masih ada sisa dari tradisi pra-Islam yang masih tersisa yang ada pada masyarakat Tidung hal ini lah yang menjadi bukti antara hubungan kekerabatan dengan suku Dayak.

Meskipun suku tidung telah menganut agama Islam, masyarakat yang ada di suku tidung ini sangat percaya pada roh leluhur sama seperti halnya Suku Dayak yang juga mempercayai roh leluhur. Sebagian dari suku tidung ini masih melakukan ritual yang berkaitan dengan tradisi nenek moyangnya, yang terutama dalam memaknai sebuah tempat-tempat keramat. Pada kepercayaan terhadap roh leluhur akan menjadi konsep megalitik yang masih dikenal oleh Suku Tidung hingga saat ini.

Ada beberapa ritual kuno yang masih sering kali dilakukan oleh Suku Tidung yaitu untuk pemanggilan arwah di Batu Lumampu, membayarkan nazar di Batu Lumampu dan juga pada Batu Kelangkang, serta memiliki prosesi pengobatan Badewa oleh tokoh-tokoh adat yang ada. Tradisi yang masih berlangsung hingga saat ini akan menunjukkan bahwa Suku Tidung pada zaman dahulu memiliki kepercayaan yang sama juga dengan Suku Dayak Agabag, Tahol, dan Tenggalan di wilayah Kalimantan.

Pernah Menjadi Sebuah Kesultanan

Sejarah pada Suku Tidung Tarakan ini berkaitan sangat erat dengan Kesultanan yang ada pada Bulungan besar yang saat itu pernah berdiri di daerah utaranya Kalimantan. Pada kesultanan uang ini lahir dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat dari Suku Tidung. Secara formal, agama Islam hadir pada saat Kesultanan Bulungan itu mulai berdiri. Hal ini lah yang ditandai dengan datangnya seorang ulama Arab yang saat itu dari Demak, bernama Said Abdurrahman Bil Faqih yang melakukan pembelajaran islamisasi pada masyarakat Tidung ini.

Pada hal ini dapat dilihat dari ada makam dari penyebar agama, yaitu Said Ahmad Maghribi yang berada di Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Makam itu letaknya di lereng tebing, yang ada di sebelah barat pada aliran Sungai Pimping yang bermuara di Teluk Sekatak. Berdasarkan angka tahun yang tertulis di dalam nisan tersebut, diketahui bahwa ulama ini sudah meninggal sejak tahun 1832 M.

Setelah Indonesia mulai merdeka, Kesultanan yang ada di Bulungan mendapatkan status sebagai daerah yang swapraja atau daerah yang istimewa dalam level yang setara dengan kabupaten otonom. Pada keluarga kesultanan sangat berperan aktif di pemerintahan. Hingga pada akhir di tahun 1950-an hingga tahun 1964, Bulungan telah berubah menjadi kabupaten. Namun kursi pada bupati masih diberikan kepada trah kesultanan.

Hak-hak yang istimewa pada Kesultanan Bulungan terhadap wilayah warisan dari leluhur telah hilang sepenuhnya pada tahun 1964-1965, saat itu dicabut oleh Pemerintah Pusat melalui sebuah proses yang tidak bisa dianggap dengan cara damai. Konon katanya hal ini melibatkan propaganda pada pihak komunis yang menunggangi isu dari landreform yang saat itu diamanatkan UU Agraria 1960. Kesultanan Bulungan saat itu dituduh tidak mendukung politik yang ada konfrontasi Dwikora terhadap Malaysia, bahkan hal ini memainkan mata untuk bisnis yang dilakukannya.

Kedatangan Islam

Menurut seseorang yang bernama Nugroho, suku tidung ini selain sebagai sebuah suku, nama pada Tidung juga menunjukkan kepada sebuah kerajaan yang sangat kental dengan nuansa keislaman yang ada. Ada makam Maharaja Dina I berada di Desa Sesayap, Kecacatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tanah Tidung dan makam tokoh yang sangat dihormati seperti Datuk Bendahara dan Datuk Mandul yang ada di Kecacatan Tanah Liar, Pulau Mandul, Kabupaten Tanah Tidung, hal ini menandakan bahwa kawasan ini sebagai daerah tempat perpindahan awal untuk orang Tidung. Mereka kemudian berdomisili di sana dan membentuk suatu institusi tradisional.

Pada Kerajaan ini sudah terbentuk dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat berlatar belakang dari Suku Tidung, hal ini yang tulis oleh Nugroho. Dan ada kemungkinan bahwa mereka ini terpisahkan dari keluarga mereka yaitu suku induknya, seperti Suku Dayak Murut.”

Institusi yang sudah terbentuk ini mempercayai bahwa ada berupa kerajaan kecil. Secara tradisi, pada komunitas ini sudah berdiri sendiri yang kemudian dikuasai oleh Kesultanan yang ada di Bulungan yang mendapat sebuah pengakuan dari pemerintahan kolonial Belanda.

Aturan Tata Krama Hidup di Kalimantan

by Edwin Baker

Sebagai salah satu dari sebuah provinsi terbesar yang dimana ada di Indonesia, Kalimantan sendiri yang juga menjadi sebuah tempat atau kawasan yang menawarkan banyak hal. Tak hanya juga tentang alamnya yang dimana sangat eksotis, tapi juga tentang peluang besar untuk dapat mengembangkan karir. Ya, Kalimantan adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia yang selama ini dianggap sebagai tempat mencari pekerjaan. Sehingga tak heran kalau daerah ini sendiri yang dimana menjadi tempat yang makin banyak dikunjungi orang luar yang kemudian menetap.  Hidup di Kalimantan sendiri menjadi sebuah hal yang sangat mudah, sama seperti halnya itu di tempat lain. Intinya, asal anda yang berkelakuan baik, maka segalanya juga akan berjalan sebagaimana mestinya.

Namun jika sebaliknya, ketika anda melakukan sesuatu hal yang buruk, maka nantinya anda yang akan mendapatkan sebuah konsekuensi untuk itu. Apalagi ini adalah sebuah tanah Kalimantan di mana klenik dan juga magisnya sendiri masih menjadi sebuah hal yang sangat kuat. Di Kalimantan juga dimana ada sebuah semacam aturan khusus yang dimana tidak boleh dilanggar  oleh siapapun, apalagi oleh para pendatang. Konon, dimana ketika seseorang tidak mengindahkan ini, maka nantinya sesuatu hal yang buruk akan dapat terjadi. Lalu, aturan apa sajakah yang ada dan juga dimaksud?  Dalam artikel ini akan dibahas beberapa aturan yang harus anda ikuti saat anda berada di Kalimantan. 

 

  1. Jangan Menghina Patung Kayu di Sana

Jika anda pasti perhatikan, di Kalimantan sendiri yang dimana biasanya akan banyak sekali rumah-rumah adat yang di depannya pasti terdapat agen sbobet88 dan patung-patung kayu. Konon, ini dimana bukanlah sebuah patung biasa melainkan adalah sebagai simbol orang-orang yang biasanya sudah meninggal. Aturan yang ada dimana tentang patung kayu ini adalah jangan pernah menghina tentang bentuknya, sekalipun anda lakukan hal tersebut dalam hati.

Ada banyak juga kejadian orang-orang yang dimana menghina patung-patung ini dan kemudian mereka yang diganggu oleh makhluk-makhluk halus. Tak hanya diganggu yaitu secara visual, kadang ada yang dimana sampai mengalami sebuah keanehan fisik. Gangguan ini yang juga nantinya akan tetap ada sepanjang seseorang yang dimana tidak lekas meminta maaf kepada keluarga si pemilik patung tersebut. Terdengar kisah ini adalah hal yang tidak masuk akal, namun hal  ini ternyata menjadi sebuah hal yang sering terjadi di sana.

 

  1. Jangan Memandang Rendah Orang Dayak

Sebagai seorang pendatang, maka dimana sudah juga sudah jadi sebuah kewajiban kalau anda yang juga nantinya harus menghormati penduduk asli setempat. Kalimantan sendiri yang dimana adalah tanahnya orang Dayak, maka anda yang dimana juga harus menghormati mereka. Jangan sekalipun anda yang dimana nantinya mencari gara-gara atau juga anda menghina mereka. Takutnya, sesuatu hal yang fatal nantinya akan terjadi. 

Orang Dayak, sendiri yang dimana mereka punya magis yang sangat kuat. Ketika diganggu, mereka yang nantinya takkan segan mengerahkan kesaktian untuk dapat membalas sakit hatinya. Hal yang juga perlu diketahui, Dayak yang dimana adalah sebuah suku yang merupakan salah satu suku di dunia dengan kekuatan sihir yang terkuat. Tak hanya dengan menggunakan sihir, orang Dayak sendiri yang dimana bisa melukai musuhnya dengan mandau yang sangat sakti atau merupakan sebuah sumpit beracunnya yang sangat mematikan itu.

 

  1. Jangan Pernah Mempermainkan Gadis Dayak

Siapa sih yang bisa menampik jika cantiknya gadis-gadis Dayak? Paras ayu yang sangat alami pasti juga bisa menjerat siapapun yang nantinya dapat digunakan untuk jatuh cinta, termasuk juga para pendatang. Nah, ada satu hal yang dimana perlu diperhatikan terkait dengan gadis-gadis Dayak tersebut. Ini adalah sebuah larangan tentang tidak mengganggu para gadis dayak tersebut atau mempermainkannya.

Ada mitos yang dimana beredar, siapapun yang nantinya mengganggu mereka lebih-lebih mempermainkannya para gadis dayak, maka dipastikan nantinya akan hilang alat vitalnya. Memang hal tersebut dimana terdengar mustahil, namun hal ini menjadi sebuah hal yang sudah banyak diceritakan tentang ini. Hal tersebut yang dimana cukup masuk akal juga cukup mengingat tentang Dayak dengan magisnya yang dimana sangat ampuh. Makanya, anda yang juga jangan sampai pernah macam-macam dengan gadis Dayak atau nantinya akan hilang masa depan anda.

 

  1. Sopanlah Ketika Mampir ke Makam Dayak

Akan jadi sebuah pengalaman unik tersendiri jika nantinya anda yang bisa mampir ke tempat-tempat sakralnya orang suku Dayak. Salah satunya dimana misalnya adalah sebuah area pemakamannya. Cara perkuburan orang Dayak sendiri cukup unik. Mereka yang dimana biasanya akan membuat semacam makam yang ada di atas tanah dan juga akan berbentuk seperti halnya sebuah bangunan balok yang dimana biasanya akan disangga. Sangat unik, namun juga sangat kental mistis.

Aturannya, anda yang dimana nantinya harus sopan ketika ada di tempat-tempat seperti ini. Pasalnya ya tadi, orang-orang Dayak sendiri yang dimana adalah sebuah suku yang amat mengeramatkan kuburan moyangnya. Jangan sampai anda nantinya yang keceplosan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas atau juga anda yang dimana tidak sengaja mengumpat. Mereka yang dimana nantinya mereka yang dimana akan bisa merasa terhina dan juga akan dapat membuat sebuah urusannya menjadi panjang.

 

  1. Jangan Bermain-Main Dengan Mandau

Mandau sendiri adalah sebuah senjata keramat bagi orang-orang Dayak. Meskipun bentuknya seperti sebuah parang biasa, ia yang dimana tidak bisa dipakai semaunya. Harus ada sebuah alasan khusus kenapa Mandau yang sampai keluar dari sarungnya. Pasalnya, menurut orang-orang Dayak, Mandau yang nantinya akan di keluarkan dari sebuah sarungnya yang dimana biasanya juga akan memakan tentang korban tersebut. Makanya, bagi para pendatang sendiri, jangan bermain-main dengan sebuah senjata yang dimana satu ini. Memang menjadi sebuah hal yang dimana sangat artistik dengan berbagai ukiran-ukirannya. Namun jangan sampai Mandau yang nantinya tercabut dari sarungnya. Orang-orang setempat yang dimana sangat menghormati senjata ini, makanya kita pun yang dimana harus melakukan banyak semual hal.

 

Dimana lima hal ini sendiri adalah sebagian kecil yang ada dari sebuah 

aturan yang dimana tentunya menjadi sebuah hal yang harus diketahui sebelum nantinya menjejakkan kaki di Kalimantan. Intinya, jika anda nantinya seorang pendatang sebagai pendatang yang dimana nantinya harus hormati kebudayaan dan juga dapat setempat. Patuhi semua hal, ini yang dimana dengan demikian anda yang nantinya juga akan selamat di manapun anda nantinya berada.

Itulah beberapa dari fakta menarik tentang Suku Dayak yang ada di Kalimantan. Suku Dayak adalah suku asli Indonesia yang dimana masih menjaga tradisi hingga saat ini. Dalam taktak rama tentunya menjadi sebuah hal yang dimana tentunya harus anda lakukan dimanapun nantinya and beradab tidak hanya di Kalimantan saja.