travelwithrj.com - Permainan Slot Ameba

Tag Archives

2 Articles

Mengenal Lebih Dalam Suku Kaili dari Sulawesi Tengah

by Edwin Baker

Suku atau orang Kaili oleh sebagian ahli ilmu bangsa-bangsa disebut juga sebagai orang Toraja Barat atau juga Toraja Palu, Toraja Parigi Kaili, Toraja Digi. Mereka berdiam di wilayah Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Yang memiliki jumlah populasinya sekitar 300.000 hingga 350.000 jiwa. Suku bangsa Kaili sebenarnya terdiri dari banyak sekali sub-suku bangsa. Selain itu ada juga diantara kelompok-kelompok mereka yang digolongkan oleh orang luar sebagai masyarakat ‘terasing’, karena jarang sekali berhubungan dengan dunia nya orang luar. Sementara itu Daftar Sbobet kalangan berbagai sub-suku bangsa tersebut terjadi lagi penggolongan menurut wilayah pemukiman dan hubungan kekerabatan. Berikut ini hal-hal yang akan membuat kalian menjadi mengenal suku Kaili. Berikut diantaranya.

Sejarah Suku Kaili

Awal mula adanya suku Kalili. Suku Kaili adalah suku bangsa di Indonesia yang secara turun-temurun tersebar mendiami sebagian besar dari Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu, di seluruh daerah di lembah antara Gunung Gawalise, Gunung Nokilalaki, Kulawi, dan Gunung Raranggonau. Mereka juga menghuni wilayah pantai timur Sulawesi Tengah, meliputi Kabupaten Parigi-Moutong, Kabupaten Tojo-Una Una dan Kabupaten Poso. Masyarakat suku Kaili mendiami kampung/desa di Teluk Tomini yaitu Tinombo,Moutong,Parigi, Sausu, Ampana, Tojo dan Una Una, sedang di Kabupaten Poso mereka mendiami daerah Mapane, Uekuli dan pesisir Pantai Poso.

Untuk menyatakan “orang Kaili” disebut dalam bahasa Kaili dengan menggunakan prefix “To” yaitu To Kaili. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan etimologi dari kata Kaili, salah satunya menyebutkan bahwa kata yang menjadi nama suku Kaili ini berasal dari nama pohon dan buah Kaili yang umumnya tumbuh di hutan-hutan di kawasan daerah ini, terutama di tepi Sungai Palu dan Teluk Palu. Pada zaman dulu, tepi pantai Teluk Palu letaknya menjorok l.k. 34 km dari letak pantai sekarang, yaitu di Kampung Bangga. Sebagai buktinya, di daerah Bobo sampai ke Bangga banyak ditemukan karang dan rerumputan pantai/laut. Bahkan di sana ada sebuah sumur yang airnya pasang pada saat air di laut sedang pasang demikian juga akan surut pada saat air laut surut.

Menurut cerita (tutura), dahulu kala, di tepi pantai dekat Kampung Bangga tumbuh sebatang pohon kaili yang tumbuh menjulang tinggi. Pohon ini menjadi arah atau panduan bagi pelaut atau nelayan yang memasuki Teluk Palu untuk menuju pelabuhan pada saat itu, Bangga. Suku Kaili atau etnik Kaili, merupakan salah satu etnik dengan yang memiliki rumpun etnik sendiri. untuk penyebutannya, suku Kaili disebut etnik kaili, sementara rumpun suku kaili lebih dari 30 rumpun suku, seperti, rumpun kaili rai, rumpun kaili ledo, rumpun kaili ija, rumpun kaili moma, rumpun kaili da’a, rumpun kaili unde, rumpun kaili inde, rumpun kaili tara, rumpun kaili bare’e, rumpun kaili doi, rumpun kaili torai.

Bahasa yang Digunakan Suku Kaili

Suku Kaili mengenal lebih dari dua puluh bahasa yang masih hidup dan dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Uniknya, di antara kampung yang hanya berjarak 2 km kita bisa menemukan bahasa yg berbeda satu dengan lainnya. Namun, suku Kaili memiliki lingua franca, yang dikenal sebagai bahasa Ledo. Kata “Ledo” ini berarti “tidak”. Bahasa Ledo ini dapat digunakan berkomunikasi dengan bahasa-bahasa Kaili lainnya. Bahasa Ledo yang asli (belum dipengaruhi bahasa para pendatang) masih ditemukan di sekitar Raranggonau dan Tompu. Sementara, bahasa Ledo yang dipakai di daerah kota Palu, Biromaru, dan sekitarnya sudah terasimilasi dan terkontaminasi dengan beberapa bahasa para pendatang terutama bahasa Mandar dan bahasa Melayu.

Bahasa-bahasa yang masih dipergunakan dalam percakapan sehari-hari, yaitu bahasa Tara (Tondo, vatu tela,Talise,Lasoani,Poboya,Kavatuna,Sou Loke dan Parigi), bahasa Rai (Tavaili sampai ke Tompe), bahasa Doi (Pantoloan dan Kayumalue); bahasa Unde (Ganti,Banawa,Loli,Dalaka, Limboro,Tovale dan Kabonga), bahasa Ado (Sibalaya, Sibovi,Pandere, bahasa Edo (Pakuli,Tuva), bahasa Ija (Bora, Vatunonju), bahasa Da’a (Porame, Balane, Ujemanje, Rondingo, Pobolobia, Kayumpia, Wayu, Dombu, Jono’oge), bahasa Moma (Kulavi), dan bahasa Bare’e (Tojo, Unauna dan Poso). Semua kata dasar bahasa tersebut berarti “tidak”.

Kehidupan yang Dijalankan Suku Kaili

Mata pencaharian utama masyarakat Kaili adalah bercocok tanam di sawah,di ladang dan menanam kelapa. Disamping itu masyarakat suku Kaili yang tinggal didataran tinggi mereka juga mengambil hasil bumi di hutan seperti rotan,damar dan kemiri, dan beternak. Sedang masyarakat suku Kaili yang di pesisir pantai disamping bertani dan berkebun, mereka juga hidup sebagai nelayan dan berdagang antar pulau ke kalimantan.

Makanan asli suku Kaili pada umumnya adalah nasi, karena sebagian besar tanah dataran di lembah Palu, Parigi sampai ke Poso merupakan daerah persawahan. Kadang pada musim paceklik masyarakat menanam jagung, sehingga sering juga mereka memakan nasi dari beras jagung (campuran beras dan jagung giling). Alat pertanian suku Kaili diantaranya : pajeko (bajak), salaga (sisir), pomanggi (cangkul), pandoli(linggis), Taono(parang); alat penangkap ikan diantaranya: panambe, meka, rompo, jala dan tagau.

Mata Pencaharian Suku Kaili

Mata pencaharian utama masyarakat Kaili adalah bercocok tanam di sawah dan ladang. Tanaman yang biasa mereka tanam adalah padi, jagung dan sayur-sayuran. Selain itu, pada masa sekarang mereka juga bertanam cengkeh, kopi dan kelapa. Dari hutan mereka mengumpulkan kayu hitam, damar, dan rotan yang cukup mahal harganya. Sebagian di antara mereka menangkap ikan di sekitar pantai dan muara sungai. Mereka juga terkenal sebagai penenun kain tradisional yang cukup terkenal, yaitu sarung Donggala.

Kekerabatan, Kekeluargaan Dan Kemasyarakatan Suku Kaili

Masyarakat ini menggunakan sistem hubungan kekerabatan bilateral. Hubungan perjodohan yang menjadi dambaan lama adalah endogami dan kuatnya pengaruh orang tua dalam penentuan jodoh. Walaupun bentuk keluarga batih cukup berfungsi, akan tetapi kelompok kekerabatan yang terutama adalah keluarga luas bilateral yang mereka sebut ntina. Keluarga luas ini diaktifkan terutama dalam setiap upacara daur hidup. Akan tetapi masyarakat ini juga mengenal sistem pewarisan menurut keturunan ibu dan sistem menetap setelah kawin yang uksorilokal sifatnya.

Struktur sosial masyarakat Kaili pada masa dulu terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan pertama adalah maradika, yaitu golongan bangsawan keturunan bekas raja-raja Kaili dari cikal bakal mereka yang dikenal sebagai to manuru, kedua adalah lapisan to guranungata, yaitu keturunan para pembesar bawahan raja-raja zaman dulu, ketiga lapisan to dea, yaitu orang kebanyakan, dan terakhir lapisan batua atau hamba sahaya. Rajanya mereka sebut magau. Dalam pemerintahannya setiap magau biasanya dibantu oleh beberapa orang tokoh, antara lain, madika malolo (raja muda), madika matua (mangkabumi yang mengurus kemakmuran), ponggawa (pemimpin adat perkauman), galara (penyelenggara hukum peradilan adat), tadulako (panglima atau hulubalang pertahanan dan keamanan), pabicara (semacam hakim), sekarang pelapisan sosial seperti ini semakin hilang.

Bahagianya Suku Abui, Nusa Tenggara Timur

by Edwin Baker

Adakah diantara kalian mengenali suku yang ada di Nusa Tenggara Timur ( NTT ), Indonesia ini ?.. mungkin kalian hanya tahu beberapa suku yang berada di Indonesia, namun tidak menyeluruh dari Sabang sampai Marauke kalian ketahui beranekaragamnya suku yang dimiliki oleh Indonesia. Daya tarik wisata Alor di NTT ini tida semereta merta hanya menjadi wisata baharinya saja, namun kalian harus tahu bahwasannya di kabupaten ini juga terkenal sekali dengan adanya Mamalia bernama dugong yang sering disebut dengan “ Mawar “ yang kenal sekali akan keunikan dari sejarah serta kebudayaan yang memang khusus terdapat di desa Takpala.

Desa Takpla ini sendiri, menjadi slah satu aset yang meamng benar dianggap sebagai salh satu cagar budaya yang dilindungi di dalam peraturan daerah Kabupaten Alor. Jadi tidak akan heran, jika nantinya kalian berkunjung ke NTT ini, akan diberikan kesan yang unik bagi suku Abui ini sendiri. Termasuk mengenai pakaian Tradisional yang disana ditenun dengan penggunaan alat Tradisional yang menggunakan tangan langsung. Pakian ini emamngs engaja di buat serta di gunakan untuk menyambut para wisatawan yang sering mendatangi kampungnya tersebut sembari melakukan tarian Lego-lego.

Menelisik Jauh Suku Abui, Nusa Tenggara Timur

mengenai busana, kalian harus tahu betul bahwasannya penari di sana menggunakan Kain Sarung serta adanya kain tenun yang memang khas sekali dari Alor. Sdangkan pada bagian kepala dari penari Pria ini sendiri menggunakan penutup kepala yang anntinya dibentuk dari kain dan selanjutnya rambut penari wanita di biarkan terurai. Aksesoris tambahan dari sang penari ialah terlengkapinya dengan penggunaan gelang kaki yang nantinya menghasilkan suara yang mengikuti dari langkah kaki tersebut ( kalau ini mimin langsung kebayang Film India guys. Dimana, di film India terdapat tarian khusus yang menggunakan gelang kaki ).

Kalian sebagai wistawan yang ingin mengenakan pakaian adat dari suku Abui ini, maka kalian bsia menyewa dengan harga sesuka hati ( waduh beanr-beanr ramah yah suku abui ini ). Tak ajrang para turis ada yang memberi harga sewa kurang lebih RP. 50.000,00- tak heran jika para wisatawan lokal maupun wisaytawan asing ini sangat senang dengan suku Abui dan ingin rasanya para wisatawan ini balik lagi ke desa Takpala yang ditinggali oleh suku Abui di karenakan keseharian yang dilakukan oleh suku Abui ini sangat amatlah menyenangkan dai suku-suku yang lainnya. jadi rasanya pas deh ketika kalian sedang ada masalah berlibur ke suku ini yang akan membuat kalian bahagia sejenak dan melupakan masalah yang sdang kalut melanda kalian.

Terkenal Sebagai Suku Paling Bahagia Di Indonesia

Abui = Barawahsing = Barue = Namatalaki. Ini semua beberapa panggilan dari suku Abui ini. namun, saran mimin kalian tetap emmanggilnya dengan sebutan suku Abui saja yah. Pasalnya arti dari Barawhing itu ialah Bau, Hitam serta berasap. Ajdi tidak sopan memanggil dengan kata-kata seperti itu ya guys ( walau dikeanl dengan nama yang tadi sudah mimin kasih tau ya ).

Mengapa bisa di bilang sebagai suku yang penuh akan kebahagiaan ? karena, kalian nantinya bisa menemukan Keramahtamahan dari suku Abui ini ketika suku tersebut menjamu kalian layaknya tamu terhormat saat datang ke pedalaman yang terdapat di Nusa Tenggara Timur ini. intinya disni kalian akan melihat begitu bahagia dan kompaknya suku Abui ini.

Alasan Yang Mendukung Itu Semua

Hal ini terjadi pastinya akibat ada sebab atau alasan menentu dong. Kalian, coba saja langsung datang ke suku Abui yang ada di NTT ini pastinya kalian akan disambut oleh Mama-mama dari suku Abui ini dengan tangan terbuka. Jdi, para turis saja juga memberikan sebuah pendapat yang masuk kedalam suatu fakta yakni Suku Abui ialah suku yang mudah sekali di dekati Di Indonesia ini.

Saking ramahnya, ketika kalian datang maka akan disambut dengan adanya Tarian-tarian serta nyanyian yang dibawakan langsung oleh para Mama suku Abui sana yang sangat murah hati serta dermawan.

Kaya Akan Budi Bahasanya

Yang anmanya sebuah suku, pastinya memiliki bahasa shari-hari dong. Dan bahasa suku Abui biasa di gunakan dalam berbahasa sehari-harinya. Seperti yang sudah kalian ketahui sebelumnya, suku Abui ini mendiami desa bernama Takpala. Dilansir dari Grimes & Max Jacob di dalam sebuah bukunya mengatakan bahwa suku Abui ini memiliki beberapa dialog / dialek / tutur bahasa seperti ; Atimelang, Kobola, serta Alakaman. Ini menjadi bahasa-bahasa yang memang sudah tercampuri dari adanya Bahasa Papua, Alor serta Makasai.

Namun, mengikuti perkembangan zaman serta adanya penekanan dari pemerintah meminta suku Abui ini menggunakan bahsa Indonesia sebagai salah satu bahasa percakapannya sehari-hari

Kepercayaan Yang Masih Di Anut Suku Abui

Kepercayaan atau agama akan dimiliki oelh setiap umat yang ada di dunia ini. dimaan Suku Abui ini memiliki kesamaan terhadap suku lainnya yang ada di Indonesia yang memang memiliki kepercayaan khusus terhadap agamanya tersebut. dimana, dulunya masyarakat suku Abui ini menganut paham Animisme. Hal ini terjadi memang sebelum adanya sebuah Misionaris Agama Protestan masuk ke dalam Suku Abui ini.

Berarti jika di lihat dari sedikit presentase yang beredar bahwasannya 50% dari suku Abui ini memeluk Agama Kristen Protestan. Dimana, data ini mimin dapatkan di jashua project dot com yang merupakan situs misionaris keagamaan.

Sekilas Mendetail Perjalanan Suku Abui Nusa Tenggara Timur

Mulai dari keberadaanya, lalu beralih kepada pengenalan lain dari Suku Abui ini, ada juga beberapa hal menarik seperti halnya penyambutan dengan menggunakan tarian-tarian khas dari Suku Abui oleh para mama-mama yang ada di suku tersebut, lalu juga ada mengenai keagamaan yang ada di suku Abui ini hingga sampai pada penyewaan pakaian hasil dari tenunan orang-orang yang ada di suku Abui ini sendiri. Saatnya kita lebih mendetail lagi secara seksama mengenai perjalanan kalian untuk bisa mencapai suku yang satu ini.

Suku Abui terletak di Desa Takpala, yang dimana desa tertua ini selalu dikunjungi para pelancong. Terlebih lagi bagi kalian yang emamng ingin mempelajari yang namanya Anthhtopologi dan juga nilai kebudayaan. Tidak ada salahnya jika kalian mendatangi langsung suku Abui ini dibandingkan kalian membaca review orang-orang yang sudah pernah datang ke desa Takpala tempat suku Abui tinggal.

Ingin tahu bukan jarak tempuh yang bisa kalian tempuh agar kiranya mencapai Desa Takpala ini.

DESA TAKPALA

Suku : Abui

Letak : kurang lebih 11 hingga 13 Kilometer sebelah timur dari Kalabahi.

Biaya Masuk Desa : kalian harus merogoh kocek sekitar Rp. 400.000,00-

Lokasi Tepatnya : Dusun lll Kemengtaha, Lembur Barat, Alor Utara, Alor, Wilayah Nusa Tenggara Timur daerah Indonesia.