travelwithrj.com - Sejarah Suku - Suku Di Indonesia

Edwin Baker

Mengetahui Asal Usul dari Suku Banjar

by Edwin Baker

Suku bangsa Banjar diduga bermula dari penduduk asal Sumatera atau juga daerah sekitarnya, hal ini dibangun di tanah air yang berada di kawasan ini sudah lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalunya masa yang lama sekali, akhirnya suku tersebut bercampur dengan penduduk asli, yang bisa dinamakan dengan suku Dayak, dan dengan adanya imigran-imigran yang mulai berdatangan terbentuklah setidaknya ada beberapa sub suku yaitu suku Banjar (pahuluan), Banjar (Batang Banyu) dan Banjar (Kuala). Orang dari Pahuluan pada asasnya adalah penduduk dari daerah lembah-lembah dari sungai (Cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegununungan Meratus, orang dari Batang Banyu yang mendalami lembah sungai Negara, sedangkan untuk orang Banjar (Kuala) yang mendalami bola tangkasnet sekitaran Banjarmasin dan juga Martapura.

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya. Di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa. Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut tampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Sejarah Suku Banjar

Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yang merupakan pembauran masyarakat DAS DAS Bahan, DAS Barito, DAS Martapura dan DAS Tabanio. Sungai Barito bagian hilir merupakan pusatnya suku Banjar. Kemunculan suku Banjar bukan hanya sebagai konsep etnis tetapi juga konsep politis, sosiologis, dan agamis. Menurut Hikayat Banjar, dahulu kala penduduk pribumi Kalimantan Selatan belum terikat dengan satu kekuatan politik dan masing-masing puak masih menyebut dirinya berdasarkan asal Daerah Aliran Sungai misalnya orang batang Alai, orang batang Amandit, orang batang Tabalong, orang batang Balangan, orang batang Labuan Amas, dan sebagainya. Sebuah entitas politik yang bernama Negara Dipa terbentuk yang mempersatukan puak-puak yang mendiami semua daerah aliran sungai tersebut. Negara Dipa kemudian digantikan oleh Negara Daha. Semua penduduk Kalsel saat itu merupakan warga Kerajaan Negara Daha, sampai ketika seorang Pangeran dari Negara Daha mendirikan sebuah kerajaan di muara Sungai Barito yaitu Kesultanan Banjar. Dari sanalah nama Banjar berasal, yaitu dari nama Kampung Banjar yang terletak di muara Sungai Kuin, di tepi kanan sungai Barito.

Mitologi suku Dayak Meratus (Suku Bukit) menyatakan bahwa Suku Banjar (terutama Banjar Pahuluan) dan Suku Bukit merupakan keturunan dari dua kakak beradik yaitu Si Ayuh/Dayung Ayuh/Dayuhan/Sandayuhan yang menurunkan suku Bukit dan Ambang Siwara/Ambang Basiwara yang menurunkan suku Banjar. Sesuai dengan statusnya sebagai nenek-moyang atau cikal-bakal orang Dayak Meratus, maka nama Sandayuhan sangat populer di kalangan orang Dayak Meratus. Banyak sekali tempat-tempat di seantero pegunungan Meratus yang sejarah keberadaannya diceritakan berasal-usul dari aksi heroik Sandayuhan. Salah satu di antaranya adalah tebing batu berkepala tujuh, yang konon adalah penjelmaan dari Samali’ing, setan berkepala tujuh yang berhasil dikalahkannya dalam suatu kontak fisik yang sangat menentukan. Suku bangsa Banjar terbentuk dari suku-suku Bukit, Maanyan, Lawangan dan Ngaju yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu yang berkembang sejak zaman Sriwijaya dan kebudayaan Jawa pada zaman Majapahit, dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar. Suku bangsa Banjar terbagi menjadi tiga subsuku, yaitu.

  • (Banjar) Pahuluan : Banjar Pahuluan pada asasnya adalah penduduk dari daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Nagara) yang berhulu di pegunungan Meratus.
  • (Banjar) Batang Bayu : Batang Banyu mendalami lembah sungai Negara.
  • Banjar (Kuala) : Sedangkan untuk orang Banjar Kuala mendalami sekitaran Banjarmasin dan juga Martapura. Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang juga terbagi menjadi dua dialek besar yaitu Banjar Hulu dan Banjar Kuala. Nama banjar ini diperoleh karena mereka ini pada dahulu (sebelum kesultanan Banjar dihapuskan pada tahun 1860) adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau kalau disingkat menjadi Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman (terakhir di Martapura), nama tersebut tampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Kebudayaan 

Kehidupan orang Banjar terutama kelompok Banjar Kuala dan Batang Banyu lekat dengan budaya sungai. Sebagai sarana transportasi, orang Banjar mengembangkan beragam jukung (perahu) sesuai dengan fungsinya yakni Jukung Pahumaan, Jukung Paiwakan, Jukung Peramuan, Jukung Palambakan, Jukung Pambarasan, Jukung Gumbili, Jukung Pamasiran, Jukung Beca Banyu, Jukung Getek, Jukung Palanjaan, Jukung Rombong, Jukung/Perahu Tambangan, Jukung Undaan, Jukung Tiung dan lain-lain. Kondisi geografis Kalimantan Selatan yang banyak memiliki sungai dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh orang Banjar, sehingga salah satu keahlian orang Banjar adalah mengolah lahan pasang surut menjadi kawasan budi daya pertanian dan permukiman. Sistem irigasi khas orang Banjar yang dikembangkan masyarakat Banjar mengenal tiga macam kanal. Pertama, Anjir (ada juga yang menyebutnya Antasan) yakni semacam saluran primer yang menghubungkan antara dua sungai. Anjir berfungsi untuk kepentingan umum dengan titik berat sebagai sistem irigasi pertanian dan sarana transportasi. Kedua, Handil (ada juga yang menyebut Tatah) yakni semacam saluran yang muaranya di sungai atau di Anjir. Handil dibuat untuk menyalurkan air ke lahan pertanian daerah daratan. Handil ukurannya lebih kecil dari Anjir dan merupakan milik kelompok atau bubuhan tertentu. Ketiga, Saka merupakan saluran tersier untuk menyalurkan air yang biasanya diambil dari Handil. Saluran ini berukuran lebih kecil dari Handil dan merupakan milik keluarga atau pribadi.

  • Rumah Banjar

Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris. Rumah tradisional Banjar adalah tipe-tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari sekian banyak jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan Tinggi merupakan jenis rumah Banjar yang paling dikenal dan menjadi identitas rumah adat suku Banjar.

  • Tradisi lisan 

Tradisi lisan oleh Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu, Arab, dan Cina. Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang sekitar abad ke-18 yang di antaranya adalah Madihin dan Lamut. Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah yang artinya pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut berasal dari negeri Cina dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa. Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar.

  • Teater

Seni teater tradisional yang berkembang di pulau Kalimantan adalah Mamanda. Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.

Budaya dan Ritual yang Dilakukan Suku Sunda

by Edwin Baker

Sebagai orang yang tinggal di Jawa Barat adalah dari Suku Sunda. Selain itu juga, ada campuran dari Sunda dengan Jawa di Pantai Utara Cirebon serta di pesisir Indramayu. Mata pencaharian dari orang Jawa Barat yang paling utama adalah petani. bertani nya orang sana pun juga bermacam macam tidak hanya menanam beras saja. Ada yang bertani sayur-sayuran ada yang padi, ada yang bertani buah-buahan dan juga menanam bunga. Selain itu juga ada banyak yang terdapat perkebunan teh, cengkih, tebu, dan kina. Kebudayaan dari masyarakat Jawa Barat juga memiliki beragam agama yaitu Islam, Hindu, Budha, Jawa dan juga kebudayaan Barat. Hal ini dapat kita lihat dari upacara yang juga disertai dengan membakar kemenyan hal ini yang dilakukan oleh agama Hindu, melakukan doa-doa menurut agama Islam, menggunakan pakaian tanpa baju dan juga memiliki bentuk wayang orang yang sama dengan Jawa Tengah, memberikan kado dan juga adanya prasmanan model Belanda.

Banyak yang harus kita pelajari dari kebudayaan yang ada di Jawa Barat. Jika kita merasa bahwa Budaya Jawa Barat merupakan bagian dari negara Indonesia, tidak ada salahnya mengenal Kebudayaan Jawa Barat. Provinsi jawa barat memiliki filosofi yang patut diacungi jempol, diantaranya adalah Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh. Ketiga filosofi tersebut merupakan filsafat hidup yang dipegang penduduk asli Jawa barat. Dan kebudayaan Jawa Barat lebih kita kenal sebagai Sunda yang beribu kota di Bandung. Maksud dan arti filosofi tersebut adalah menimbulkan sifat dan sikap untuk untuk saling mengasuh , saling mengasihi dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama. Masyarakat Jawa Barat memiliki keluhuran akal budi yang dilandasi oleh filsafat tersebut. Agak berbeda dengan kebudayaan masyarakat lain di Nusantara, Masyarakat jawa barat yang berbahasa sunda sangat dipengaruhi budaya yang berakar pada nilai-nilai yang berasal dari tradisi masyarakat setempat. Dan dalam interaksi sosial, masyarakat di di jawa barat menganut falsafah seperti yang sudah disebutkan tadi. Rasa persaudaraan menciptakan keakraban masyarakat Sunda dengan lingkungan sehingga tampak dari bagaimana masyarakat Jawa Barat, khususnya yang tinggal di pedesaan, mereka memelihara kelestarian lingkungan dengan cara penuh kerja sama dengan warga setempat. Sehingga di provinsi Jawa Barat ini banyak muncul masyarakat yang atas inisiatifnya sendiri dapat memelihara lingkungan alam mereka.

Dalam kehidupan beragama, masyarakat di jawa barat relatif dikenal sebagai masyarakat yang sangat agamis dan religius, dan memegang teguh nilai-nilai agama yang dianut diyakini yakni agama Islam. Sebagian besar penduduk jawa barat memeluk agama islam, disusul Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Budha, dan lainnya. Sebagian besar budaya Jawa Barat didominasi suku Sunda dan adat tradisionalnya yang penuh khazanah Bumi Pasundan menjadi cermin kebudayaan di jawa barat. Untuk melestarikan budaya Jawa Barat, pemerintah daerah menetapkan 12 desa budaya, yakni desa khas yang ditata untuk kepentingan melestarikan budaya dalam bentuk adat atau rumah adat.

Macam-macam Seni dan Budaya dari Masyarakat Sunda

Pakaian Adat Khas Jawa Barat

Suku sunda mempunyai pakaian adat/tradisional yang sangat terkenal, yaitu kebaya. Kebaya merupakan pakaian khas Jawa Barat yang sangat terkenal, sehingga kini kebaya bukan hanya menjadi pakaian khas sunda saja tetapi sudah menjadi pakaian adat nasional. Itu merupakan suatu bukti bahwa kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional.

Kesenian Khas Jawa Barat

  • Wayang Golek

Wayang Golek merupakan kesenian tradisional dari Jawa Barat yaitu kesenian yang menapilkan dan membawakan alur sebuah cerita yang bersejarah. Wayang Golek ini menampilkan golek yaitu semacam boneka yang terbuat dari kayu yang memerankan tokoh tertentu dalam cerita pewayangan serta dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang disebut dengan degung.

  • Jaipong

Jaipong merupakan tarian tradisional dari Jawa Barat, yang biasanya menampilkan penari dengan menggunakan pakaian khas Jawa Barat yang disebut kebaya, serta diiringi musik tradisional Jawa Barat yang disebut Musik Jaipong. Jaipong ini biasanya dimainkan oleh satu orang atau sekelompok penari yang menarikan gerakan – gerakan khas tari jaipong.

  • Degung

Degung merupakan sebuah kesenian sunda yang biasanya dimainkan pada acara hajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring/pengantar. Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Barat yaitu, kendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, rebab, dan sebagainya. Degung merupakan salah-satu kesenian yang paling populer di Jawa Barat, karena iringan musik degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional, selain itu musik degung juga digunakan sebagai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya.

  • Rampak Gendang

Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Rampak Gendang ini adalah permainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan menggunakan irama tertentu serta menggunakan cara-cara tertentu untuk melakukannya, pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah mempunyai keahlian khusus dalam menabuh gendang. Biasanya rampak gendang ini diadakan pada acara pesta atau pada acara ritual.

  • Calung

Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Calung, calung ini adalah kesenian yang dibawakan dengan cara memukul/mengetuk bambu yang telah dipotong dan dibentuk sedemikian rupa dengan pemukul/kentongan kecil sehingga menghasilkan nada-nada yang khas. Biasanya calung ini ditampilkan dengan dibawakan oleh 5 orang atau lebih. Calung ini biasanya digunakan sebagai pengiring nyanyian sunda atau pengiring dalam lawakan.

  • Pencak Silat

Pencak silat merupakan kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yang kini sudah menjadi kesenian Nasional. Pada awalnya pencak Silat ini merupakan tarian yang menggunakan gerakan tertentu yang gerakannya itu mirip dengan gerakan bela diri. Pada umumnya pencak silat ini dibawakan oleh dua orang atau lebih, dengan memakai pakaian yang serba hitam, menggunakan ikat pinggang dari bahan kain yang diikatkan di pinggang, serta memakai ikat kepala dari bahan kain yang orang sunda menyebutnya Iket. Pada umumnya kesenian pencak silat ini ditampilkan dengan diiringi oleh musik yang disebut kendang penca, yaitu musik pengiring yang alat musiknya menggunakan gendang dan terompet.

  • Sisingaan

Sisingaan merupakan kesenian yang berasal dari daerah Subang Jawa barat. Kesenian ini ditampilkan dengan cara menggotong patung yang berbentuk seperti singa yang ditunggangi oleh anak kecil dan digotong oleh empat orang serta diiringi oleh tabuhan gendang dan terompet. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada acara peringatan hari-hari bersejarah.

  • Kuda Lumping

Kuda Lumping merupakan kesenian yang beda dari yang lain, karena dimainkan dengan cara mengundang roh halus sehingga orang yang akan memainkannya seperti kesurupan. Kesenian ini dimainkan dengan cara orang yang sudah kesurupan itu menunggangi kayu yang dibentuk seperti kuda serta diiringi dengan tabuhan gendang dan terompet. Keanehan kesenian ini adalah orang yang memerankannya akan mampu memakan kaca serta rumput. Selain itu orang yang memerankannya akan dicambuk seperti halnya mencambuk kuda. Biasanya kesenian ini dipimpin oleh seorang pawang. Kesenian ini merupakan kesenian yang dalam memainkannya membutuhkan keahlian yang sangat khusus, karena merupakan kesenian yang cukup berbahaya.

Mengenal Suku Baduy yang Ada di Pedalaman Banten

by Edwin Baker

Yang kalian rasakan adalah dengan berada di tengah kepungan hutan beton yang diisi dengan berbagai jenis mall dan dengan beragam diskon serta ada banyaknya apartemen dengan harga selangit, terkadang orang banten bagian kotanya masih melihat warga Suku Baduy yang akan melintas di pinggir jalan, tidak menggunakan alas kaki, hanya mengenakan baju kain yang sederhana, berikut dengan ikat yang ada di kepalanya. Kalau kalian bertanya kepada mereka, mereka akan menjawab ingin menjual madu atau sekedar ingin mengunjungi saudara yang ada di kota. Orang Baduy sendiri menyebut diri mereka dengan kata Urang Kanekes atau Orang Kanekes. Kata ‘baduy’ itu merupakan sebutan dari peneliti yang berasal dari Belanda, hal ini mengacu pada kesamaan mereka dengan sekelompok Arab Badawi yang sangat gemar untuk berpindah-pindah. Suku Baduy ini tinggal tepat pada kaki pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Pemukiman mereka memiliki jarak sekitar 40 km dari Rangkasbitung, pusat kota yang ada di Lebak, Banten.

Warga Baduy Dangka ini sudah tinggal di luar tanah adat mereka. Mereka tidak lagi terikat oleh aturan yang ada atau pada slot mpo terbaik kepercayaan animisme Sunda Wiwitan yang dijunjung tinggi oleh Suku Baduy. Orang suku baduy  juga sudah mengenyam pendidikan dan sudah paham dengan teknologi yang sekarang ini. Lalu warga suku Baduy Luar itu merupakan orang yang tinggal di dalam tanah adat mereka. Mereka ini masih menjunjung tinggi kepercayaan Sunda Wiwitan.

Di tengah kehidupan yang dijalani masih tradisional ini, mereka sudah mulai mempelajari pendidikan dan sudah paham dengan teknologi sekarang ini. Ciri khas dari mereka ini akan terlihat dari pakaian yang mereka gunakan yaitu serba hitam dan menggunakan ikat kepala berwarna biru.

Yang terakhir ini merupakan warga dari suku Baduy Dalam atau Baduy Jero. Mereka ini tinggal di pelosok tanah adat. Pakaian yang mereka kenakan itu warnanya serba putih.

Kepercayaan yang mereka anut itu adalah Sunda Wiwitan dan hal ini masih sangat kental di suku Baduy Dalam. Warga yang berada di sini juga dianggap memiliki sebuah kedekatan dengan leluhur. Mereka dari suku baduy dalam tidak mengenyam pendidikan, bahkan tidak menggunakan teknologi, bahkan suku baduy dalam ini tidak beralas kaki, karena mereka hidup apa adanya agar terasa sebagai bagaimana cara mereka untuk tetap dekat dengan Yang Maha Esa.

Eksistensi suku Baduy Dalam yang dilindungi oleh Baduy Dangka dan juga Baduy Luar. Kedua ini memiliki lapisan yang bertugas untuk menyaring berita informasi yang dari dunia luar, sehingga adat istiadat pada Suku Baduy akan tetap terjaga. Jika warga Baduy Dangka ini memiliki banyak yang membuka usaha jasa sebuah pemandu wisata, pada tempat makan, dan penjual oleh-oleh lainnya, maka berbeda dengan warga Baduy Luar dan juga pasti berbeda dengan Baduy Dalam yang masih banyak yang beternak dan juga yang bertani.

Persawahan yang ada di Desa Kanekes ini masih sangat terjaga keasriannya, meskipun sekarang ini sudah semakin banyak pabrik yang dibangun di Rangkasbitung. Hasil dari pertanian mereka biasanya akan dijual di Pasar Kroya, dan Pasar Cibengkung, dan juga Ciboleger.

Pemerintah Suku Baduy

Pada Suku Baduy ini mengenal dua sistem pemerintahan yang ada di sana, yaitu dengan sistem nasional, yang akan mengikuti aturan yang ada di negara Indonesia, dan juga pada sistem adat yang diharuskan mengikuti adat istiadat yang dipercaya oleh masyarakat dari suku baduy.

Kedua sistem tersebut akan digabung atau akan diakulturasikan sedemikian rupa sehingga dalam hal ini tidak terjadi benturan. Secara nasional, warga akan dipimpin oleh kepala desa suku baduy yang disebut sebagai jaro pamarentah pada suku, yang pasti ada di bawah camat, sedangkan untuk secara adatnya itu akan tunduk pada pimpinan adat yang paling tertinggi, yaitu pu’un.

Jabatan pada pu’un ini akan berlangsung secara turun-temurun, namun tidak akan secara otomatis turun dari bapak ke anaknya, melainkan dapat juga dari kerabat lainnya yang masih satu darah dengan pu’un.

Jangka waktu jabatan pada pu’un tidak akan ditentukan, hanya berdasarkan dari pada kemampuan seseorang yang saat itu memegang jabatan tersebut. Sebagai ada tanda kepatuhan yang ada kepada penguasa, Suku Baduy akan secara rutin melaksanakan sebuah tradisi Seba ke Kesultanan Banten.

Hingga sampai sekarang ini, upacara seba tersebut akan terus dilangsungkan setiap setahun sekali, berupa memberikan hantaran hasil bumi misalnya itu seperti padi, palawija, dan juga buah-buahan kepada Gubernur Banten yang sebelumnya itu ke Gubernur Jawa Barat, melalui Bupati Kabupaten Lebak.

Kepercayaan Suku Baduy

Menurut dari beberapa orang yang mengetahui bahwa kepercayaan yang mereka anut itu, Suku Baduy juga mengakui bahwa keturunan dari Batara Cikal, itu salah satu dari ketujuh dewa yang diutus untuk ke bumi.

Pada asal usul tersebut sering pula dikaitkan dan juga dihubungkan dengan Nabi Adam AS sebagai nenek moyang yang pertama untuk suku mereka.

Adam dan keturunannya lah, yang termasuk Suku Baduy, mempunyai sebuah tugas untuk bertapa demi menjaga harmoni yang ada di dunia.

Oleh sebab itu Suku Baduy ini sangat menjaga kelestarian pada lingkungannya agar memiliki sebuah upaya menjaga keseimbangan pada alam semesta. Tak ada eksploitasi air dan tanah yang sangat berlebihan bagi mereka. Kata cukup adalah batasan yang mereka jalani.

Objek kepercayaan itu terpenting bagi Suku Baduy adalah dengan Arca Domas, yang memiliki lokasinya dirahasiakan dan juga dianggap yang paling sakral.

Suku Baduy akan mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan sebuah pemujaan pada setahun sekali pada bulan yang kelima, yang dimulai pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli.

Hanya pu’un lah (ketua adat yang tertinggi) dan ada beberapa anggota dari masyarakat yang sudah terpilih saja yang dapat mengikuti rombongan pada pemujaan tersebut.

Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat sebuah batu lumpang yang untuk menyimpan air hujan. Dalam hal ini apabila pada saat pemujaan tersebut ditemukan batu lumpang itu ada dalam keadaan penuh dengan air yang jernih, itu merupakan sebuah pertanda bahwa hujan yang terjadi pada tahun tersebut akan sangat banyak turun, dan panen yang dilakukan oleh orang suku baduy akan berhasil dengan baik.

Jika sebaliknya, apabila batu lumpang itu kering atau memiliki berair yang keruh, maka ini adalah sebuah pertanda bahwa akan ada kegagalan panen.

Aturan Berkunjung ke Desa Kanekes Suku Baduy

Aturan untuk kalian yang ingin berkunjung ke suku baduy adalah yang paling utama kalian harus menjaga kelestarian alam yang ada di sekitar suku baduy, dengan cara tidak membuang sampah dengan sembarang, menggunakan barang-barang dalam kemasan yang hanya digunakan sekali pakai saja, dan kalian harus menggunakan pasta gigi dan sabun pada saat kalian di sungai. Aturan yang lain itu tergantung dari wilayah yang akan didatangi oleh kalian, Baduy Luar atau Baduy Dalam.

Karena Suku Baduy memiliki sebuah konsep untuk menjauh dari hal yang berbau-bau duniawi, sebaiknya kalian datang dengan pakaian yang tertutup serta kalian harus melupakan gadget yang dibawa, seperti telepon genggam yang kalian miliki atau bisa juga kamera. Warga Baduy Dalam ini juga dikenal tidak suka dipotret.

Sejarahnya suku Tidung yang Ada di Indonesia

by Edwin Baker

Suku Tidung  dari Kalimantan Utara pada  belakangan ini menjadi sebuah perbincangan yang sangat hangat setelah salah satu pakaian adatnya dari suku tidung ini tampil dalam uang yang baru pada pecahan Rp 75.000 mulai menuai polemik karena sangat mirip dengan bangsa China. Suku Tidung ini merupakan sub-etnis Dayak yang memiliki mata yang sipit, namun suku tidung ini bukan dari China. Yang perlu kalian ketahui tidak selalu yang bermata sipit adalah China, ada banyak suku bangsa di Indonesia yang nyatanya itu memiliki mata yang sipit.

Suku Tidung ini adalah sub-etnis dari Suku Dayak Murut yang ada di Indonesia, salah satu dari tujuh suku yang besar yang mendiami di wilayah utara Kalimantan bagian timur. Ada sekiranya enam suku lainnya yaitu, ada suku Ngaju, suku Apo Kayan, suku Iban, suku Klemantan, suku Punan, serta ada suku Ot Danum. Suku Tidung ini sendiri pun masih terbagi lagi dalam sepuluh suku lainnya. Suku tidung ini bermukim di kawasan pesisir yang ada di utara dan menganut agama Islam.

Kata tidung itu dalam Suku Tidung berasal dari kata tiding atau bisa juga tideng yang yang memiliki arti bukit atau bisa juga dengan gunung. Hal ini yang menggambarkan bahwa kelompok pada suku tidung ini berasal dari daerah pegunungan yang ada di pulau Kalimantan di sebelah timur laut. Suku Tidung ini memiliki pergerakan yang sangat dinamis, berpindah-pindah dari pedalaman yang ada di Kalimantan di Kabupaten Tanah Tidung hingga berpindah lagi ke Malaysia, Malinau, mendekati pantai di Nunukan, Tarakan, dan Berau.

Sifat yang dimiliki oleh suku tidung adalah dinamis dan dari Suku Tidung inilah yang membuat mereka mendapatkan banyak sekali pengaruh dari luar disana, yang paling terutama dari pelaut dan juga pedagang muslim. Sehingga kini sudah hampir sebagian besar dari masyarakat Suku Tidung ini yang menganut agama Islam. Hal ini sudah jelas sangat kontras dan sangat berbeda dengan Suku Dayak lainnya yang ada di Kalimantan Utara yang sebagian besar dari suku tersebut adalah menganut agama Kristen.

Bagian dari Suku Dayak

Sebenarnya jika kalian ketahui bahwa mata sipit yang dimiliki dari masyarakat Suku Tidung itu sudah diturunkan oleh leluhur mereka yang saat itu berasal dari Suku Dayak. Suku Tidung ini sudah lama sekali meninggalkan tanah kelahirannya yang berada di suku Dayak juga sejak 100 tahun yang lalu mereka meninggal kan suku Dayak melalui Sungai Sesayap atau bisa dikatakan dengan Sungai Malinau setelah itu suku tidung pergi ke daerah hilir, kemudian setelah mendiami daerah yang ada di pesisir yang ada di timur Kalimantan dan kemudian mulai ke pulau-pulau kecil lainnya untuk mereka jajaki. Mereka ini memulai hidupnya sebagai nelayan dan juga mereka mulai menjalin sebuah hubungan dengan para pelaut yang ada saat itu dan juga dengan para pedagang muslim yang ada saat itu.

Oleh karena itu, ada banyak sekali cerita dari tutur yang terputus dan tidak selesai hingga saat ini. Salah satunya itu adalah pada Suku Tidung ini tidak memiliki sebuah mitos atau bisa dikatakan tidak memiliki mits seperti kebanyakan suku-suku yang ada di Indonesia atau bahkan suku tidung ini tidak memiliki legenda yang berkaitan langsung dengan asal-usulnya nenek moyangnya dari suku Dayak sebagaimana yang ada pada masyarakat Dayak atau bahkan setiap suku memilikinya hanya suku tidunglah yang tidak memiliki ceria asal usul dari nenek moyang nya. Meskipun demikian, masih ada sisa dari tradisi pra-Islam yang masih tersisa yang ada pada masyarakat Tidung hal ini lah yang menjadi bukti antara hubungan kekerabatan dengan suku Dayak.

Meskipun suku tidung telah menganut agama Islam, masyarakat yang ada di suku tidung ini sangat percaya pada roh leluhur sama seperti halnya Suku Dayak yang juga mempercayai roh leluhur. Sebagian dari suku tidung ini masih melakukan ritual yang berkaitan dengan tradisi nenek moyangnya, yang terutama dalam memaknai sebuah tempat-tempat keramat. Pada kepercayaan terhadap roh leluhur akan menjadi konsep megalitik yang masih dikenal oleh Suku Tidung hingga saat ini.

Ada beberapa ritual kuno yang masih sering kali dilakukan oleh Suku Tidung yaitu untuk pemanggilan arwah di Batu Lumampu, membayarkan nazar di Batu Lumampu dan juga pada Batu Kelangkang, serta memiliki prosesi pengobatan Badewa oleh tokoh-tokoh adat yang ada. Tradisi yang masih berlangsung hingga saat ini akan menunjukkan bahwa Suku Tidung pada zaman dahulu memiliki kepercayaan yang sama juga dengan Suku Dayak Agabag, Tahol, dan Tenggalan di wilayah Kalimantan.

Pernah Menjadi Sebuah Kesultanan

Sejarah pada Suku Tidung Tarakan ini berkaitan sangat erat dengan Kesultanan yang ada pada Bulungan besar yang saat itu pernah berdiri di daerah utaranya Kalimantan. Pada kesultanan uang ini lahir dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat dari Suku Tidung. Secara formal, agama Islam hadir pada saat Kesultanan Bulungan itu mulai berdiri. Hal ini lah yang ditandai dengan datangnya seorang ulama Arab yang saat itu dari Demak, bernama Said Abdurrahman Bil Faqih yang melakukan pembelajaran islamisasi pada masyarakat Tidung ini.

Pada hal ini dapat dilihat dari ada makam dari penyebar agama, yaitu Said Ahmad Maghribi yang berada di Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Makam itu letaknya di lereng tebing, yang ada di sebelah barat pada aliran Sungai Pimping yang bermuara di Teluk Sekatak. Berdasarkan angka tahun yang tertulis di dalam nisan tersebut, diketahui bahwa ulama ini sudah meninggal sejak tahun 1832 M.

Setelah Indonesia mulai merdeka, Kesultanan yang ada di Bulungan mendapatkan status sebagai daerah yang swapraja atau daerah yang istimewa dalam level yang setara dengan kabupaten otonom. Pada keluarga kesultanan sangat berperan aktif di pemerintahan. Hingga pada akhir di tahun 1950-an hingga tahun 1964, Bulungan telah berubah menjadi kabupaten. Namun kursi pada bupati masih diberikan kepada trah kesultanan.

Hak-hak yang istimewa pada Kesultanan Bulungan terhadap wilayah warisan dari leluhur telah hilang sepenuhnya pada tahun 1964-1965, saat itu dicabut oleh Pemerintah Pusat melalui sebuah proses yang tidak bisa dianggap dengan cara damai. Konon katanya hal ini melibatkan propaganda pada pihak komunis yang menunggangi isu dari landreform yang saat itu diamanatkan UU Agraria 1960. Kesultanan Bulungan saat itu dituduh tidak mendukung politik yang ada konfrontasi Dwikora terhadap Malaysia, bahkan hal ini memainkan mata untuk bisnis yang dilakukannya.

Kedatangan Islam

Menurut seseorang yang bernama Nugroho, suku tidung ini selain sebagai sebuah suku, nama pada Tidung juga menunjukkan kepada sebuah kerajaan yang sangat kental dengan nuansa keislaman yang ada. Ada makam Maharaja Dina I berada di Desa Sesayap, Kecacatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tanah Tidung dan makam tokoh yang sangat dihormati seperti Datuk Bendahara dan Datuk Mandul yang ada di Kecacatan Tanah Liar, Pulau Mandul, Kabupaten Tanah Tidung, hal ini menandakan bahwa kawasan ini sebagai daerah tempat perpindahan awal untuk orang Tidung. Mereka kemudian berdomisili di sana dan membentuk suatu institusi tradisional.

Pada Kerajaan ini sudah terbentuk dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat berlatar belakang dari Suku Tidung, hal ini yang tulis oleh Nugroho. Dan ada kemungkinan bahwa mereka ini terpisahkan dari keluarga mereka yaitu suku induknya, seperti Suku Dayak Murut.”

Institusi yang sudah terbentuk ini mempercayai bahwa ada berupa kerajaan kecil. Secara tradisi, pada komunitas ini sudah berdiri sendiri yang kemudian dikuasai oleh Kesultanan yang ada di Bulungan yang mendapat sebuah pengakuan dari pemerintahan kolonial Belanda.

Seram Abis ! Suku Pemburu Kepala ada di Indonesia

by Edwin Baker

Nyatanya beberapa tradisi dan juga budaya dari sebuah daerah, memang memiliki tradisi tersebut yang mana berkaitan langsung dengan adanya hal-hal yang berbau mistis dan sudah pasti sangat menyeramkan. Alias dalam hal ini tidak biasa dan konon katanya mampu membuat bulu kuduk kalian jadi berdiri jika hanya membayangkannya saja. Seperti halnya tradisi dari suku Pemburu Kepala yang berada di beberapa daerah yang ada di dunia dan salah satunya berasal dari Negara Indonesia. Dan pada beberapa suku ini berhasil mempraktekkan atau menggunakannya sebagai Ritual Violence, lalu bisa menunjukkan maskulinitas sampai pada akhirnya Kanibalisme lah yang muncul. 

Kalian kebayang enggak sih ? kalau seandainya Suku Pemburu Kepala ini beredar keberadaannya sampai menyentuh garis Kota ? sudah pasti bakalan membuat kalian semua ketar ketir. Pasalnya, sewaktu-waktu nyawa kalian bisa terancam begitu saja dari kehadiran Suku yang satu ini ! nah kira-kira, selain adanya Suku Pemburu Kepala yang berada di Indonesia. Dimanakah mereka berada ? apakah masih di Indonesia juga atau justru adanya di luar Negeri ? jika iya, Alhamdulillah banget deh wkwkwkwk…. 

Suku Pemburu Kepala : Suku Dayak Laut, Borneo 

Disini Suku Dayak Laut atau yang memang biasa dikenal sebagai iban yang sudah menjadi salah satu suku Head Hunter Terngeri yang pernah ada di dunia ! suku ini sangat suka berdiam diri di wilayah pesisir pantai, namun bukan karena judi sabung ayam berdiam diri atau tinggal di pesisir pantai membuat suku yang satu ini jadi terkenal sampai ke Mancanegara. 

Hal yang mampu membuat Suku Dayak Laut ini menjadi sangat terkenal adalah dari ritual perburuan kepala yang telah dilakukan oleh mereka terutama sekali pada saat bertarung hanya untuk memperluas wilayah dari kekuasaan. Umumnya peperangan yang dilakukan oleh Suku Dayak Laut ini sudah berlangsung sangat amat sengit. Selama berperang, Suku Iban juga biasanya sudah melakukan praktik pemenggalan kepala dari lawannya dalam menunjukkan Superioritas mereka di depan dari lawan-lawannya. 

Dan dalam bahasa Lokal, ritual ini sudah dinamakan dengan Ngayau. Dan ritual ini sendiri bahkan pernah sangat terkenal di Era perang Dunia ll dimana pada saat itu, Suku Iban bisa membentuk Aliansi yang berisikan atas ribuan Ksatria Pemburu Kepala Manusia ! dan konon katanya juga, mereka ini mampu untuk bisa menghabisi 1.500 tentara jepang yang datang langsung ke wilayah Kalimantan ! ( Ini bagus nih, yang diIncar masa penjajahan ). Seiring dari perkembangan Zaman, praktik Ngayau sendiri mulai saja ditinggalkan dan semoga saja tidak pernah dilakukan lagi nantinya. 

Suku Pemburu Kepala : Suku Igorot, Filipina 

Suku ini sendiri memburu kepala yang mana didasari oleh berbagai hal. Dimulai dari perebutan kekuasaan, persembahan untuk musim panen, lalu sebagai tumbal bagi kesehatan hingga adanya seserahan saat diadakannya Upacara Pernikahan. Walau begitu, tidak sembarang orang boleh dalam melakukan ritual dari perburuan kepala ini. Hanya saja para prajurit yang sudah ikut berperang atau memenangkan duel dengan lawannya yang bisa diizinkan melakukan ritual tersebut. 

Prajurit ini umumnya ditandai langsung dari adanya tato yang bertuliskan “ c h k l a g “ yang menjadi simbol seorang Head Hunter. Disaat memenggal bagian kepala dari buruannya tersebut, suku ini biasanya memang menggunakan bantuan dari pemakaian senjata tradisional yang mereka miliki dengan bentuk seperti Kapak Besar.  Suku Igorot percaya, dari semakin banyaknya penggalan kepala tersebut maka, akan semakin kuat juga magis yang dimiliki oleh mereka. 

Kepercayaan ini yang membuat Suku Igorot dikenal sebagai suku yang sangat senang sekali dalam melakukan perang. Selain daripada itu, adanya tensi atas perselisihan antar suku sudah menjadi semakin meninggi. Entah dipicu dari hal apa yang mengacu pada ketersinggungan atau ajang balas dendam dikarenakan ada anggota sukunya yang dipenggal oleh kelompok lainnya. Bukti dari hadirnya tensi perselisihan ini adalah adanya peperangan Suku Igorot dengan tuangan tulisan buku “ The Bontoc Igorot “- By Albert Ernest Jenks ( 1950 ). Dalam buku ini, dijelaskan juga bahwa peperangan yang sudah dilakukan oleh Suku Igorot bisa berlangsung dalam kurun waktu beberapa jam hingga dalam kurun waktu 1 hari penuh. 

Perang baru bisa berhenti ketika kedua belah pihak yang bersinggungan tersebut sudah sama-sama puas atas jumlah kepala yang bisa mereka penggal. Total dari jumlah kepala yang bisa dipenggal sangat amat bervariasi, dimulai dari satu hingga lusinan yang bergantung dari seberapa dalam dendam antara kedua suku. 

Seiring dari berjalannya waktu serta masuknya pengaruh dari ajaran kristen ke Filipina, dan praktik perburuan kepala ini sudah mulai ditinggalkan. Lalu Suku Igorot pun mulai mencoba dalam mengubah pola pikir mereka yang pada akhirnya secara bertahap meninggalkan praktik yang sangat mengerikan ini ! 

Suku Pemburu Kepala : Suku Shuar, di Peru & Ecuador

Suku ini sendiri tinggal di bagian terpencil yakni dari Hutan Amazon yang ada di 2 negara ( Peru dengan Ekuador ). Suku Shuar konon katanya shi memiliki struktur masyarakat yang sangat kompleks dan juga sudah dikenal dengan berbagai macam ritual uniknya. Beberapa diantaranya adalah ritual dari kedewasaan para remaja pria yang diwajibkan untuk bisa melakukan perjalanan bersama dengan ayah atau bersama paman mereka dalam kurun waktu beberapa minggu ke tempat air terjun yang sangat keramat. 

Nah dalam perjalanan ini, para remaja dari Suku Shuar sendiri hanya diperbolehkan untuk bisa mengkonsumsi air perasan tembakau yang niscaya dipercaya, dapat membuat mereka menjadi kuat dan juga siap untuk bertempur di medan perang. Selain adanya ritual tersebut, satu lagi nih ritual lainnya yang dikatakan sangat amat menyeramkan. Suku Shuar akan mulai mencari atau memburu kepala manusia dan juga mengawetkannya guna dijadikan sebagai bahan dari Jimat. Disana sudah dikenal sebagai tsantsa

Selain bisa digunakan sebagai jimat, maka tsantsa ini seringkali dianggap langsung sebagai lambang Supremasi di Kalangan Suku Shuar. Dengan semakin banyak orang-orang yang memiliki Tsantsa, maka akan semakin tinggi juga kedudukan yang sudah dimiliki oleh orang tersebut. Proses dari pengawetan kepala yang dipenggal tadi, ternyata sudah pernah diabadikan oleh seseorang yang memiliki nama Edmundo Bielawski sejak tahun 1965. Dan rekaman ini sendiri menjadi satu-satunya rekaman yang pernah didokumentasikan terkait atas dasar ritual mengerikan yang sudah dilakukan oleh Suku Shuar. 

Suku Pemburu Kepala : Suku Aztec, Meksiko 

Amerika Latin – atau Meksiko ternyata tidak hanya dikenal sebagai ritual pengorbanan manusia yang sudah dilakukan, tetapi sudah dikenal dengan adanya ritual dari perburuan kepala. Mereka ini sangat amat gemar sekali mengoleksi kepala dari Musuh-Musuh yang sudah dikalahkan. Kepala-kepala ini kemudian mereka kumpulkan dalam sebuah rak kayu yang mana memiliki nama Tzompantli. Agar nantinya kepala bisa ditempatkan, maka kepala yang sudah dipenggal akan diberi lubang agar nantinya bisa dimasukkan ke tiang penyangga di dalam Tzompantli. 

Praktik yang sangat mengerikan ini dipercaya sudah berlangsung sejak abad ke 7 atau masuk pada tahun 13 Masehi. Didasari pada catatan Fray  Diego Duran dan Bernard ortiz de  Montellano, sudah lama ditemukan setidaknya 60 tengkorak manusia di sebuah kuil yang memiliki nama Tenochtitlan. Pada semua tengkorak tersebut yang sudah tertata sangat amat rapi dalam Tzompantli raksasa yang disebut dengan Huey Tzompantli. Dan catatan dari kedua orang diatas juga bisa mengatakan jika sedikitnya terdapat 5 Buah Huey Tzompantli di dalam Komplek dari Kuil Tenochtitlan.

Dimanakah Keberadaan Suku Misterius yang ada di Indonesia ?

by Edwin Baker

Negara Indonesia – memiliki keberagaman Suku atau Etnik yang sangat amat luar biasa. Dari kutipan pada situs 99.co, Badan Pusat Statistik atau BPS di tahun 2010 setidaknya memang ada 1.340 suku Indonesia yang sudah tercatat.nah beberapa diantaranya sudah pasti kalian ketahui. Namun dari semua yang kalian ketahui, nyatanya masih ada nih beberapa suku Misterius di Indonesia yang mana sudah kalian ketahui belum keberadaannya ? dan jika sudah, kira-kira tempatnya ada di mana ? …. 

Memang bisa dikatakan cukup banyak sekali cerita yang berkembang dari Mulut ke Mulut mengenai adanya Suku di Indonesia atau adanya Kelompok Masyarakat misterius tersebut. Jumlahnya memang tidak hanya satu, dan lokasi mereka tinggal ini ternyata sudah tersebar ke beberapa pulau. Intinya, dari Sabang sampai Merauke ada, namun tidak bisa tereksplor semuanya. Kira-kira dimana saja dan apa nama dari suku tersebut ? yuk cek langsung lebih detailnya pada bagian yang ada di bawah ini ! 

Daerah Mappi – Papua, Suku “ Korowai “ 

Suku Asmat menjadi salah satu suku asli yang ada di wilayah Papua dan sudah banyak dikenal oleh Masyarakat Indonesia. Pada wilayah yang berada di bagian Paling Timur dari negara Indonesia memang sudah menjadi tempat bermukimnya dari salah satu suku Misterius tersebut yang bernama Korowai. 

Dikenal masih sangat primitif, nyatanya suku ini benar-benar tega untuk memakan daging manusia ! untungnya saja, praktik dari Kanibalisme ini hanya saja terjadi saat mereka belum pernah mengenal dunia sekitar. Disebutkan juga, Masyarakat Korowai yang tinggal langsung di daerah Kaibar pada Kabupaten Mappi baru saja ditemukan di tahun 1970 silam.  

Dan sampai saat ini, maka Masyarakat Korowai masih sangat teguh dalam memegang adat istiadatnya. Nah sehari-hari, maka mereka juga mengenakan pakaian dari dedaunan yang maan tinggal dirumah panggung dengan tingginya sendiri sekitar 50 meter dari atas tanah dan juga sudah melakukan perburuan hanya untuk bisa makan nantinya. 

Daerah Pulau Seram – Maluku , Suku “ Bati “ 

Dilansir melalui Wikipedia oleh situs 99.co, Seram sendiri sudah disebut langsung sebagai Pulau Utama yang sekaligus terbesar di bagian provinsi Maluku selain adanya Pulau Ambon. Berkembangnya cerita bahwa di wilayah ini bisa berdiam sebuah suku Indonesia Misterius bernama Bati. dan berdasarkan dari omongan yang tak pernah diketahui asalnya, juga diketahui bahwa Suku Bati ini bukanlah Manusia, yang mana melainkan Makhluk besar yang sekilas saja mirip dengan kelelawar Raksasa. Mereka semua juga kerap kali memangsa hewan sebagai santapan namun yang seramnya, “ ANAK KECIL !” bisa jadi makanan bagi suku ini !

Daerah Jawa Tengah , Suku “ Samin “ 

Secara bahasa, suku sendiri mampu diartikan menjadi kelompok orang yang mana sudah tinggal di suatu wilayah tertentu. Dan disisi lain, apakah kalian pernah bertanya-tanya dari manakah Suku ini untuk pertama kalinya muncul ? lalu siapa saja yang memiliki niat untuk menjadi pengikutnya ? dan jumlah dari suku tersebut apakah sudah banyak ? ….. 

Nah nyatanya di daerah Jawa tengah disebut juga terdapat satu Kelompok suku yang mana menanamkan diri mereka sebagai Wong Sikep. Adakah kisah dari penamaan Samin atau Wong Sikep ini ? jadi semua ini dikarenakan, para anggotanya merupakan pengikut Samin Surosentiko yang mana mengajarkan perlawanan pada Belanda dengan adanya ajaran Sikep. Sampai pada tahun 1970 an, suku Indonesia atau kelompok masyarakat ini baru saja keluar dari persembunyiannya. Dan dikala itu, mereka juga baru saja mengetahui bahwa Indonesia sendiri sudah resmi Merdeka dari negara Belanda ataupun dari Negara Tirai Bambu sampai dengan Jepang. 

Daerah Jambi, Suku “ Kubu “ 

Layaknya untuk suku-suku Primitif lainnya, Suku Kubu atau yang jauh lebih dikenal sebagai Suku Anak Dalam yang mana bermukim secara Nomaden. Dan tempat tinggal mereka untuk pertama kalinya adalah sekitar wilayah Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas (12). Dan saat ini, mereka sudah mulai menyebar di sekitar wilayah pada pedalaman Jambi. Disamping menyukai perburuan Hewan, Suku Anak dalam di sana juga melakukan adanya kegiatan pertanian. Dan salah satunya yang menjadi komoditas mereka sudah berhasil dalam pertanian karet. 

Daerah Kalimantan Barat,  Suku “ Paloh “ 

Suku di Indonesia yang mana sudah masuk menjadi sekelompok suku Misterius dan juga Gaibnya bernama Paloh. Suku tersebut sudah ada dari Kawasan Kalimantan Barat yang berbatasan dengan adanya Malaysia dan juga memiliki pasukan Khusus Gaib yang mana mampu dalam melindungi wilayah tempat tinggal mereka. 

Daerah Gorontalo – Sulawesi Tenggara, Suku “ Polahi “ 

Di kedalaman hutan Boliyohuto, Gorontalo daerah Sulawesi Tenggara ternyata sudah bermukim langsung sebuah suku Indonesia yang memiliki nama Polahi. Suku ini sendiri muncul sebagai keturunan Warga Lokal yang mana kabur ke Hutan saat penjajahan Belanda. Mereka semua menghindari Belanda, dan juga beranak pinak sehingga untuk populasinya semakin berasa. Dan perlu saja kalian ketahui, ternyata salah satu suku di Indonesia yang bernama Polahi ini menjadi pelaku dari kawin sesama saudara atau Incest ya bukan insect. Caranya sendiri dilakukan hanya untuk memperbanyak keturunan mereka sehingga bisa semakin besar lagi. 

Daerah Aceh, Suku “ Mante “ 

Nyatanya Suku Indonesia juga ternyata lahir berkat adanya akulturasi bangsa lainnya yang mana masuk ke dalam Wilayah NKRI dari sejak dulunya. Nah salah satu dari Suku yang menjadi Contohnya adalah Suku Mante dari Wilayah Aceh, Provinsi Sumatera. Masyarakat suku ini memiliki latar belakang Melayu Kuno dan juga Champa yang ada di negara Kamboja. Dan sejak dari 3 ribu tahun sebelum masehi, Suku Mante sendiri sudah eksis di hutan Wilayah Aceh. untuk peradaban mereka juga dulunya tersebar di daerah Jantho, yakni Aceh Besar. 

Daerah Sumatera Barat, Suku “ Orang Bunian “ 

Jadi orang Bunian ini menjadi Kelompok Suku Gaib yang konon katanya dulu banyak sekali tersebar di Sumatera Barat. Mereka masih bisa menetap di Area Hutan, Bukit atau bahkan adanya Kuburan yang sepi. Umumnya Suku ini juga bisa meninggali rumah Kosong yang tidak akan dihuni lagi. Mereka semua seringkali terlihat pada waktu sore hari dengan diberikan tanda-tanda aroma kentang yang sedang di goreng. Kelompok suku ini juga telah dikenal seringkali menyesatkan pada penjelajah yang ada disana. Jika nantinya ada orang sampai kiranya masuk ke dunia Suku Orang Bunian, maka umumnya kecil kemungkinan untuk bisa berhasil keluar nantinya. 

Daerah Kalimantan Barat, Suku “ Orang Limun “ 

Jika tadi ada Orang Bunian di Sumbar, maka Kalbar juga memiliki Orang Limun. Disana dikenal langsung dengan orang Kebenaran atau suku gaib yang sudah diketahui menetap di Padang 12. Nah untuk Padang 12 sendiri menjadi sebuah lahan kosong yang tidak terjamah dan dikelilingi oleh banyak pohon Pinus yang ada di sekitarnya. Warga setempat juga percaya jika lokasi ini masih bisa untuk ditempati oleh orang Limun yang mana dikenal sangat suci dan juga taat beribadah. Terdapat juga pada versi lainnya yang mana mengatakan jika Orang Limun merupakan perwujudan dari Jin Islam yang sudah menetap disana selama ribuan tahun lalu. Dan umumnya orang-orang ini seringkali menyamar menjadi Nenek  Tua yang mana minta diantar langsung ke Padang 12 dan juga kemudian mereka ini hilang begitu saja dengan meninggalkan rezeki yang sangat banyak.

Suku yang Terkenal di Papua, Dikenal Berani

by Edwin Baker

Provinsi Papua nantinya akan menjadi salah satu dari tuan rumah pada perhelatan Pekan Olahraga Nasional atau yang dikenal dengan PON di tahun 2020 mendatang. Sejumlah fasilitas olahraga yang juga sudah mulai disiapkan, mulai dari stadion dan juga beberapa fasilitas penunjang yang lainnya juga menjadi sebuah hal yang terus dikebut disana.

Suku yang Terkenal di Papua, Dikenal Berani

Karena ini adalah salah satu momen yang sangat bersejarah bagi provinsi yang berada di wilayah paling timur Indonesia tersebut. Sebelumnya Papua yang disebut dengan Irian Barat atau Irian Jaya, disana terdapat ratusan suku. Dalam artikel ini akan dibahas beberapa suku yang ada di wilayah papua.

Suku Asmat

Suku Asmat adalah salah satu dari suku terbesar dan juga suku paling terkenal yang ada di antara sekian banyaknya suku yang berada di Papua. Salah satu hal yang membuat Suku Asmat ini menjadi cukup terkenal yaitu adalah hasil ukuran kayu yang sangat khas yang dibuat oleh suku ini.Biasanya suku Asma mengambil tema nenek moyang mereka atau biasa disebut dengan mbis.

Bagaimana suku asmat membuat sebuah seni ukir, yang merupakan perwujudan dari mereka yang melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhur mereka. Sering kai biasanya kita akan menemukan motif yang menyerupai sebuah perahu di dalam beberapa ukiran yang dibuat oleh suku asmat. Mereka percaya bahwa simbol perahu arwah yang nantinya akan membawa nenek moyang mereka ke dalam alam kematian.

Suku Amungme

Suku Amungme adalah sebuah suku yang juga berasal dari Papua. Suku ini sendiri tinggal di dataran tinggi Papua. Mereka yang biasanya akan menjalankan pertanian dengan cara berpindah serta dengan cara melakukan berbagai macam kegiatan dengan cara berburu dan juga dengan cara mengumpul. Suku Amungme yang juga sangat terikat dengan tanah leluhur mereka.

Mereka yang menganggap jika sekitar gunung adalah sebuah tempat yang sangat suci untuk mereka. Gunung yang dijadikan penambangan emas yang dilakukan oleh PT.Freeport merupakan sebuah gunung suci yang sangat diagung agungkan oleh Masyarakat Suku Amungme, yang menyebutnya dengan nama Nemangkawi.

Suku Dani

Suku Dani adalah salah satu suku yang juga mendiami di daerah pegunungan. Serta suku Dani ini juga mendiami keseluruhan dari Kabupaten Jayawijaya. Banyak orang yang juga mengenal Suku Dani adalah yang mendiami suatu wilayah yang ada di Lembah Baliem. Suku Dani mereka dikenal sebagai petani yang sangat terampil dan juga sangat mahir menggunakan perkakas seperti kapak batu, pisau yang dibuat dengan menggunakan tulang binatang. Bambu dan kayu galian yang sangat terkenal kuat dan berat.

Suku Dani yang saat ini masih banyak mengenakan koteka atau salah satu penutup kemaluan pria. Sedangkan untuk para wanita mengenakan sebuah pakaian wah yang terbuat dari rumput ataupun juga serat. Mereka biasanya akan tinggalnya di rumah honai. Upacara besar serta jug sebuah upacara keagamaan dan perang biasanya juga masih sering dilaksanakan oleh Suku Dani ini. Suku ini pertama kali diketahui berada di Lembah Baliem ratusan tahun yang lalu.

Suku Korowai

Suku Korowai juga mendiami area judi bola online yang luas di dataran rendah yang ada di wilayah selatan pegunungan Jayawijaya. Daerah tersebut membentuk sebuah rawa, hutan mangrove dan juga sebuah lahan basah. Suku Korowai yang memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah salah satunya manusia yang ada di bumi.

Suku Korowai juga salah satu dari Suku Papua yang tidak mengenakan koteka. Banyak dari orang yang mengenal Suku Korowai ini sebagai pemburu. Biasanya suku ini akan tinggal di rumah pohon yang akan mereka bangun.

Suku Muyu

Suku Muyu adalah salah satu suku asli yang berasal dari papua, suku ini hidup dan juga berkembang di Kabupaten Boven DIgoel. Nenek moyang dari Suku Muyu ini dulunya tinggal di daerah sekitar sungai mayu yang terletak di sebelah timur merauke. Uniknya lagi, beberapa anthropologist yang menyebut jika Suku Muyu adalah salah satu Primitive Capitalists.

Suku Muyu yang dianggap sebagai orang-orang suku pedalaman yang pintar. Mereka yang dapat menduduki posisi penting dalam struktur birokrasi Boven Digoel. Dari 1.800 pegawai negeri sipil, dimana sekitar 45% nya yang berasal dari Suku Muyu. Suku Muyu yang juga dikenal hemat, pekerja keras dan juga sangat menghargai pendidikan. Mereka yang menyebut dirinya sendiri dengan istilah Kati. Yang artinya adalah manusia yang sesungguhnya.

Suku Bauzi

Oleh lembaga misi dan juga bahasa Amerika Serikat, suku Bauzi yang masuk juga ke dalam daftar 14 suku terasing di Indonesia. Sebagai suku yang menempati kawasan terisolir. sebagai lelaki yang ada di suku bauzi mengenakan cawat yang berapa selembar atau kulit pohon yang telah dikeringkan lalu kemudian diikat dengan tali pada ujung alat kelamin mereka Sedangkan untuk para wanita mengenakan selembar daun ataupun juga kulit kayu yang sudah dikeringkan dan di tali di pinggang mereka untuk dapat menutupi auratnya

Pada acara pesta adat atau pun sebuah upacara penyambutan tamu di suku ini. Biasanya para lelaki dewasa akan mengenakan hiasan kepala dari bulu kasuari dan juga nantinya akan mengoles tubuh mereka dengan sagu. Sebagian besar suku ini antv masih hidup dengan taraf berburu dan juga meramu serta hidup semi nomaden.

Suku Huli

Suku Huli adalah salah satu suku yang termasuk ke dalam suku terbesar yang ada di Papua. Mereka biasanya identik dengan wajah mereka dengan warna kuning, putih, merah. Mereka terkenal dengan tradisi mereka yaitu membuat wig dari rambut mereka sendiri. Alat-alat seperti kapak dengan cakar juga tidak ketinggalan, menjadi alat yang digunakan untuk melengkapi mereka agar menambah kesan menakutkan. Kesimpulannya adalah, banyak sekali suku yang mendiami pulau Papua. Sebagian mereka memiliki keunikan tersendiri dari pada suku-suku yang lainnya.

Korowai

Adalah salah satu suku pedalaman papua. Suku ini masih mempertahan tradisi lama dan menjauh dari peradaban. Satu yang cukup terkenal adalah suku Korowai. Suku ini diketahui memiliki anggota hingga 3.000 orang. Mereka biasanya tinggal di Papua Barat, Indonesia yang dekat dengan perbatasan dari Papua Nugini.

Dilansir juga dari laman en.goodtimes.my, Korowai yang dikatakan sebagai satu dari kelompok manusia yang paling terpencil di yang ada dunia. Dipercaya bahwa Korowai adalah suku yang tidak menyadari keberadaan orang lain selain diri mereka sendiri yaitu sebelum orang luar melakukan kontak dengan mereka pada tahun 1970 an.

Suku Korowai yang diyakini pertama kali ditemukan yaitu pada 1974 oleh sekelompok ilmuwan. Ilmuwan yang pada saat itu tersesat tanpa sengaja memasuki wilayah dari suku Korowai.

Demikian itulah beberapa suku yang ada di Papua. Papua memang menjadi salah satu provinsi paling timur Indonesia, papua sendiri masih didiami oleh suku khas, bahkan beberapa masuk ke dalam suku primitif. Bahkan jika diketahui ternyata ada beberapa suku pedalaman lainnya yang belum diidentifikasi.

Suku di kalimantan yang Terkenal

by Edwin Baker

Suku yang berada di Pulau kalimantan ternyata di ketahui banyak sekali jumlahnya. Selain suku utama yang paling dikenal adalah suku Dayak, Suku yang berada di pulau Kalimantan juga didominasi oleh beragam jenis suku campuran dan juga suku lainya yang jumlahnya sangat banyak. Selain suku Dayak yang memang dikenal memiliki sub atau jenis Dayak yang berbeda-beda yang ada di wilayah Kalimantan. Ternyata Suku yang berada di Pulau kalimantan lainnya juga cukup besar yaitu adalah Suku Banjar yang ada di Kalimantan Selatan.

Kalimantan atau yang disebut juga dengan nama Borneo pada zaman kolonial, adalah pulau terbesar ketiga yang ada di dunia. Pulau ini sendiri terletak di sebelah utara di Pulau Jawa dan juga berada di sebelah barat Pulau Sulawesi. Pulau Kalimantan yang dibagi menjadi beberapa wilayah yaitu Indonesia (73%), Malaysia sebanyak (26%), dan Brunei (1%). Pulau Kalimantan sendiri terkenal dengan julukan sebagai “Pulau Seribu Sungai” karena memang banyaknya sungai yang terdapat dan mengalir di pulau ini.

Suku di kalimantan yang Terkenal

Ada 5 budaya dasar dari masyarakat asli di rumpun Austronesia di wilayah Kalimantan atau Etnis Orang Kalimantan. Etnis tersebut terdiri dari Melayu, Dayak, Banjar, Kutai dan juga Paser. Sedangkan dari data sensus BPS yang dilakukan yaitu pada tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di wilayah Kalimantan Indonesia sendiri dikelompokan menjadi tiga yaitu adalah suku Banjar, suku Dayak Indonesia yaitu (268 suku bangsa) dan juga suku asal Kalimantan lainnya yang bukan suku Dayak atau banjar. Suku Melayu yang berhasil menempati wilayah pulau Karimata dan berada di wilayah pesisir Kalimantan Barat, Sarawak, Brunei hingga ke daerah pesisir Sabah. Suku Banjar yang biasanya menempati wilayah Kalsel serta juga di bagian Kalteng dan juga Kaltim. Suku Kutai dan juga Paser yang menempati wilayah Kaltim. Sedangkan untuk suku Dayak sendiri biasanya menempati daerah pedalaman Kalimantan.

Keberadaan orang Tionghoa yang diketahui juga cukup banyak di kota Singkawang dan juga Pontianak dapat disamakan dengan komunitas Tionghoa Benteng yang bermukim di wilayah Kota Tangerang dekat Jakarta. Memang beberapa kota yang ada di pulau Kalimantan diduduki secara politis oleh beberapa mayoritas suku-suku imigran seperti halnya suku Hakka atau suku asli (Singkawang), suku Jawa yang berada di (Balikpapan, Samarinda), Bugis (Balikpapan, Samarinda, Pagatan, Nunukan, Tarakan) dan juga sebagainya. Nah dalam artikel ini akan dibahas beberapa suku yang populasinya cukup besar yang mendiami Kalimantan.

Suku Banjar

Suku yang berada di Pulau Kalimantan yang pertama yang jumlah populasinya diketahui cukup banyak dan juga menjadi suku yang hampir mendiami 1 Provinsi yakni di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu Suku Banjar. Suku Banjar adalah sebuah suku bangsa yang menempati wilayah Kalimantan Selatan, serta suku ini mendiami sebagian wilayah Kalimantan Tengah dan juga sebagian Kalimantan Timur.

Populasi dari Suku Banjar sendiri dengan jumlah yang cukup besar di ketahui juga dapat ditemui di wilayah Riau, Jambi dan juga Sumatera serta berada di semenanjung Malaysia. Hal ini karena migrasi dari orang banjar pada abad ke-19 di wilayah kepulauan melayu. Berdasarkan dengan sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 2010 orang Banjar yang berjumlah 4,1 juta jiwa. Sekitar 2,7 juta orang Banjar yang juga tinggal di Kalimantan Selatan dan juga 1 juta orang Banjar yang tinggal di wilayah Kalimantan lainnya. Serta 500 ribu suku Banjar yang lainnya yang berada di luar Kalimantan.

Suku bangsa Banjar yang juga berasal dari daerah Banjar yang merupakan sebuah pembauran dari masyarakat dan juga dari beberapa daerah yang berada di aliran sungai DAS Bahan, DAS Barito, DAS Martapura dan juga DAS Tabanio. Dari daerah pusat budaya suku Banjar yang sudah berabad-abad bergerak secara meluas melakukan migrasi

Bahasa Banjar merupakan sebuah bahasa ibu Suku Banjar. Bahasa ini diketahui sudah ada dan juga sudah berkembang sejak zaman Kerajaan Negara Dipa dan juga Daha yang bercorak Hindu-Buddha hingga saat itu datang agama Islam di Tanah Banjar. Banyak sekali kosakata-kosakata bahasa ini yang juga sangat mirip dengan Bahasa Dayak, Bahasa Jawa, maupun juga Bahasa melayu.

Suku Dayak

Suku terbesar yang ada di pulau Kalimantan selanjutnya adalah Suku Dayak. Suku Dayak sendiri adalah nama yang telah diberi oleh penjajah kepada penghuni sedalam pulau Borneo yang mendiami wilayah pulau Kalimantan seperti halnya Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan juga Sarawak. Serta terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan tengah dan Kalimantan Selatan.

Suku Kutai

Suku besar yang lainnya yang juga ada di wilayah Kalimantan yaitu adalah Suku Kutai. Suku Dayak yang biasanya akan berada di wilayah Kalimantan Timur dan juga akan memiliki beberapa macam suku bangsa. Selain dayak ada 1 suku yang juga memang peran yang cukup penting di Kaltim yaitu suku Kutai. Suku Kutai merupakan sebuah suku melayu asli Kalimantan Timur yang awalnya mendiami wilayah pesisir Kalimantan Timur.

Suku Kutai, Dayak-Kutai, atau yang dikenal juga dengan Urang Kutai adalah salah satu dari suku rumpun dayak ot danum yang mendiami wilayah Kalimantan Timur dengan mayoritas beragama islam yang hidup di tepi sungai. Pada awalnya kutai yang merupakan nama dari suatu teori tempat bermukimnya masyarakat asli Kalimantan. Suku kutai juga hidup berdasarkan jenisnya yang termasuk ke dalam suku melayu

Suku Paser

Salah satu suku yang juga ada di Kalimantan yang juga sudah cukup besar populasinya yaitu adalah Suku Paser. Suku Paser sendiri adalah suku bangsa yang berasal dari tenganggara Kalimantan Timur yaitu tepatnya di Kabupaten Paser dan Kota Balikpapan. Suku Pasar sebagian besar penduduknya beragama Islam dan juga beragama Kristen. Suku ini juga telah mendirikan kerajaan Islam yaitu Kerajaan Kesultanan Pasir, jadi termasuk ke dalam suku yang memasang berbudaya Melayu. Kemungkinan suku Paser ini masih berkerabat juga dengan suku Dayak Lawangan yang juga termasuk suku Dayak dari rumpun Ot Danum tersebut. Populasi suku Dayak Paser pada saat ini yang diperkirakan yaitu sebesar 155.000 jiwa.

Sebagian besar dari suku Dayak Paser yang di ketahui saat ini bermukim di wilayah pedalaman, yang berada di kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, di kabupaten Paser provinsi Kalimantan Timur. Sebelum mereka bermukim di tempat tersebut, dahulu mereka berasal dari daerah Balikpapan dan juga Penajam. Sebagian besar dari suku bangsa Paser yang juga bermukim di sepanjang Kalimantan tenggara. Dan pusatnya berada di daerah sepanjang sungai Kandilo dan juga Sungai Telake serta berada di daratan gunung lumut serta pegunungan meratus. Namun ada beberapa yang juga berdomisili di pesisir. Namun keberadaan mereka yang kalah banyak dengan populasi dari para Pendatang yang mayoritas datang ke pulau Kalimantan seperti halnya suku Jawa,Bugis dan juga Banjar.

Demikian itulah beberapa suku-suku besar yang mendiami wilayah Kalimantan. Beberapa suku tersebut merupakan mayoritas suku yang mendiami pulau Kalimantan, biarpun banyak juga suku-suku yang lain yang juga tinggal di Kalimantan namun keberadaan suku-suku tersebut tetap diperhitungkan.

Aturan Tata Krama Hidup di Kalimantan

by Edwin Baker

Sebagai salah satu dari sebuah provinsi terbesar yang dimana ada di Indonesia, Kalimantan sendiri yang juga menjadi sebuah tempat atau kawasan yang menawarkan banyak hal. Tak hanya juga tentang alamnya yang dimana sangat eksotis, tapi juga tentang peluang besar untuk dapat mengembangkan karir. Ya, Kalimantan adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia yang selama ini dianggap sebagai tempat mencari pekerjaan. Sehingga tak heran kalau daerah ini sendiri yang dimana menjadi tempat yang makin banyak dikunjungi orang luar yang kemudian menetap.  Hidup di Kalimantan sendiri menjadi sebuah hal yang sangat mudah, sama seperti halnya itu di tempat lain. Intinya, asal anda yang berkelakuan baik, maka segalanya juga akan berjalan sebagaimana mestinya.

Namun jika sebaliknya, ketika anda melakukan sesuatu hal yang buruk, maka nantinya anda yang akan mendapatkan sebuah konsekuensi untuk itu. Apalagi ini adalah sebuah tanah Kalimantan di mana klenik dan juga magisnya sendiri masih menjadi sebuah hal yang sangat kuat. Di Kalimantan juga dimana ada sebuah semacam aturan khusus yang dimana tidak boleh dilanggar  oleh siapapun, apalagi oleh para pendatang. Konon, dimana ketika seseorang tidak mengindahkan ini, maka nantinya sesuatu hal yang buruk akan dapat terjadi. Lalu, aturan apa sajakah yang ada dan juga dimaksud?  Dalam artikel ini akan dibahas beberapa aturan yang harus anda ikuti saat anda berada di Kalimantan. 

 

  1. Jangan Menghina Patung Kayu di Sana

Jika anda pasti perhatikan, di Kalimantan sendiri yang dimana biasanya akan banyak sekali rumah-rumah adat yang di depannya pasti terdapat agen sbobet88 dan patung-patung kayu. Konon, ini dimana bukanlah sebuah patung biasa melainkan adalah sebagai simbol orang-orang yang biasanya sudah meninggal. Aturan yang ada dimana tentang patung kayu ini adalah jangan pernah menghina tentang bentuknya, sekalipun anda lakukan hal tersebut dalam hati.

Ada banyak juga kejadian orang-orang yang dimana menghina patung-patung ini dan kemudian mereka yang diganggu oleh makhluk-makhluk halus. Tak hanya diganggu yaitu secara visual, kadang ada yang dimana sampai mengalami sebuah keanehan fisik. Gangguan ini yang juga nantinya akan tetap ada sepanjang seseorang yang dimana tidak lekas meminta maaf kepada keluarga si pemilik patung tersebut. Terdengar kisah ini adalah hal yang tidak masuk akal, namun hal  ini ternyata menjadi sebuah hal yang sering terjadi di sana.

 

  1. Jangan Memandang Rendah Orang Dayak

Sebagai seorang pendatang, maka dimana sudah juga sudah jadi sebuah kewajiban kalau anda yang juga nantinya harus menghormati penduduk asli setempat. Kalimantan sendiri yang dimana adalah tanahnya orang Dayak, maka anda yang dimana juga harus menghormati mereka. Jangan sekalipun anda yang dimana nantinya mencari gara-gara atau juga anda menghina mereka. Takutnya, sesuatu hal yang fatal nantinya akan terjadi. 

Orang Dayak, sendiri yang dimana mereka punya magis yang sangat kuat. Ketika diganggu, mereka yang nantinya takkan segan mengerahkan kesaktian untuk dapat membalas sakit hatinya. Hal yang juga perlu diketahui, Dayak yang dimana adalah sebuah suku yang merupakan salah satu suku di dunia dengan kekuatan sihir yang terkuat. Tak hanya dengan menggunakan sihir, orang Dayak sendiri yang dimana bisa melukai musuhnya dengan mandau yang sangat sakti atau merupakan sebuah sumpit beracunnya yang sangat mematikan itu.

 

  1. Jangan Pernah Mempermainkan Gadis Dayak

Siapa sih yang bisa menampik jika cantiknya gadis-gadis Dayak? Paras ayu yang sangat alami pasti juga bisa menjerat siapapun yang nantinya dapat digunakan untuk jatuh cinta, termasuk juga para pendatang. Nah, ada satu hal yang dimana perlu diperhatikan terkait dengan gadis-gadis Dayak tersebut. Ini adalah sebuah larangan tentang tidak mengganggu para gadis dayak tersebut atau mempermainkannya.

Ada mitos yang dimana beredar, siapapun yang nantinya mengganggu mereka lebih-lebih mempermainkannya para gadis dayak, maka dipastikan nantinya akan hilang alat vitalnya. Memang hal tersebut dimana terdengar mustahil, namun hal ini menjadi sebuah hal yang sudah banyak diceritakan tentang ini. Hal tersebut yang dimana cukup masuk akal juga cukup mengingat tentang Dayak dengan magisnya yang dimana sangat ampuh. Makanya, anda yang juga jangan sampai pernah macam-macam dengan gadis Dayak atau nantinya akan hilang masa depan anda.

 

  1. Sopanlah Ketika Mampir ke Makam Dayak

Akan jadi sebuah pengalaman unik tersendiri jika nantinya anda yang bisa mampir ke tempat-tempat sakralnya orang suku Dayak. Salah satunya dimana misalnya adalah sebuah area pemakamannya. Cara perkuburan orang Dayak sendiri cukup unik. Mereka yang dimana biasanya akan membuat semacam makam yang ada di atas tanah dan juga akan berbentuk seperti halnya sebuah bangunan balok yang dimana biasanya akan disangga. Sangat unik, namun juga sangat kental mistis.

Aturannya, anda yang dimana nantinya harus sopan ketika ada di tempat-tempat seperti ini. Pasalnya ya tadi, orang-orang Dayak sendiri yang dimana adalah sebuah suku yang amat mengeramatkan kuburan moyangnya. Jangan sampai anda nantinya yang keceplosan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas atau juga anda yang dimana tidak sengaja mengumpat. Mereka yang dimana nantinya mereka yang dimana akan bisa merasa terhina dan juga akan dapat membuat sebuah urusannya menjadi panjang.

 

  1. Jangan Bermain-Main Dengan Mandau

Mandau sendiri adalah sebuah senjata keramat bagi orang-orang Dayak. Meskipun bentuknya seperti sebuah parang biasa, ia yang dimana tidak bisa dipakai semaunya. Harus ada sebuah alasan khusus kenapa Mandau yang sampai keluar dari sarungnya. Pasalnya, menurut orang-orang Dayak, Mandau yang nantinya akan di keluarkan dari sebuah sarungnya yang dimana biasanya juga akan memakan tentang korban tersebut. Makanya, bagi para pendatang sendiri, jangan bermain-main dengan sebuah senjata yang dimana satu ini. Memang menjadi sebuah hal yang dimana sangat artistik dengan berbagai ukiran-ukirannya. Namun jangan sampai Mandau yang nantinya tercabut dari sarungnya. Orang-orang setempat yang dimana sangat menghormati senjata ini, makanya kita pun yang dimana harus melakukan banyak semual hal.

 

Dimana lima hal ini sendiri adalah sebagian kecil yang ada dari sebuah 

aturan yang dimana tentunya menjadi sebuah hal yang harus diketahui sebelum nantinya menjejakkan kaki di Kalimantan. Intinya, jika anda nantinya seorang pendatang sebagai pendatang yang dimana nantinya harus hormati kebudayaan dan juga dapat setempat. Patuhi semua hal, ini yang dimana dengan demikian anda yang nantinya juga akan selamat di manapun anda nantinya berada.

Itulah beberapa dari fakta menarik tentang Suku Dayak yang ada di Kalimantan. Suku Dayak adalah suku asli Indonesia yang dimana masih menjaga tradisi hingga saat ini. Dalam taktak rama tentunya menjadi sebuah hal yang dimana tentunya harus anda lakukan dimanapun nantinya and beradab tidak hanya di Kalimantan saja. 

Fakta Suku Baduy Dalam yang Jarang Diketahui

by Edwin Baker

Suku Baduy yang dimana merupakan suku asal Indonesia yang ada di kawasan baduy Dalam yang dimana suku ini sendiri memiliki 3 kampung yang juga berdiri secara terpisah, yaitu adalah Kampung Cikeusik,Kampung Cibeo, dan juga Kampung Cikertawana. Pada umumnya, wisatawan yang dimana biasanya mereka melakukan daftar joker123 akan berkunjung ke Baduy Dalam yang dimana biasanya akan lebih memilih untuk dapat bermalam di sebuah Kampung Cibeo. Dikarenakan dimana kampung ini sendiri adalah sebuah perkampungan baduy yang dimana ada di kampung ini yang biasanya juga akan lebih terbuka bagi para wisatawan yang juga nantinya akan datang.

Walaupun juga disana masih akan tetap berpegang teguh dengan beberapa larangan adat yang dimana biasanya juga akan dilarang untuk dapat mengambil foto serta dilarang untuk dapat menggunakan sebuah bahan kimia yang biasanya digunakan dimana pada saat mandi. Tapi Kampung Cikeusik yang dimana juga merupakan sebuah kampung yang juga jarang untuk dapat dikunjungi dan juga ramai oleh wisatawan ini adalah sebuah tempat terbaik yang bisa dikunjungi bagi orang-orang yang mencari sebuah “privasi” dan juga ingin benar-benar menikmati sebuah keasrian dari Suku Baduy Dalam. Berikut beberapa informasi yang tentunya belum anda ketahui tentang Suku Baduy Dalam

Suku yang sangat gemar berjalan kaki

Adanya sebuah larangan yang dimakan biasanya juga menjadi salah satu yang menggunakan sebuah kendaraan seperti halnya menggunakan motor ataupun mobil, tidak membuat Suku Baduy Dalam sendiri merasa terasing dari dunia luar. Pertemuan dengan Kang Ralim yang dimana merupakan warga dari Suku Baduy Dalam yang membuat siapa saja akan merasa kagum bahwa Suku Baduy Dalam sendiri adalah masyarakat yang selalu berjalan kaki apabila mengunjungi kerabatnya yang biasanya ada dan tinggal di kota besar untuk datang bertamu maupun berjualan sebuah hasil ladang dan juga berjualan sebuah kerajinan tangan khas Suku Baduy Dalam. Dimana menurut pengakuannya dirinya pernah jalan kaki dari tempatnya sampai ke Kampung Cikeusik atau sampai Bekasi/ Bogor untuk dapat ketemu teman-teman atau juga sanak saudara.

Kekayaan tidak dilihat dari bentuk rumah

Tidak seperti orang yang umumnya tinggal di kota pada umumnya yang dimana jika memiliki sebuah rumah besar menjadi selalu identik dengan orang kaya, berpangkat tinggi, dan juga orang yang dipandang banyak orang. Lain halnya juga dengan Suku Baduy Dalam yang dimana biasanya mereka akan membentuk rumahnya hampir serupa satu sama lainnya. Yang dimana membuat rumahnya membedakan dengan status kekayaan mereka adalah sebuah tembikar yang dimana juga menjadi salah satu hal yang dibuat dari sebuah kuningan yang disimpan di dalam sebuah rumah. Semakin banyak jika tembikar yang sudah disimpan, menandakan sebuah status keluarga tersebut yang dimana statusnya semakin tinggi dan juga biasanya dipandang orang.

Gemar bergotong royong

Sifat gotong royong yang dimana juga biasanya mereka akan sangat identik dengan sikap yang selalu diterapkan oleh Suku Baduy Dalam pada saat mereka sendiri harus berpindah tempat ke satu wilayah ke wilayah yang lainnya yang biasanya juga lebih subur. Sebagai sebuah suku nomaden atau juga tidak memiliki sebuah tempat tetap dan juga menganut sebuah sistem dan juga ladang terbuka, membuat Suku Baduy sendiri yang ada di sana hidup saling membantu.

Ayam merupakan makanan mewah

Tidak seperti halnya pada masyarakat umumnya yang dimana biasanya menyediakan sebuah menu dengan santapan ayam pada sebuah setiap makanan yang dimana biasanya disajikan, tidak begitu dengan sebuah Suku Baduy Dalam. Walaupun dimana disana bisa menemukan ayam berkeliaran bebas di kampung, bukan berarti ayam tersebut bisa menjadi sebuah makanan sehari-hari. Suku Baduy Dalam yang dimana biasanya mereka hanya menyantap sebuah hidangan ayam yang biasanya akan setidaknya 1 bulan sekali atau juga hanya pada saat upacara-upacara besar, seperti halnya acara pernikahan dan juga acara kelahiran.

Pu’un, seperti presiden di Kampung Baduy Dalam

Setiap suku yang dimana biasanya suku ini sendiri yang tinggal di Indonesia pasti memiliki kepala adat yang dimana juga biasanya akan berfungsi untuk dapat mengatur semua warganya. Begitu juga Suku Baduy Dalam yang juga dimana mereka juga memiliki kepala adat yang biasa juga dipanggil Pu’un. Pu’un yang merupakan orang yang juga biasanya akan memiliki sebuah kelebihan yang sangat berbeda dibandingkan jika dengan warga biasa. Tugas dari Pu’un yaitu menentukan sebuah masa tanam dan juga sebuah masa panen. Menerapkan sebuah hukum adat kepada para warganya, mengobati yang sakit. Hanya orang-orang baduy dalam yang dimana biasanya akan memiliki sebuah kepentingan khusus yang bisa juga bertemu dengan Pu’un.

Larangan berkunjung selama 3 bulan

Warga Baduy Dalam menjalankan sebuah tradisinya yaitu Kawalu. Kawalu adalah sebuah puasa yang biasanya akan dijalankan oleh warga Baduy Dalam acara yang biasanya akan dirayakan tiga kali selama tiga bulan. Pada puasa ini yang dimana nantinya para warga Baduy Dalam mereka akan berdoa kepada Tuhan untuk negara ini agar diberikan sebuah rasa aman, damai, dan juga adanya sejahtera. Pada saat tradisi Kawalu yang dimana biasanya dijalankan, para sebuah pengunjung yang dimana juga dilarang untuk masuk ke Baduy Dalam. Apabila disana yang orang yang ada kepentingan, biasanya pengunjung yang dimana hanya akan diperbolehkan untuk dapat berkunjung sampai Baduy Luar saja namun tidak diperbolehkan untuk dapat menginap.

Perjodohan masih berlaku

Sebuah hal yang sekarang ini di era perkembangan zaman yang dimana tidak lazim dilakukan pada zaman sekarang namun ternyata hal ini sendiri menjadi salah satu hal atau juga salah satu tradisi yang dimana tentunya masih berlaku di Suku Baduy Dalam. Seorang gadis yang dimana juga sudah berumur 14 tahun yang dimana juga akan dijodohkan dengan laki-laki yang dimana biasanya juga akan berasal dari Suku Baduy Dalam. Selama masa penjodohan, orang tua dari laki-laki yang ada dalam suku Baduy Dalam biasanya mereka akan bebas memilih wanita Baduy Dalam yang mereka sukainya. Namun jika belum menemukan sebuah pilihan yang cocok, laki-laki maupun juga nantinya perempuan harus menuruti sebuah pilihan sang orang tua ataupun juga pilihan yang memegang diberikan oleh sang Pu’un.

Tak ada gelas, maka batang bambu pun jadi

Pelarangan yang menggunakan gelas serta juga piring sebagai sebuah tempat untuk dapat menyimpan air dan juga tempat yang digunakan sebagai sebuah alas untuk makan yang dimana juga menjadi salah satu yang tidak dapat membuat Suku Baduy Dalam sendiri kehilangan akal. Dibekali sumber daya alam yang sangat banyak, Suku Baduy Dalam membuat peralatan seperti gelas serta tadah air minum yang dimana semuanya terbuat dari bambu panjang. Aroma khas dari bambu yang juga nantinya akan keluar pada saat menyeduh kopi panas jika menggunakan cangkir bambu yang dimana juga hal ini yang juga nantinya akan membuat rasa kopi menjadi berbeda.

Itulah beberapa fakta unik yang ada di dalam suku baduy dalam yang dimana ternyata banyak sekali hal unik dan juga yang masih jarang di ketahui tentang suku baduy dalam. Suku baduy dalam adalah suku asli indonesia yang sekarang ini masih terjaga dengan budaya mereka walaupun di tengah arus globalisasi. Namun sebagai masyarakat indonesia kita sudah sepatutnya untuk dapat menjaganya.