travelwithrj.com - Permainan Slot Ameba

Edwin Baker

Mengenal Provider Slot Online Ameba

by Edwin Baker

Ameba Entertainment (AE) adalah sebuah perusahaan yang masih sangat muda namun telah banyak menyediakan berbagai jenis game untuk para gamer. Jangan menganggap remeh perusahaan kami yang masih sangat muda tapi lihatlah berapa banyak anggota tim inti kami yang memiliki pengalaman kerja dibidang industri game lebih dari 10 tahun. 

Keunggulan kami dalam membuat suatu game ialah membuat game dari bawah ke atas, yang dimaksud dengan memulai dari sebuah ide permainan, model matematika permainan, koding permainan, bahkan infrastruktur sebuah jaringan. Tujuan kami adalah agar dapat terus menciptakan jenis permainan slot yang berkualitas bagi para pemain dan dengan waktu yang bersamaan kami juga membuat semua promosi yang akan kami lakukan untuk mempromosikan beberapa merek yang dimiliki oleh pelanggan kami agar mempermudah promosi dengan mudah dan waktu yang efisien, itulah misi kami dari Tim Ameba.

Mengenal Provider Slot Online Ameba

Ameba dirancang untuk permainan slot yang dapat digunakan dengan menggunakan perangkat lunak dengan mudah, jadi para pemain kini dapat bermain ameba secara online dengan menggunakan seluler atau pc yang kini bisa dimainkan kapan saja tanpa ada kendala apapun di agen bola terpercaya

Apakah Provider Slot AMEBA ini Istimewa ?

Semua jenis permainan yang dapat meningkatkan jenis permainan tersebut yang terdiri dari Turnamen Real-Time, Paket Merah dalam kredit atau game gratis. Untuk mendapatkan permainan Ameba maka pemain diwajibkan mendaftarkan diri di situs casino online. Untuk berjalanya sebuah permainan maka dibutuhkan berbagai cara agar membuat para pemain untuk melakukan permainan tersebut, maka taktik yang digunakan dengan memberikan beberapa spin gratis untuk percobaan pertama. 

Untuk pertama kalinya industri game menyediakan integrasi yang menggoyangkan seluler atau handphone di dalam permainan game HTML5. Turnamen Real-Time yang mencapai permain vs pemain dalam sebuah permainan. Ameba pun menyediakan pelayanan pelanggan 1x24jam dan ada tingkat 7x24jam sehingga dapat menjawab semua pertanyaan umum dari pemain hingga masalah teknis yang terjadi pun dapat dijawab dan dibantu oleh sistem pelayanan ini. 

Pengalaman gaming yang lebih baik, dengan ada dukungan dari seluler atau pc yang dapat membuat HTML5 dipergunakan. Untuk ukuran game Ameba hanya sekitar 12 MB dengan kecepatan permainan yang terbuka sekitar 5 sampai 10 menit di bawah jaringan 4G. Dukungan dengan menggunakan mata uang dan bahasa yang bisa digunakan bagi para pemain dengan apa yang dimiliki atau dipergunakan. Jadi semakin sedikit kendala dalam jenis permainan ini. 

Untuk Katalog game Ameba memiliki lebih dari 50 game slot dan rata-rata melibatkan tema Asia, tema Komik, tema Barat dan lain-lain yang semuanya siap dan dapat dimainkan oleh para pemain. Permainan ini sama dengan permainan slot pada umumnya, pasti memiliki kesempatan untuk memiliki keuntungan yang besar dari jumlah taruhan yang dipertaruhkan.

Jadi semakin besar jumlah yang dipertaruhkan maka akan semakin besar pula jumlah kemenangan yang didapat, namun kalian tidak usah ragu jika taruhan dengan jumlah kecil pun akan mempunyai kesempatan mendapatkan keuntungan yang besar juga.

Melihat Isi dalam Provider Slot Ameba

  1. Fitur Permainan
    Dengan fitur permainan yang sangat sederhana maka akan membuat kalian dapat memahami pada saat bermain, kalian dapat mengatur berapa jumlah taruhan yang kalian mainkan pada permainan ini dan dengan menggunakan metode cepat pada setiap taruhan dan pengaturan pada pemutaran otomatis yang dapat memberikan kalian bermain dengan nyaman dan tidak merasa sensasi berbeda dengan permainan slot lainnya. 
  2. Jumlah Taruhan
    Setiap ingin bermain maka pemain diharuskan untuk melakukan taruhan dengan jumlah minimal atau dengan jumlah maksimal. Tapi kami sarankan bagi pemain yang baru mencoba permainan ini untuk melakukan taruhan dengan nominal yang paling minimal agar pada saat bermain terjadi kekalahan maka kekalahan yang didapat tidak banyak. Dengan semakin besar jumlah taruhan yang dilakukan maka semakin besar pula kesempatan kemenangan dengan jumlah besar yang akan didapat.
  3. Interaktif Goyang
    Goyang ?? pasti bagi pemain baru akan bingung dengan kata goyang dalam permainan slot ini. Namun jika kalian mendapatkan kesempatan goyang maka akan mendapatkan keuntungan dengan nominal yang besar. Untuk mendapatkan kesempatan goyang maka pemain harus mendapatkan beberapa kali untuk membuka kunci goyang, nah….setelah dapat membuka kunci untuk bergoyang maka pemain harus menggoyangkan selulernya agar menurunkan hadiah yang didapat namun ada batas waktunya, semakin banyak koin yang didapat atau turun maka akan semakin banyak keuntungan yang didapat. 
  4. Jackpot 

Jackpot terdiri dari 2 level yaitu level Emas dan level Perak, yang dapat dimenangkan dengan melakukan pemutaran slot dan jangan lupa pasang taruhan untuk mendapatkan kesempatan jackpot. Mendapatkan jackpot maka akan mendapatkan bonus yang luar biasa dan jumlah yang didapat dari kemenangan tersebut. Jika mendapatkan jackpot Emas maka jumlah yang didapat lebih besar dengan jackpot perak. 

  1. Kombinasi
    Lain dengan mendapatkan jackpot, jika jackpot harus mendapatkan 5 simbol jackpot dengan waktu yang bersamaan maka untuk ini kalian hanya harus mendapatkan simbol kombinasi. Dengan mendapatkan simbol kombinasi pada saat sekali putaran dan simbol kombinasi harus dengan perhitungan jumlah yang besar, jika kombinasi yang didapat tidak sesuai dengan peraturan permainan ini maka tidak akan mendapatkan jumlah yang besar. 
  2. Sabar dan Tidak Emosi
    Pada saat bermain disarankan untuk sabar dan tetap tenang, jangan terlalu buru-buru pada saat bermain karena jika kalian terburu-buru dan tidak tenang maka  akan membuat fatal pada saat bermain. Disarankan jika sudah mengalami emosi dan tidak bisa menjaga konsentrasi pada saat bermain tindakan yang harus dilakukan ialah logout atau menghentikan permainan. Jika tetap dilakukan dengan emosi maka pemain akan terus bermain hingga tidak memperhitungkan bagaimana mendapatkan kemenangan melainkan akan menghabiskan saldo yang dimiliki. Hal ini disarankan agar tidak terjadi pada saat bermain judi online terutama pada Ameba.
  3. Keadilan
    Dalam jenis game ameba, Gaming Laboratories International telah memberikan sertifikasi untuk setiap mesin slot ini dengan memberi pemain yang memiliki kepercayaan diri untuk melakukan pemutaran gulangan dari awal hingga akhir. Untuk hasil tidak usah khawatir karena semua hasil yang disebutkan telah ditentukan oleh Random Number Generator ( RNG ). 

Cara Bermain Slot Ameba

Apakah kalian tertarik untuk bermain slot Ameba ini ??

Cara bermain dan kemenangan yang didapat lebih besar dari permainan slot lainnya, jadi tidak ada salahnya untuk bergabung dan bermain. Kalian hanya tinggal mendaftarkan diri di situs judi online jagoan88, kami siap melayani kalian dengan senang hati. Kalian setelah melakukan pendaftaran akan mendapatkan ID untuk permainan slot ameba dan permainan lainnya, dan kemudahan melakukan deposit setiap waktu dan withdraw yang mudah…

Semoga dengan kalian membaca ini akan membuat kalian bermain dengan percaya diri dan kemenangan yang akan didapat.

Selamat bermain dan Semoga beruntung…. 

Mengenal Lebih Dalam Suku Kaili dari Sulawesi Tengah

by Edwin Baker

Suku atau orang Kaili oleh sebagian ahli ilmu bangsa-bangsa disebut juga sebagai orang Toraja Barat atau juga Toraja Palu, Toraja Parigi Kaili, Toraja Digi. Mereka berdiam di wilayah Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Yang memiliki jumlah populasinya sekitar 300.000 hingga 350.000 jiwa. Suku bangsa Kaili sebenarnya terdiri dari banyak sekali sub-suku bangsa. Selain itu ada juga diantara kelompok-kelompok mereka yang digolongkan oleh orang luar sebagai masyarakat ‘terasing’, karena jarang sekali berhubungan dengan dunia nya orang luar. Sementara itu Daftar Sbobet kalangan berbagai sub-suku bangsa tersebut terjadi lagi penggolongan menurut wilayah pemukiman dan hubungan kekerabatan. Berikut ini hal-hal yang akan membuat kalian menjadi mengenal suku Kaili. Berikut diantaranya.

Sejarah Suku Kaili

Awal mula adanya suku Kalili. Suku Kaili adalah suku bangsa di Indonesia yang secara turun-temurun tersebar mendiami sebagian besar dari Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu, di seluruh daerah di lembah antara Gunung Gawalise, Gunung Nokilalaki, Kulawi, dan Gunung Raranggonau. Mereka juga menghuni wilayah pantai timur Sulawesi Tengah, meliputi Kabupaten Parigi-Moutong, Kabupaten Tojo-Una Una dan Kabupaten Poso. Masyarakat suku Kaili mendiami kampung/desa di Teluk Tomini yaitu Tinombo,Moutong,Parigi, Sausu, Ampana, Tojo dan Una Una, sedang di Kabupaten Poso mereka mendiami daerah Mapane, Uekuli dan pesisir Pantai Poso.

Untuk menyatakan “orang Kaili” disebut dalam bahasa Kaili dengan menggunakan prefix “To” yaitu To Kaili. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan etimologi dari kata Kaili, salah satunya menyebutkan bahwa kata yang menjadi nama suku Kaili ini berasal dari nama pohon dan buah Kaili yang umumnya tumbuh di hutan-hutan di kawasan daerah ini, terutama di tepi Sungai Palu dan Teluk Palu. Pada zaman dulu, tepi pantai Teluk Palu letaknya menjorok l.k. 34 km dari letak pantai sekarang, yaitu di Kampung Bangga. Sebagai buktinya, di daerah Bobo sampai ke Bangga banyak ditemukan karang dan rerumputan pantai/laut. Bahkan di sana ada sebuah sumur yang airnya pasang pada saat air di laut sedang pasang demikian juga akan surut pada saat air laut surut.

Menurut cerita (tutura), dahulu kala, di tepi pantai dekat Kampung Bangga tumbuh sebatang pohon kaili yang tumbuh menjulang tinggi. Pohon ini menjadi arah atau panduan bagi pelaut atau nelayan yang memasuki Teluk Palu untuk menuju pelabuhan pada saat itu, Bangga. Suku Kaili atau etnik Kaili, merupakan salah satu etnik dengan yang memiliki rumpun etnik sendiri. untuk penyebutannya, suku Kaili disebut etnik kaili, sementara rumpun suku kaili lebih dari 30 rumpun suku, seperti, rumpun kaili rai, rumpun kaili ledo, rumpun kaili ija, rumpun kaili moma, rumpun kaili da’a, rumpun kaili unde, rumpun kaili inde, rumpun kaili tara, rumpun kaili bare’e, rumpun kaili doi, rumpun kaili torai.

Bahasa yang Digunakan Suku Kaili

Suku Kaili mengenal lebih dari dua puluh bahasa yang masih hidup dan dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Uniknya, di antara kampung yang hanya berjarak 2 km kita bisa menemukan bahasa yg berbeda satu dengan lainnya. Namun, suku Kaili memiliki lingua franca, yang dikenal sebagai bahasa Ledo. Kata “Ledo” ini berarti “tidak”. Bahasa Ledo ini dapat digunakan berkomunikasi dengan bahasa-bahasa Kaili lainnya. Bahasa Ledo yang asli (belum dipengaruhi bahasa para pendatang) masih ditemukan di sekitar Raranggonau dan Tompu. Sementara, bahasa Ledo yang dipakai di daerah kota Palu, Biromaru, dan sekitarnya sudah terasimilasi dan terkontaminasi dengan beberapa bahasa para pendatang terutama bahasa Mandar dan bahasa Melayu.

Bahasa-bahasa yang masih dipergunakan dalam percakapan sehari-hari, yaitu bahasa Tara (Tondo, vatu tela,Talise,Lasoani,Poboya,Kavatuna,Sou Loke dan Parigi), bahasa Rai (Tavaili sampai ke Tompe), bahasa Doi (Pantoloan dan Kayumalue); bahasa Unde (Ganti,Banawa,Loli,Dalaka, Limboro,Tovale dan Kabonga), bahasa Ado (Sibalaya, Sibovi,Pandere, bahasa Edo (Pakuli,Tuva), bahasa Ija (Bora, Vatunonju), bahasa Da’a (Porame, Balane, Ujemanje, Rondingo, Pobolobia, Kayumpia, Wayu, Dombu, Jono’oge), bahasa Moma (Kulavi), dan bahasa Bare’e (Tojo, Unauna dan Poso). Semua kata dasar bahasa tersebut berarti “tidak”.

Kehidupan yang Dijalankan Suku Kaili

Mata pencaharian utama masyarakat Kaili adalah bercocok tanam di sawah,di ladang dan menanam kelapa. Disamping itu masyarakat suku Kaili yang tinggal didataran tinggi mereka juga mengambil hasil bumi di hutan seperti rotan,damar dan kemiri, dan beternak. Sedang masyarakat suku Kaili yang di pesisir pantai disamping bertani dan berkebun, mereka juga hidup sebagai nelayan dan berdagang antar pulau ke kalimantan.

Makanan asli suku Kaili pada umumnya adalah nasi, karena sebagian besar tanah dataran di lembah Palu, Parigi sampai ke Poso merupakan daerah persawahan. Kadang pada musim paceklik masyarakat menanam jagung, sehingga sering juga mereka memakan nasi dari beras jagung (campuran beras dan jagung giling). Alat pertanian suku Kaili diantaranya : pajeko (bajak), salaga (sisir), pomanggi (cangkul), pandoli(linggis), Taono(parang); alat penangkap ikan diantaranya: panambe, meka, rompo, jala dan tagau.

Mata Pencaharian Suku Kaili

Mata pencaharian utama masyarakat Kaili adalah bercocok tanam di sawah dan ladang. Tanaman yang biasa mereka tanam adalah padi, jagung dan sayur-sayuran. Selain itu, pada masa sekarang mereka juga bertanam cengkeh, kopi dan kelapa. Dari hutan mereka mengumpulkan kayu hitam, damar, dan rotan yang cukup mahal harganya. Sebagian di antara mereka menangkap ikan di sekitar pantai dan muara sungai. Mereka juga terkenal sebagai penenun kain tradisional yang cukup terkenal, yaitu sarung Donggala.

Kekerabatan, Kekeluargaan Dan Kemasyarakatan Suku Kaili

Masyarakat ini menggunakan sistem hubungan kekerabatan bilateral. Hubungan perjodohan yang menjadi dambaan lama adalah endogami dan kuatnya pengaruh orang tua dalam penentuan jodoh. Walaupun bentuk keluarga batih cukup berfungsi, akan tetapi kelompok kekerabatan yang terutama adalah keluarga luas bilateral yang mereka sebut ntina. Keluarga luas ini diaktifkan terutama dalam setiap upacara daur hidup. Akan tetapi masyarakat ini juga mengenal sistem pewarisan menurut keturunan ibu dan sistem menetap setelah kawin yang uksorilokal sifatnya.

Struktur sosial masyarakat Kaili pada masa dulu terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan pertama adalah maradika, yaitu golongan bangsawan keturunan bekas raja-raja Kaili dari cikal bakal mereka yang dikenal sebagai to manuru, kedua adalah lapisan to guranungata, yaitu keturunan para pembesar bawahan raja-raja zaman dulu, ketiga lapisan to dea, yaitu orang kebanyakan, dan terakhir lapisan batua atau hamba sahaya. Rajanya mereka sebut magau. Dalam pemerintahannya setiap magau biasanya dibantu oleh beberapa orang tokoh, antara lain, madika malolo (raja muda), madika matua (mangkabumi yang mengurus kemakmuran), ponggawa (pemimpin adat perkauman), galara (penyelenggara hukum peradilan adat), tadulako (panglima atau hulubalang pertahanan dan keamanan), pabicara (semacam hakim), sekarang pelapisan sosial seperti ini semakin hilang.

Sejarah Tradisi dari Suku Sasak di Lombok

by Edwin Baker

Suku Sasak berada di sebelah Pulau Bali, Lombok merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer dari Indonesia bagian timur. Selain karena wisata bahari nya yang sangat indah, keaslian tradisi dan budayanya juga cukup menarik untuk kalian telaah lebih dalam lagi. Salah satunya adalah Suku Sasak. Terdiri dari 5 Kabupaten serta kota, yaitu Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah dan juga kota Mataram. Pulau yang satu ini menjadi kampung halaman bagi sekitar 85% penduduk Suku Sasak.

Menurut para penelitian para etnolog yang mengumpulkan hampir semua bahasa di dunia, menggolongkan bahasa Sasak ke dalam rumpun bahasa Austronesia Melayu-Polinesia, juga ada kesamaan ciri dengan rumpun bahasa Sunda-Sulawesi, Bali-Sasak. Bahasa Sasak yang digunakan di Lombok secara dialek dan lingkup kosakatanya dapat digolongkan kedalam beberapa bahasa sesuai dengan wilayah penuturnya. Berikut ini adalah sejarah dan juga tradisi yang ada pada Suku Sasak. Berikut diantaranya.

Struktur dan Sistem Masyarakat Sasak

Suku Sasak pada masa lalu secara sosial-politik, digolongkan dalam dua tingkatan sosial utama, yaitu golongan bangsawan yang disebut perwangsa dan bangsa Sama Atau jajar karang sebagai golongan masyarakat kebanyakan. Golongan perwangsa ini terbagi lagi atas dua tingkatan, yaitu bangsawan tinggi (perwangsa) sebagai penguasa dan bangsawan rendahan (triwangsa). Bangsawan penguasa (perwangsa) umumnya menggunakan gelar datu. Selain itu mereka juga disebut Raden untuk kaum laki-laki dan Denda untuk perempuan. Seorang Raden jika menjadi penguasa maka berhak memakai gelar datu. Perubahan gelar dan pengangkatan seorang bangsawan penguasa itu umumnya dilakukan melalui serangkaian upacara kerajaan. Bangsawan rendahan (triwangsa) biasanya menggunakan gelar lalu untuk para lelakinya dan baiq untuk kaum perempuan. 

Tingkatan terakhir disebut jajar karang atau masyarakat biasa.Panggilan untuk kaum laki-laki di masyarakat umum ini adalah loq dan untuk perempuan adalah le. Golongan bangsawan baik perwangsa dan triwangsa disebut sebagai permenak. Para permenak ini biasanya menguasai sejumlah sumber daya dan juga tanah. Ketika Kerajaan Bali dinanti Karangasem berkuasa di Pulau Lombok, mereka yang disebut permenak kehilangan haknya dan hanya menduduki jabatan pembekal (pejabat pembantu kerajaan). Masyarakat Sasak sangat menghormati golongan permenak baik berdasarkan ikatan tradisi dan atau berdasarkan ikatan kerajaan. Di sejumlah desa, seperti wilayah Praya dan Sakra, terdapat hak tanah perdikan (wilayah pemberian kerajaan yang bebas dari kewajiban pajak).

Setiap penduduk mempunyai kewajiban apati getih, yaitu kewajiban untuk membela wilayahnya dan ikut serta dalam peperangan. Kepada mereka yang berjasa, Kerajaan akan memberikan beberapa imbalan, salah satunya adalah dijadikan wilayah perdikan. Landasan sistem sosial masyarakat dalam kehidupan suku Sasak umumnya mengikuti garis keturunan dari pihak laki-laki (patrilineal). Akan tetapi, dalam beberapa kasus hubungan masyarakat nya terkesan bilateral atau parental (garis keturunan diperhitungkan dari kedua belah pihak; ayah dan ibu).

Pola kekerabatan yang dalam tradisi suku sasak disebut Wiring Kadang ini mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakatnya. Unsur-unsur kekerabatan ini meliputi Kakek, Ayah, Paman (saudara laki-laki ayah), Sepupu (anak lelaki saudara lelaki ayah), dan anak-anak mereka. Wiring Kadang juga mengatur tanggung jawab mereka terhadap masalah-masalah keluarga; pernikahan, masalah warisan dan hak-kewajiban mereka. Harta warisan disebut pustaka dapat berbentuk tanah, rumah, dan juga benda-benda lainnya yang merupakan peninggalan leluhur. Orang-orang Bali memiliki pola kekerabatan yang hampir sama disebut purusa dengan harta waris yang disebut pusaka.

Sejarah Suku Sasak

Pulau Lombok sejatinya adalah kampung halaman dari Suku Sasak. Ini karena penduduk Sasak sudah menghuni pulau ini selama berabad-abad, yaitu sejak 4.000 sebelum Masehi. Secara etimologi, banyak anggapan bahwa nama Sasak berasal dari kata “sak-sak” yang artinya satu atau utama. Hal ini berhubungan dengan kitab Negarakertagama oleh Mpu Prapanca yang berisi catatan kekuasaan Majapahit di abad ke-14. Di dalam kitab tersebut, terdapat ungkapan “Lombok Sasak Mirah Adi” yang diartikan sebagai “kejujuran adalah permata yang utama”. Itu sebabnya, banyak yang meyakini bahwa leluhur dari Suku Sasak adalah orang-orang Jawa.

Nah, kalian pasti pernah mendengar sebutan lain Pulau Lombok yaitu Pulau Seribu Masjid, kan? Nama lain ini didapat karena sebagian besar masyarakat Suku Sasak merupakan pemeluk agama Islam. Sehingga, hampir di tiap sudut, kalian akan menemukan banyak bangunan Masjid beserta menaranya. Meski begitu, tak sedikit pula orang-orang Sasak yang menganut kepercayaan Boda, yaitu menyembah roh-roh leluhur mereka dengan cara yang unik.

Tradisi dan Budaya Suku Sasak

Memiliki bangunan rumah yang terbuat dari tanah liat bercampur kotoran kerbau, Suku Sasak merupakan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi para leluhurnya. Salah satu yang paling terlihat jelas adalah saat dilaksanakannya prosesi pernikahan. Di Lombok istilah kawin lari sudah bukan hal yang tabu. Justru, inilah keunikan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Suku Sasak.

Di tradisi ini, pihak pria akan “membawa kabur” sang calon istri kemudian menyembunyikannya tanpa diketahui oleh orang tua wanita. Pelarian ini biasanya berlangsung selama 3 hari. Setelahnya, orang tua sang calon istri akan “menebus” dan kemudian membicarakan kelanjutan hubungan tersebut menuju ke jenjang yang lebih serius. Uniknya lagi, di dusun ini pun masih sering terjadi pernikahan antar saudara dan tak dianggap aneh. Menarik, ya?

Memiliki bangunan rumah yang terbuat dari tanah liat bercampur kotoran kerbau, Suku Sasak merupakan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi para leluhurnya. Salah satu yang paling terlihat jelas adalah saat dilaksanakannya prosesi pernikahan. Di Lombok istilah kawin lari sudah bukan hal yang tabu. Justru, inilah keunikan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Suku Sasak.

Di tradisi ini, pihak pria akan “membawa kabur” sang calon istri kemudian menyembunyikannya tanpa diketahui oleh orang tua wanita. Pelarian ini biasanya berlangsung selama 3 hari. Setelahnya, orang tua sang calon istri akan “menebus” dan kemudian membicarakan kelanjutan hubungan tersebut menuju ke jenjang yang lebih serius. Uniknya lagi, di dusun ini pun masih sering terjadi pernikahan antar saudara dan tak dianggap aneh. Menarik, ya?

Tradisi Seni Suku Sasak

Dari sejarahnya yang panjang, Suku Sasak bisa saja diidentifikasikan sebagai budaya yang banyak mendapat pengaruh dari Jawa dan Bali. Pun sejarah mencatatnya demikian, kenyataannya kebudayaan Suku Sasak memiliki corak dan ciri budaya yang khas, asli dan sangat mapan hingga berbeda dengan budaya suku-suku lainnya di Nusantara. Kini, Sasak bahkan dikenal bukan hanya sebagai kelompok masyarakat tapi juga merupakan entitas budaya yang melambangkan kekayaan tradisi Bangsa Indonesia di mata dunia. Berikut beberapa seni dan tradisi yang cukup terkenal dari suku Sasak:

  • Bau Nyale

Nyale adalah sejenis binatang laut, termasuk jenis cacing (annelida) yang berkembang biak dengan bertelur. Dalam alam kepercayaan Suku Sasak, Nyale Bukan sekedar binatang, beberapa legenda dari Suku ini yang menceritakan tentang putri yang menjelma menjadi Nyale. Lainnya menyatakan bahwa Nyale adalah binatang anugerah, bahkan keberadaannya dihubungkan dengan kesuburan dan keselamatan.

Ritual Bau Nyale atau menangkap nyale digelar setahun sekali. Biasanya pada tanggal 19 atau 20 pada bulan ke-10 atau ke-11 menurut perhitungan tahun suku Sasak, kurang lebih berkisar antara bulan Februari atau Maret.

  • Rebo Bontong

Suku Sasak percaya bahwa hari Rebo Bontong merupakan hari puncak terjadi bencana dan atau penyakit (Bala) sehingga bagi mereka sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo Bontong. Kata Rebo dan juga Bontong kurang lebih artinya “putus” atau “pemutus”.

Upacara Rebo Bontong dimaksudkan untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Upacara ini digelar setahun sekali yaitu pada hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.

Mengetahui Asal Usul dari Suku Banjar

by Edwin Baker

Suku bangsa Banjar diduga bermula dari penduduk asal Sumatera atau juga daerah sekitarnya, hal ini dibangun di tanah air yang berada di kawasan ini sudah lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalunya masa yang lama sekali, akhirnya suku tersebut bercampur dengan penduduk asli, yang bisa dinamakan dengan suku Dayak, dan dengan adanya imigran-imigran yang mulai berdatangan terbentuklah setidaknya ada beberapa sub suku yaitu suku Banjar (pahuluan), Banjar (Batang Banyu) dan Banjar (Kuala). Orang dari Pahuluan pada asasnya adalah penduduk dari daerah lembah-lembah dari sungai (Cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegununungan Meratus, orang dari Batang Banyu yang mendalami lembah sungai Negara, sedangkan untuk orang Banjar (Kuala) yang mendalami bola tangkasnet sekitaran Banjarmasin dan juga Martapura.

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya. Di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa. Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut tampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Sejarah Suku Banjar

Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yang merupakan pembauran masyarakat DAS DAS Bahan, DAS Barito, DAS Martapura dan DAS Tabanio. Sungai Barito bagian hilir merupakan pusatnya suku Banjar. Kemunculan suku Banjar bukan hanya sebagai konsep etnis tetapi juga konsep politis, sosiologis, dan agamis. Menurut Hikayat Banjar, dahulu kala penduduk pribumi Kalimantan Selatan belum terikat dengan satu kekuatan politik dan masing-masing puak masih menyebut dirinya berdasarkan asal Daerah Aliran Sungai misalnya orang batang Alai, orang batang Amandit, orang batang Tabalong, orang batang Balangan, orang batang Labuan Amas, dan sebagainya. Sebuah entitas politik yang bernama Negara Dipa terbentuk yang mempersatukan puak-puak yang mendiami semua daerah aliran sungai tersebut. Negara Dipa kemudian digantikan oleh Negara Daha. Semua penduduk Kalsel saat itu merupakan warga Kerajaan Negara Daha, sampai ketika seorang Pangeran dari Negara Daha mendirikan sebuah kerajaan di muara Sungai Barito yaitu Kesultanan Banjar. Dari sanalah nama Banjar berasal, yaitu dari nama Kampung Banjar yang terletak di muara Sungai Kuin, di tepi kanan sungai Barito.

Mitologi suku Dayak Meratus (Suku Bukit) menyatakan bahwa Suku Banjar (terutama Banjar Pahuluan) dan Suku Bukit merupakan keturunan dari dua kakak beradik yaitu Si Ayuh/Dayung Ayuh/Dayuhan/Sandayuhan yang menurunkan suku Bukit dan Ambang Siwara/Ambang Basiwara yang menurunkan suku Banjar. Sesuai dengan statusnya sebagai nenek-moyang atau cikal-bakal orang Dayak Meratus, maka nama Sandayuhan sangat populer di kalangan orang Dayak Meratus. Banyak sekali tempat-tempat di seantero pegunungan Meratus yang sejarah keberadaannya diceritakan berasal-usul dari aksi heroik Sandayuhan. Salah satu di antaranya adalah tebing batu berkepala tujuh, yang konon adalah penjelmaan dari Samali’ing, setan berkepala tujuh yang berhasil dikalahkannya dalam suatu kontak fisik yang sangat menentukan. Suku bangsa Banjar terbentuk dari suku-suku Bukit, Maanyan, Lawangan dan Ngaju yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu yang berkembang sejak zaman Sriwijaya dan kebudayaan Jawa pada zaman Majapahit, dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar. Suku bangsa Banjar terbagi menjadi tiga subsuku, yaitu.

  • (Banjar) Pahuluan : Banjar Pahuluan pada asasnya adalah penduduk dari daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Nagara) yang berhulu di pegunungan Meratus.
  • (Banjar) Batang Bayu : Batang Banyu mendalami lembah sungai Negara.
  • Banjar (Kuala) : Sedangkan untuk orang Banjar Kuala mendalami sekitaran Banjarmasin dan juga Martapura. Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang juga terbagi menjadi dua dialek besar yaitu Banjar Hulu dan Banjar Kuala. Nama banjar ini diperoleh karena mereka ini pada dahulu (sebelum kesultanan Banjar dihapuskan pada tahun 1860) adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau kalau disingkat menjadi Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman (terakhir di Martapura), nama tersebut tampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Kebudayaan 

Kehidupan orang Banjar terutama kelompok Banjar Kuala dan Batang Banyu lekat dengan budaya sungai. Sebagai sarana transportasi, orang Banjar mengembangkan beragam jukung (perahu) sesuai dengan fungsinya yakni Jukung Pahumaan, Jukung Paiwakan, Jukung Peramuan, Jukung Palambakan, Jukung Pambarasan, Jukung Gumbili, Jukung Pamasiran, Jukung Beca Banyu, Jukung Getek, Jukung Palanjaan, Jukung Rombong, Jukung/Perahu Tambangan, Jukung Undaan, Jukung Tiung dan lain-lain. Kondisi geografis Kalimantan Selatan yang banyak memiliki sungai dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh orang Banjar, sehingga salah satu keahlian orang Banjar adalah mengolah lahan pasang surut menjadi kawasan budi daya pertanian dan permukiman. Sistem irigasi khas orang Banjar yang dikembangkan masyarakat Banjar mengenal tiga macam kanal. Pertama, Anjir (ada juga yang menyebutnya Antasan) yakni semacam saluran primer yang menghubungkan antara dua sungai. Anjir berfungsi untuk kepentingan umum dengan titik berat sebagai sistem irigasi pertanian dan sarana transportasi. Kedua, Handil (ada juga yang menyebut Tatah) yakni semacam saluran yang muaranya di sungai atau di Anjir. Handil dibuat untuk menyalurkan air ke lahan pertanian daerah daratan. Handil ukurannya lebih kecil dari Anjir dan merupakan milik kelompok atau bubuhan tertentu. Ketiga, Saka merupakan saluran tersier untuk menyalurkan air yang biasanya diambil dari Handil. Saluran ini berukuran lebih kecil dari Handil dan merupakan milik keluarga atau pribadi.

  • Rumah Banjar

Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris. Rumah tradisional Banjar adalah tipe-tipe rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari sekian banyak jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan Tinggi merupakan jenis rumah Banjar yang paling dikenal dan menjadi identitas rumah adat suku Banjar.

  • Tradisi lisan 

Tradisi lisan oleh Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu, Arab, dan Cina. Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang sekitar abad ke-18 yang di antaranya adalah Madihin dan Lamut. Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah yang artinya pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut berasal dari negeri Cina dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa. Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar.

  • Teater

Seni teater tradisional yang berkembang di pulau Kalimantan adalah Mamanda. Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.

Budaya dan Ritual yang Dilakukan Suku Sunda

by Edwin Baker

Sebagai orang yang tinggal di Jawa Barat adalah dari Suku Sunda. Selain itu juga, ada campuran dari Sunda dengan Jawa di Pantai Utara Cirebon serta di pesisir Indramayu. Mata pencaharian dari orang Jawa Barat yang paling utama adalah petani. bertani nya orang sana pun juga bermacam macam tidak hanya menanam beras saja. Ada yang bertani sayur-sayuran ada yang padi, ada yang bertani buah-buahan dan juga menanam bunga. Selain itu juga ada banyak yang terdapat perkebunan teh, cengkih, tebu, dan kina. Kebudayaan dari masyarakat Jawa Barat juga memiliki beragam agama yaitu Islam, Hindu, Budha, Jawa dan juga kebudayaan Barat. Hal ini dapat kita lihat dari upacara yang juga disertai dengan membakar kemenyan hal ini yang dilakukan oleh agama Hindu, melakukan doa-doa menurut agama Islam, menggunakan pakaian tanpa baju dan juga memiliki bentuk wayang orang yang sama dengan Jawa Tengah, memberikan kado dan juga adanya prasmanan model Belanda.

Banyak yang harus kita pelajari dari kebudayaan yang ada di Jawa Barat. Jika kita merasa bahwa Budaya Jawa Barat merupakan bagian dari negara Indonesia, tidak ada salahnya mengenal Kebudayaan Jawa Barat. Provinsi jawa barat memiliki filosofi yang patut diacungi jempol, diantaranya adalah Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh. Ketiga filosofi tersebut merupakan filsafat hidup yang dipegang penduduk asli Jawa barat. Dan kebudayaan Jawa Barat lebih kita kenal sebagai Sunda yang beribu kota di Bandung. Maksud dan arti filosofi tersebut adalah menimbulkan sifat dan sikap untuk untuk saling mengasuh , saling mengasihi dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama. Masyarakat Jawa Barat memiliki keluhuran akal budi yang dilandasi oleh filsafat tersebut. Agak berbeda dengan kebudayaan masyarakat lain di Nusantara, Masyarakat jawa barat yang berbahasa sunda sangat dipengaruhi budaya yang berakar pada nilai-nilai yang berasal dari tradisi masyarakat setempat. Dan dalam interaksi sosial, masyarakat di di jawa barat menganut falsafah seperti yang sudah disebutkan tadi. Rasa persaudaraan menciptakan keakraban masyarakat Sunda dengan lingkungan sehingga tampak dari bagaimana masyarakat Jawa Barat, khususnya yang tinggal di pedesaan, mereka memelihara kelestarian lingkungan dengan cara penuh kerja sama dengan warga setempat. Sehingga di provinsi Jawa Barat ini banyak muncul masyarakat yang atas inisiatifnya sendiri dapat memelihara lingkungan alam mereka.

Dalam kehidupan beragama, masyarakat di jawa barat relatif dikenal sebagai masyarakat yang sangat agamis dan religius, dan memegang teguh nilai-nilai agama yang dianut diyakini yakni agama Islam. Sebagian besar penduduk jawa barat memeluk agama islam, disusul Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Budha, dan lainnya. Sebagian besar budaya Jawa Barat didominasi suku Sunda dan adat tradisionalnya yang penuh khazanah Bumi Pasundan menjadi cermin kebudayaan di jawa barat. Untuk melestarikan budaya Jawa Barat, pemerintah daerah menetapkan 12 desa budaya, yakni desa khas yang ditata untuk kepentingan melestarikan budaya dalam bentuk adat atau rumah adat.

Macam-macam Seni dan Budaya dari Masyarakat Sunda

Pakaian Adat Khas Jawa Barat

Suku sunda mempunyai pakaian adat/tradisional yang sangat terkenal, yaitu kebaya. Kebaya merupakan pakaian khas Jawa Barat yang sangat terkenal, sehingga kini kebaya bukan hanya menjadi pakaian khas sunda saja tetapi sudah menjadi pakaian adat nasional. Itu merupakan suatu bukti bahwa kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional.

Kesenian Khas Jawa Barat

  • Wayang Golek

Wayang Golek merupakan kesenian tradisional dari Jawa Barat yaitu kesenian yang menapilkan dan membawakan alur sebuah cerita yang bersejarah. Wayang Golek ini menampilkan golek yaitu semacam boneka yang terbuat dari kayu yang memerankan tokoh tertentu dalam cerita pewayangan serta dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang disebut dengan degung.

  • Jaipong

Jaipong merupakan tarian tradisional dari Jawa Barat, yang biasanya menampilkan penari dengan menggunakan pakaian khas Jawa Barat yang disebut kebaya, serta diiringi musik tradisional Jawa Barat yang disebut Musik Jaipong. Jaipong ini biasanya dimainkan oleh satu orang atau sekelompok penari yang menarikan gerakan – gerakan khas tari jaipong.

  • Degung

Degung merupakan sebuah kesenian sunda yang biasanya dimainkan pada acara hajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring/pengantar. Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Barat yaitu, kendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, rebab, dan sebagainya. Degung merupakan salah-satu kesenian yang paling populer di Jawa Barat, karena iringan musik degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional, selain itu musik degung juga digunakan sebagai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya.

  • Rampak Gendang

Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Rampak Gendang ini adalah permainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan menggunakan irama tertentu serta menggunakan cara-cara tertentu untuk melakukannya, pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah mempunyai keahlian khusus dalam menabuh gendang. Biasanya rampak gendang ini diadakan pada acara pesta atau pada acara ritual.

  • Calung

Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Calung, calung ini adalah kesenian yang dibawakan dengan cara memukul/mengetuk bambu yang telah dipotong dan dibentuk sedemikian rupa dengan pemukul/kentongan kecil sehingga menghasilkan nada-nada yang khas. Biasanya calung ini ditampilkan dengan dibawakan oleh 5 orang atau lebih. Calung ini biasanya digunakan sebagai pengiring nyanyian sunda atau pengiring dalam lawakan.

  • Pencak Silat

Pencak silat merupakan kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yang kini sudah menjadi kesenian Nasional. Pada awalnya pencak Silat ini merupakan tarian yang menggunakan gerakan tertentu yang gerakannya itu mirip dengan gerakan bela diri. Pada umumnya pencak silat ini dibawakan oleh dua orang atau lebih, dengan memakai pakaian yang serba hitam, menggunakan ikat pinggang dari bahan kain yang diikatkan di pinggang, serta memakai ikat kepala dari bahan kain yang orang sunda menyebutnya Iket. Pada umumnya kesenian pencak silat ini ditampilkan dengan diiringi oleh musik yang disebut kendang penca, yaitu musik pengiring yang alat musiknya menggunakan gendang dan terompet.

  • Sisingaan

Sisingaan merupakan kesenian yang berasal dari daerah Subang Jawa barat. Kesenian ini ditampilkan dengan cara menggotong patung yang berbentuk seperti singa yang ditunggangi oleh anak kecil dan digotong oleh empat orang serta diiringi oleh tabuhan gendang dan terompet. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada acara peringatan hari-hari bersejarah.

  • Kuda Lumping

Kuda Lumping merupakan kesenian yang beda dari yang lain, karena dimainkan dengan cara mengundang roh halus sehingga orang yang akan memainkannya seperti kesurupan. Kesenian ini dimainkan dengan cara orang yang sudah kesurupan itu menunggangi kayu yang dibentuk seperti kuda serta diiringi dengan tabuhan gendang dan terompet. Keanehan kesenian ini adalah orang yang memerankannya akan mampu memakan kaca serta rumput. Selain itu orang yang memerankannya akan dicambuk seperti halnya mencambuk kuda. Biasanya kesenian ini dipimpin oleh seorang pawang. Kesenian ini merupakan kesenian yang dalam memainkannya membutuhkan keahlian yang sangat khusus, karena merupakan kesenian yang cukup berbahaya.

Mengenal Suku Baduy yang Ada di Pedalaman Banten

by Edwin Baker

Yang kalian rasakan adalah dengan berada di tengah kepungan hutan beton yang diisi dengan berbagai jenis mall dan dengan beragam diskon serta ada banyaknya apartemen dengan harga selangit, terkadang orang banten bagian kotanya masih melihat warga Suku Baduy yang akan melintas di pinggir jalan, tidak menggunakan alas kaki, hanya mengenakan baju kain yang sederhana, berikut dengan ikat yang ada di kepalanya. Kalau kalian bertanya kepada mereka, mereka akan menjawab ingin menjual madu atau sekedar ingin mengunjungi saudara yang ada di kota. Orang Baduy sendiri menyebut diri mereka dengan kata Urang Kanekes atau Orang Kanekes. Kata ‘baduy’ itu merupakan sebutan dari peneliti yang berasal dari Belanda, hal ini mengacu pada kesamaan mereka dengan sekelompok Arab Badawi yang sangat gemar untuk berpindah-pindah. Suku Baduy ini tinggal tepat pada kaki pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Pemukiman mereka memiliki jarak sekitar 40 km dari Rangkasbitung, pusat kota yang ada di Lebak, Banten.

Warga Baduy Dangka ini sudah tinggal di luar tanah adat mereka. Mereka tidak lagi terikat oleh aturan yang ada atau pada slot mpo terbaik kepercayaan animisme Sunda Wiwitan yang dijunjung tinggi oleh Suku Baduy. Orang suku baduy  juga sudah mengenyam pendidikan dan sudah paham dengan teknologi yang sekarang ini. Lalu warga suku Baduy Luar itu merupakan orang yang tinggal di dalam tanah adat mereka. Mereka ini masih menjunjung tinggi kepercayaan Sunda Wiwitan.

Di tengah kehidupan yang dijalani masih tradisional ini, mereka sudah mulai mempelajari pendidikan dan sudah paham dengan teknologi sekarang ini. Ciri khas dari mereka ini akan terlihat dari pakaian yang mereka gunakan yaitu serba hitam dan menggunakan ikat kepala berwarna biru.

Yang terakhir ini merupakan warga dari suku Baduy Dalam atau Baduy Jero. Mereka ini tinggal di pelosok tanah adat. Pakaian yang mereka kenakan itu warnanya serba putih.

Kepercayaan yang mereka anut itu adalah Sunda Wiwitan dan hal ini masih sangat kental di suku Baduy Dalam. Warga yang berada di sini juga dianggap memiliki sebuah kedekatan dengan leluhur. Mereka dari suku baduy dalam tidak mengenyam pendidikan, bahkan tidak menggunakan teknologi, bahkan suku baduy dalam ini tidak beralas kaki, karena mereka hidup apa adanya agar terasa sebagai bagaimana cara mereka untuk tetap dekat dengan Yang Maha Esa.

Eksistensi suku Baduy Dalam yang dilindungi oleh Baduy Dangka dan juga Baduy Luar. Kedua ini memiliki lapisan yang bertugas untuk menyaring berita informasi yang dari dunia luar, sehingga adat istiadat pada Suku Baduy akan tetap terjaga. Jika warga Baduy Dangka ini memiliki banyak yang membuka usaha jasa sebuah pemandu wisata, pada tempat makan, dan penjual oleh-oleh lainnya, maka berbeda dengan warga Baduy Luar dan juga pasti berbeda dengan Baduy Dalam yang masih banyak yang beternak dan juga yang bertani.

Persawahan yang ada di Desa Kanekes ini masih sangat terjaga keasriannya, meskipun sekarang ini sudah semakin banyak pabrik yang dibangun di Rangkasbitung. Hasil dari pertanian mereka biasanya akan dijual di Pasar Kroya, dan Pasar Cibengkung, dan juga Ciboleger.

Pemerintah Suku Baduy

Pada Suku Baduy ini mengenal dua sistem pemerintahan yang ada di sana, yaitu dengan sistem nasional, yang akan mengikuti aturan yang ada di negara Indonesia, dan juga pada sistem adat yang diharuskan mengikuti adat istiadat yang dipercaya oleh masyarakat dari suku baduy.

Kedua sistem tersebut akan digabung atau akan diakulturasikan sedemikian rupa sehingga dalam hal ini tidak terjadi benturan. Secara nasional, warga akan dipimpin oleh kepala desa suku baduy yang disebut sebagai jaro pamarentah pada suku, yang pasti ada di bawah camat, sedangkan untuk secara adatnya itu akan tunduk pada pimpinan adat yang paling tertinggi, yaitu pu’un.

Jabatan pada pu’un ini akan berlangsung secara turun-temurun, namun tidak akan secara otomatis turun dari bapak ke anaknya, melainkan dapat juga dari kerabat lainnya yang masih satu darah dengan pu’un.

Jangka waktu jabatan pada pu’un tidak akan ditentukan, hanya berdasarkan dari pada kemampuan seseorang yang saat itu memegang jabatan tersebut. Sebagai ada tanda kepatuhan yang ada kepada penguasa, Suku Baduy akan secara rutin melaksanakan sebuah tradisi Seba ke Kesultanan Banten.

Hingga sampai sekarang ini, upacara seba tersebut akan terus dilangsungkan setiap setahun sekali, berupa memberikan hantaran hasil bumi misalnya itu seperti padi, palawija, dan juga buah-buahan kepada Gubernur Banten yang sebelumnya itu ke Gubernur Jawa Barat, melalui Bupati Kabupaten Lebak.

Kepercayaan Suku Baduy

Menurut dari beberapa orang yang mengetahui bahwa kepercayaan yang mereka anut itu, Suku Baduy juga mengakui bahwa keturunan dari Batara Cikal, itu salah satu dari ketujuh dewa yang diutus untuk ke bumi.

Pada asal usul tersebut sering pula dikaitkan dan juga dihubungkan dengan Nabi Adam AS sebagai nenek moyang yang pertama untuk suku mereka.

Adam dan keturunannya lah, yang termasuk Suku Baduy, mempunyai sebuah tugas untuk bertapa demi menjaga harmoni yang ada di dunia.

Oleh sebab itu Suku Baduy ini sangat menjaga kelestarian pada lingkungannya agar memiliki sebuah upaya menjaga keseimbangan pada alam semesta. Tak ada eksploitasi air dan tanah yang sangat berlebihan bagi mereka. Kata cukup adalah batasan yang mereka jalani.

Objek kepercayaan itu terpenting bagi Suku Baduy adalah dengan Arca Domas, yang memiliki lokasinya dirahasiakan dan juga dianggap yang paling sakral.

Suku Baduy akan mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan sebuah pemujaan pada setahun sekali pada bulan yang kelima, yang dimulai pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli.

Hanya pu’un lah (ketua adat yang tertinggi) dan ada beberapa anggota dari masyarakat yang sudah terpilih saja yang dapat mengikuti rombongan pada pemujaan tersebut.

Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat sebuah batu lumpang yang untuk menyimpan air hujan. Dalam hal ini apabila pada saat pemujaan tersebut ditemukan batu lumpang itu ada dalam keadaan penuh dengan air yang jernih, itu merupakan sebuah pertanda bahwa hujan yang terjadi pada tahun tersebut akan sangat banyak turun, dan panen yang dilakukan oleh orang suku baduy akan berhasil dengan baik.

Jika sebaliknya, apabila batu lumpang itu kering atau memiliki berair yang keruh, maka ini adalah sebuah pertanda bahwa akan ada kegagalan panen.

Aturan Berkunjung ke Desa Kanekes Suku Baduy

Aturan untuk kalian yang ingin berkunjung ke suku baduy adalah yang paling utama kalian harus menjaga kelestarian alam yang ada di sekitar suku baduy, dengan cara tidak membuang sampah dengan sembarang, menggunakan barang-barang dalam kemasan yang hanya digunakan sekali pakai saja, dan kalian harus menggunakan pasta gigi dan sabun pada saat kalian di sungai. Aturan yang lain itu tergantung dari wilayah yang akan didatangi oleh kalian, Baduy Luar atau Baduy Dalam.

Karena Suku Baduy memiliki sebuah konsep untuk menjauh dari hal yang berbau-bau duniawi, sebaiknya kalian datang dengan pakaian yang tertutup serta kalian harus melupakan gadget yang dibawa, seperti telepon genggam yang kalian miliki atau bisa juga kamera. Warga Baduy Dalam ini juga dikenal tidak suka dipotret.

Sejarahnya suku Tidung yang Ada di Indonesia

by Edwin Baker

Suku Tidung  dari Kalimantan Utara pada  belakangan ini menjadi sebuah perbincangan yang sangat hangat setelah salah satu pakaian adatnya dari suku tidung ini tampil dalam uang yang baru pada pecahan Rp 75.000 mulai menuai polemik karena sangat mirip dengan bangsa China. Suku Tidung ini merupakan sub-etnis Dayak yang memiliki mata yang sipit, namun suku tidung ini bukan dari China. Yang perlu kalian ketahui tidak selalu yang bermata sipit adalah China, ada banyak suku bangsa di Indonesia yang nyatanya itu memiliki mata yang sipit.

Suku Tidung ini adalah sub-etnis dari Suku Dayak Murut yang ada di Indonesia, salah satu dari tujuh suku yang besar yang mendiami di wilayah utara Kalimantan bagian timur. Ada sekiranya enam suku lainnya yaitu, ada suku Ngaju, suku Apo Kayan, suku Iban, suku Klemantan, suku Punan, serta ada suku Ot Danum. Suku Tidung ini sendiri pun masih terbagi lagi dalam sepuluh suku lainnya. Suku tidung ini bermukim di kawasan pesisir yang ada di utara dan menganut agama Islam.

Kata tidung itu dalam Suku Tidung berasal dari kata tiding atau bisa juga tideng yang yang memiliki arti bukit atau bisa juga dengan gunung. Hal ini yang menggambarkan bahwa kelompok pada suku tidung ini berasal dari daerah pegunungan yang ada di pulau Kalimantan di sebelah timur laut. Suku Tidung ini memiliki pergerakan yang sangat dinamis, berpindah-pindah dari pedalaman yang ada di Kalimantan di Kabupaten Tanah Tidung hingga berpindah lagi ke Malaysia, Malinau, mendekati pantai di Nunukan, Tarakan, dan Berau.

Sifat yang dimiliki oleh suku tidung adalah dinamis dan dari Suku Tidung inilah yang membuat mereka mendapatkan banyak sekali pengaruh dari luar disana, yang paling terutama dari pelaut dan juga pedagang muslim. Sehingga kini sudah hampir sebagian besar dari masyarakat Suku Tidung ini yang menganut agama Islam. Hal ini sudah jelas sangat kontras dan sangat berbeda dengan Suku Dayak lainnya yang ada di Kalimantan Utara yang sebagian besar dari suku tersebut adalah menganut agama Kristen.

Bagian dari Suku Dayak

Sebenarnya jika kalian ketahui bahwa mata sipit yang dimiliki dari masyarakat Suku Tidung itu sudah diturunkan oleh leluhur mereka yang saat itu berasal dari Suku Dayak. Suku Tidung ini sudah lama sekali meninggalkan tanah kelahirannya yang berada di suku Dayak juga sejak 100 tahun yang lalu mereka meninggal kan suku Dayak melalui Sungai Sesayap atau bisa dikatakan dengan Sungai Malinau setelah itu suku tidung pergi ke daerah hilir, kemudian setelah mendiami daerah yang ada di pesisir yang ada di timur Kalimantan dan kemudian mulai ke pulau-pulau kecil lainnya untuk mereka jajaki. Mereka ini memulai hidupnya sebagai nelayan dan juga mereka mulai menjalin sebuah hubungan dengan para pelaut yang ada saat itu dan juga dengan para pedagang muslim yang ada saat itu.

Oleh karena itu, ada banyak sekali cerita dari tutur yang terputus dan tidak selesai hingga saat ini. Salah satunya itu adalah pada Suku Tidung ini tidak memiliki sebuah mitos atau bisa dikatakan tidak memiliki mits seperti kebanyakan suku-suku yang ada di Indonesia atau bahkan suku tidung ini tidak memiliki legenda yang berkaitan langsung dengan asal-usulnya nenek moyangnya dari suku Dayak sebagaimana yang ada pada masyarakat Dayak atau bahkan setiap suku memilikinya hanya suku tidunglah yang tidak memiliki ceria asal usul dari nenek moyang nya. Meskipun demikian, masih ada sisa dari tradisi pra-Islam yang masih tersisa yang ada pada masyarakat Tidung hal ini lah yang menjadi bukti antara hubungan kekerabatan dengan suku Dayak.

Meskipun suku tidung telah menganut agama Islam, masyarakat yang ada di suku tidung ini sangat percaya pada roh leluhur sama seperti halnya Suku Dayak yang juga mempercayai roh leluhur. Sebagian dari suku tidung ini masih melakukan ritual yang berkaitan dengan tradisi nenek moyangnya, yang terutama dalam memaknai sebuah tempat-tempat keramat. Pada kepercayaan terhadap roh leluhur akan menjadi konsep megalitik yang masih dikenal oleh Suku Tidung hingga saat ini.

Ada beberapa ritual kuno yang masih sering kali dilakukan oleh Suku Tidung yaitu untuk pemanggilan arwah di Batu Lumampu, membayarkan nazar di Batu Lumampu dan juga pada Batu Kelangkang, serta memiliki prosesi pengobatan Badewa oleh tokoh-tokoh adat yang ada. Tradisi yang masih berlangsung hingga saat ini akan menunjukkan bahwa Suku Tidung pada zaman dahulu memiliki kepercayaan yang sama juga dengan Suku Dayak Agabag, Tahol, dan Tenggalan di wilayah Kalimantan.

Pernah Menjadi Sebuah Kesultanan

Sejarah pada Suku Tidung Tarakan ini berkaitan sangat erat dengan Kesultanan yang ada pada Bulungan besar yang saat itu pernah berdiri di daerah utaranya Kalimantan. Pada kesultanan uang ini lahir dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat dari Suku Tidung. Secara formal, agama Islam hadir pada saat Kesultanan Bulungan itu mulai berdiri. Hal ini lah yang ditandai dengan datangnya seorang ulama Arab yang saat itu dari Demak, bernama Said Abdurrahman Bil Faqih yang melakukan pembelajaran islamisasi pada masyarakat Tidung ini.

Pada hal ini dapat dilihat dari ada makam dari penyebar agama, yaitu Said Ahmad Maghribi yang berada di Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Makam itu letaknya di lereng tebing, yang ada di sebelah barat pada aliran Sungai Pimping yang bermuara di Teluk Sekatak. Berdasarkan angka tahun yang tertulis di dalam nisan tersebut, diketahui bahwa ulama ini sudah meninggal sejak tahun 1832 M.

Setelah Indonesia mulai merdeka, Kesultanan yang ada di Bulungan mendapatkan status sebagai daerah yang swapraja atau daerah yang istimewa dalam level yang setara dengan kabupaten otonom. Pada keluarga kesultanan sangat berperan aktif di pemerintahan. Hingga pada akhir di tahun 1950-an hingga tahun 1964, Bulungan telah berubah menjadi kabupaten. Namun kursi pada bupati masih diberikan kepada trah kesultanan.

Hak-hak yang istimewa pada Kesultanan Bulungan terhadap wilayah warisan dari leluhur telah hilang sepenuhnya pada tahun 1964-1965, saat itu dicabut oleh Pemerintah Pusat melalui sebuah proses yang tidak bisa dianggap dengan cara damai. Konon katanya hal ini melibatkan propaganda pada pihak komunis yang menunggangi isu dari landreform yang saat itu diamanatkan UU Agraria 1960. Kesultanan Bulungan saat itu dituduh tidak mendukung politik yang ada konfrontasi Dwikora terhadap Malaysia, bahkan hal ini memainkan mata untuk bisnis yang dilakukannya.

Kedatangan Islam

Menurut seseorang yang bernama Nugroho, suku tidung ini selain sebagai sebuah suku, nama pada Tidung juga menunjukkan kepada sebuah kerajaan yang sangat kental dengan nuansa keislaman yang ada. Ada makam Maharaja Dina I berada di Desa Sesayap, Kecacatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tanah Tidung dan makam tokoh yang sangat dihormati seperti Datuk Bendahara dan Datuk Mandul yang ada di Kecacatan Tanah Liar, Pulau Mandul, Kabupaten Tanah Tidung, hal ini menandakan bahwa kawasan ini sebagai daerah tempat perpindahan awal untuk orang Tidung. Mereka kemudian berdomisili di sana dan membentuk suatu institusi tradisional.

Pada Kerajaan ini sudah terbentuk dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat berlatar belakang dari Suku Tidung, hal ini yang tulis oleh Nugroho. Dan ada kemungkinan bahwa mereka ini terpisahkan dari keluarga mereka yaitu suku induknya, seperti Suku Dayak Murut.”

Institusi yang sudah terbentuk ini mempercayai bahwa ada berupa kerajaan kecil. Secara tradisi, pada komunitas ini sudah berdiri sendiri yang kemudian dikuasai oleh Kesultanan yang ada di Bulungan yang mendapat sebuah pengakuan dari pemerintahan kolonial Belanda.

Seram Abis ! Suku Pemburu Kepala ada di Indonesia

by Edwin Baker

Nyatanya beberapa tradisi dan juga budaya dari sebuah daerah, memang memiliki tradisi tersebut yang mana berkaitan langsung dengan adanya hal-hal yang berbau mistis dan sudah pasti sangat menyeramkan. Alias dalam hal ini tidak biasa dan konon katanya mampu membuat bulu kuduk kalian jadi berdiri jika hanya membayangkannya saja. Seperti halnya tradisi dari suku Pemburu Kepala yang berada di beberapa daerah yang ada di dunia dan salah satunya berasal dari Negara Indonesia. Dan pada beberapa suku ini berhasil mempraktekkan atau menggunakannya sebagai Ritual Violence, lalu bisa menunjukkan maskulinitas sampai pada akhirnya Kanibalisme lah yang muncul. 

Kalian kebayang enggak sih ? kalau seandainya Suku Pemburu Kepala ini beredar keberadaannya sampai menyentuh garis Kota ? sudah pasti bakalan membuat kalian semua ketar ketir. Pasalnya, sewaktu-waktu nyawa kalian bisa terancam begitu saja dari kehadiran Suku yang satu ini ! nah kira-kira, selain adanya Suku Pemburu Kepala yang berada di Indonesia. Dimanakah mereka berada ? apakah masih di Indonesia juga atau justru adanya di luar Negeri ? jika iya, Alhamdulillah banget deh wkwkwkwk…. 

Suku Pemburu Kepala : Suku Dayak Laut, Borneo 

Disini Suku Dayak Laut atau yang memang biasa dikenal sebagai iban yang sudah menjadi salah satu suku Head Hunter Terngeri yang pernah ada di dunia ! suku ini sangat suka berdiam diri di wilayah pesisir pantai, namun bukan karena judi sabung ayam berdiam diri atau tinggal di pesisir pantai membuat suku yang satu ini jadi terkenal sampai ke Mancanegara. 

Hal yang mampu membuat Suku Dayak Laut ini menjadi sangat terkenal adalah dari ritual perburuan kepala yang telah dilakukan oleh mereka terutama sekali pada saat bertarung hanya untuk memperluas wilayah dari kekuasaan. Umumnya peperangan yang dilakukan oleh Suku Dayak Laut ini sudah berlangsung sangat amat sengit. Selama berperang, Suku Iban juga biasanya sudah melakukan praktik pemenggalan kepala dari lawannya dalam menunjukkan Superioritas mereka di depan dari lawan-lawannya. 

Dan dalam bahasa Lokal, ritual ini sudah dinamakan dengan Ngayau. Dan ritual ini sendiri bahkan pernah sangat terkenal di Era perang Dunia ll dimana pada saat itu, Suku Iban bisa membentuk Aliansi yang berisikan atas ribuan Ksatria Pemburu Kepala Manusia ! dan konon katanya juga, mereka ini mampu untuk bisa menghabisi 1.500 tentara jepang yang datang langsung ke wilayah Kalimantan ! ( Ini bagus nih, yang diIncar masa penjajahan ). Seiring dari perkembangan Zaman, praktik Ngayau sendiri mulai saja ditinggalkan dan semoga saja tidak pernah dilakukan lagi nantinya. 

Suku Pemburu Kepala : Suku Igorot, Filipina 

Suku ini sendiri memburu kepala yang mana didasari oleh berbagai hal. Dimulai dari perebutan kekuasaan, persembahan untuk musim panen, lalu sebagai tumbal bagi kesehatan hingga adanya seserahan saat diadakannya Upacara Pernikahan. Walau begitu, tidak sembarang orang boleh dalam melakukan ritual dari perburuan kepala ini. Hanya saja para prajurit yang sudah ikut berperang atau memenangkan duel dengan lawannya yang bisa diizinkan melakukan ritual tersebut. 

Prajurit ini umumnya ditandai langsung dari adanya tato yang bertuliskan “ c h k l a g “ yang menjadi simbol seorang Head Hunter. Disaat memenggal bagian kepala dari buruannya tersebut, suku ini biasanya memang menggunakan bantuan dari pemakaian senjata tradisional yang mereka miliki dengan bentuk seperti Kapak Besar.  Suku Igorot percaya, dari semakin banyaknya penggalan kepala tersebut maka, akan semakin kuat juga magis yang dimiliki oleh mereka. 

Kepercayaan ini yang membuat Suku Igorot dikenal sebagai suku yang sangat senang sekali dalam melakukan perang. Selain daripada itu, adanya tensi atas perselisihan antar suku sudah menjadi semakin meninggi. Entah dipicu dari hal apa yang mengacu pada ketersinggungan atau ajang balas dendam dikarenakan ada anggota sukunya yang dipenggal oleh kelompok lainnya. Bukti dari hadirnya tensi perselisihan ini adalah adanya peperangan Suku Igorot dengan tuangan tulisan buku “ The Bontoc Igorot “- By Albert Ernest Jenks ( 1950 ). Dalam buku ini, dijelaskan juga bahwa peperangan yang sudah dilakukan oleh Suku Igorot bisa berlangsung dalam kurun waktu beberapa jam hingga dalam kurun waktu 1 hari penuh. 

Perang baru bisa berhenti ketika kedua belah pihak yang bersinggungan tersebut sudah sama-sama puas atas jumlah kepala yang bisa mereka penggal. Total dari jumlah kepala yang bisa dipenggal sangat amat bervariasi, dimulai dari satu hingga lusinan yang bergantung dari seberapa dalam dendam antara kedua suku. 

Seiring dari berjalannya waktu serta masuknya pengaruh dari ajaran kristen ke Filipina, dan praktik perburuan kepala ini sudah mulai ditinggalkan. Lalu Suku Igorot pun mulai mencoba dalam mengubah pola pikir mereka yang pada akhirnya secara bertahap meninggalkan praktik yang sangat mengerikan ini ! 

Suku Pemburu Kepala : Suku Shuar, di Peru & Ecuador

Suku ini sendiri tinggal di bagian terpencil yakni dari Hutan Amazon yang ada di 2 negara ( Peru dengan Ekuador ). Suku Shuar konon katanya shi memiliki struktur masyarakat yang sangat kompleks dan juga sudah dikenal dengan berbagai macam ritual uniknya. Beberapa diantaranya adalah ritual dari kedewasaan para remaja pria yang diwajibkan untuk bisa melakukan perjalanan bersama dengan ayah atau bersama paman mereka dalam kurun waktu beberapa minggu ke tempat air terjun yang sangat keramat. 

Nah dalam perjalanan ini, para remaja dari Suku Shuar sendiri hanya diperbolehkan untuk bisa mengkonsumsi air perasan tembakau yang niscaya dipercaya, dapat membuat mereka menjadi kuat dan juga siap untuk bertempur di medan perang. Selain adanya ritual tersebut, satu lagi nih ritual lainnya yang dikatakan sangat amat menyeramkan. Suku Shuar akan mulai mencari atau memburu kepala manusia dan juga mengawetkannya guna dijadikan sebagai bahan dari Jimat. Disana sudah dikenal sebagai tsantsa

Selain bisa digunakan sebagai jimat, maka tsantsa ini seringkali dianggap langsung sebagai lambang Supremasi di Kalangan Suku Shuar. Dengan semakin banyak orang-orang yang memiliki Tsantsa, maka akan semakin tinggi juga kedudukan yang sudah dimiliki oleh orang tersebut. Proses dari pengawetan kepala yang dipenggal tadi, ternyata sudah pernah diabadikan oleh seseorang yang memiliki nama Edmundo Bielawski sejak tahun 1965. Dan rekaman ini sendiri menjadi satu-satunya rekaman yang pernah didokumentasikan terkait atas dasar ritual mengerikan yang sudah dilakukan oleh Suku Shuar. 

Suku Pemburu Kepala : Suku Aztec, Meksiko 

Amerika Latin – atau Meksiko ternyata tidak hanya dikenal sebagai ritual pengorbanan manusia yang sudah dilakukan, tetapi sudah dikenal dengan adanya ritual dari perburuan kepala. Mereka ini sangat amat gemar sekali mengoleksi kepala dari Musuh-Musuh yang sudah dikalahkan. Kepala-kepala ini kemudian mereka kumpulkan dalam sebuah rak kayu yang mana memiliki nama Tzompantli. Agar nantinya kepala bisa ditempatkan, maka kepala yang sudah dipenggal akan diberi lubang agar nantinya bisa dimasukkan ke tiang penyangga di dalam Tzompantli. 

Praktik yang sangat mengerikan ini dipercaya sudah berlangsung sejak abad ke 7 atau masuk pada tahun 13 Masehi. Didasari pada catatan Fray  Diego Duran dan Bernard ortiz de  Montellano, sudah lama ditemukan setidaknya 60 tengkorak manusia di sebuah kuil yang memiliki nama Tenochtitlan. Pada semua tengkorak tersebut yang sudah tertata sangat amat rapi dalam Tzompantli raksasa yang disebut dengan Huey Tzompantli. Dan catatan dari kedua orang diatas juga bisa mengatakan jika sedikitnya terdapat 5 Buah Huey Tzompantli di dalam Komplek dari Kuil Tenochtitlan.

Dimanakah Keberadaan Suku Misterius yang ada di Indonesia ?

by Edwin Baker

Negara Indonesia – memiliki keberagaman Suku atau Etnik yang sangat amat luar biasa. Dari kutipan pada situs 99.co, Badan Pusat Statistik atau BPS di tahun 2010 setidaknya memang ada 1.340 suku Indonesia yang sudah tercatat.nah beberapa diantaranya sudah pasti kalian ketahui. Namun dari semua yang kalian ketahui, nyatanya masih ada nih beberapa suku Misterius di Indonesia yang mana sudah kalian ketahui belum keberadaannya ? dan jika sudah, kira-kira tempatnya ada di mana ? …. 

Memang bisa dikatakan cukup banyak sekali cerita yang berkembang dari Mulut ke Mulut mengenai adanya Suku di Indonesia atau adanya Kelompok Masyarakat misterius tersebut. Jumlahnya memang tidak hanya satu, dan lokasi mereka tinggal ini ternyata sudah tersebar ke beberapa pulau. Intinya, dari Sabang sampai Merauke ada, namun tidak bisa tereksplor semuanya. Kira-kira dimana saja dan apa nama dari suku tersebut ? yuk cek langsung lebih detailnya pada bagian yang ada di bawah ini ! 

Daerah Mappi – Papua, Suku “ Korowai “ 

Suku Asmat menjadi salah satu suku asli yang ada di wilayah Papua dan sudah banyak dikenal oleh Masyarakat Indonesia. Pada wilayah yang berada di bagian Paling Timur dari negara Indonesia memang sudah menjadi tempat bermukimnya dari salah satu suku Misterius tersebut yang bernama Korowai. 

Dikenal masih sangat primitif, nyatanya suku ini benar-benar tega untuk memakan daging manusia ! untungnya saja, praktik dari Kanibalisme ini hanya saja terjadi saat mereka belum pernah mengenal dunia sekitar. Disebutkan juga, Masyarakat Korowai yang tinggal langsung di daerah Kaibar pada Kabupaten Mappi baru saja ditemukan di tahun 1970 silam.  

Dan sampai saat ini, maka Masyarakat Korowai masih sangat teguh dalam memegang adat istiadatnya. Nah sehari-hari, maka mereka juga mengenakan pakaian dari dedaunan yang maan tinggal dirumah panggung dengan tingginya sendiri sekitar 50 meter dari atas tanah dan juga sudah melakukan perburuan hanya untuk bisa makan nantinya. 

Daerah Pulau Seram – Maluku , Suku “ Bati “ 

Dilansir melalui Wikipedia oleh situs 99.co, Seram sendiri sudah disebut langsung sebagai Pulau Utama yang sekaligus terbesar di bagian provinsi Maluku selain adanya Pulau Ambon. Berkembangnya cerita bahwa di wilayah ini bisa berdiam sebuah suku Indonesia Misterius bernama Bati. dan berdasarkan dari omongan yang tak pernah diketahui asalnya, juga diketahui bahwa Suku Bati ini bukanlah Manusia, yang mana melainkan Makhluk besar yang sekilas saja mirip dengan kelelawar Raksasa. Mereka semua juga kerap kali memangsa hewan sebagai santapan namun yang seramnya, “ ANAK KECIL !” bisa jadi makanan bagi suku ini !

Daerah Jawa Tengah , Suku “ Samin “ 

Secara bahasa, suku sendiri mampu diartikan menjadi kelompok orang yang mana sudah tinggal di suatu wilayah tertentu. Dan disisi lain, apakah kalian pernah bertanya-tanya dari manakah Suku ini untuk pertama kalinya muncul ? lalu siapa saja yang memiliki niat untuk menjadi pengikutnya ? dan jumlah dari suku tersebut apakah sudah banyak ? ….. 

Nah nyatanya di daerah Jawa tengah disebut juga terdapat satu Kelompok suku yang mana menanamkan diri mereka sebagai Wong Sikep. Adakah kisah dari penamaan Samin atau Wong Sikep ini ? jadi semua ini dikarenakan, para anggotanya merupakan pengikut Samin Surosentiko yang mana mengajarkan perlawanan pada Belanda dengan adanya ajaran Sikep. Sampai pada tahun 1970 an, suku Indonesia atau kelompok masyarakat ini baru saja keluar dari persembunyiannya. Dan dikala itu, mereka juga baru saja mengetahui bahwa Indonesia sendiri sudah resmi Merdeka dari negara Belanda ataupun dari Negara Tirai Bambu sampai dengan Jepang. 

Daerah Jambi, Suku “ Kubu “ 

Layaknya untuk suku-suku Primitif lainnya, Suku Kubu atau yang jauh lebih dikenal sebagai Suku Anak Dalam yang mana bermukim secara Nomaden. Dan tempat tinggal mereka untuk pertama kalinya adalah sekitar wilayah Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas (12). Dan saat ini, mereka sudah mulai menyebar di sekitar wilayah pada pedalaman Jambi. Disamping menyukai perburuan Hewan, Suku Anak dalam di sana juga melakukan adanya kegiatan pertanian. Dan salah satunya yang menjadi komoditas mereka sudah berhasil dalam pertanian karet. 

Daerah Kalimantan Barat,  Suku “ Paloh “ 

Suku di Indonesia yang mana sudah masuk menjadi sekelompok suku Misterius dan juga Gaibnya bernama Paloh. Suku tersebut sudah ada dari Kawasan Kalimantan Barat yang berbatasan dengan adanya Malaysia dan juga memiliki pasukan Khusus Gaib yang mana mampu dalam melindungi wilayah tempat tinggal mereka. 

Daerah Gorontalo – Sulawesi Tenggara, Suku “ Polahi “ 

Di kedalaman hutan Boliyohuto, Gorontalo daerah Sulawesi Tenggara ternyata sudah bermukim langsung sebuah suku Indonesia yang memiliki nama Polahi. Suku ini sendiri muncul sebagai keturunan Warga Lokal yang mana kabur ke Hutan saat penjajahan Belanda. Mereka semua menghindari Belanda, dan juga beranak pinak sehingga untuk populasinya semakin berasa. Dan perlu saja kalian ketahui, ternyata salah satu suku di Indonesia yang bernama Polahi ini menjadi pelaku dari kawin sesama saudara atau Incest ya bukan insect. Caranya sendiri dilakukan hanya untuk memperbanyak keturunan mereka sehingga bisa semakin besar lagi. 

Daerah Aceh, Suku “ Mante “ 

Nyatanya Suku Indonesia juga ternyata lahir berkat adanya akulturasi bangsa lainnya yang mana masuk ke dalam Wilayah NKRI dari sejak dulunya. Nah salah satu dari Suku yang menjadi Contohnya adalah Suku Mante dari Wilayah Aceh, Provinsi Sumatera. Masyarakat suku ini memiliki latar belakang Melayu Kuno dan juga Champa yang ada di negara Kamboja. Dan sejak dari 3 ribu tahun sebelum masehi, Suku Mante sendiri sudah eksis di hutan Wilayah Aceh. untuk peradaban mereka juga dulunya tersebar di daerah Jantho, yakni Aceh Besar. 

Daerah Sumatera Barat, Suku “ Orang Bunian “ 

Jadi orang Bunian ini menjadi Kelompok Suku Gaib yang konon katanya dulu banyak sekali tersebar di Sumatera Barat. Mereka masih bisa menetap di Area Hutan, Bukit atau bahkan adanya Kuburan yang sepi. Umumnya Suku ini juga bisa meninggali rumah Kosong yang tidak akan dihuni lagi. Mereka semua seringkali terlihat pada waktu sore hari dengan diberikan tanda-tanda aroma kentang yang sedang di goreng. Kelompok suku ini juga telah dikenal seringkali menyesatkan pada penjelajah yang ada disana. Jika nantinya ada orang sampai kiranya masuk ke dunia Suku Orang Bunian, maka umumnya kecil kemungkinan untuk bisa berhasil keluar nantinya. 

Daerah Kalimantan Barat, Suku “ Orang Limun “ 

Jika tadi ada Orang Bunian di Sumbar, maka Kalbar juga memiliki Orang Limun. Disana dikenal langsung dengan orang Kebenaran atau suku gaib yang sudah diketahui menetap di Padang 12. Nah untuk Padang 12 sendiri menjadi sebuah lahan kosong yang tidak terjamah dan dikelilingi oleh banyak pohon Pinus yang ada di sekitarnya. Warga setempat juga percaya jika lokasi ini masih bisa untuk ditempati oleh orang Limun yang mana dikenal sangat suci dan juga taat beribadah. Terdapat juga pada versi lainnya yang mana mengatakan jika Orang Limun merupakan perwujudan dari Jin Islam yang sudah menetap disana selama ribuan tahun lalu. Dan umumnya orang-orang ini seringkali menyamar menjadi Nenek  Tua yang mana minta diantar langsung ke Padang 12 dan juga kemudian mereka ini hilang begitu saja dengan meninggalkan rezeki yang sangat banyak.

Suku yang Terkenal di Papua, Dikenal Berani

by Edwin Baker

Provinsi Papua nantinya akan menjadi salah satu dari tuan rumah pada perhelatan Pekan Olahraga Nasional atau yang dikenal dengan PON di tahun 2020 mendatang. Sejumlah fasilitas olahraga yang juga sudah mulai disiapkan, mulai dari stadion dan juga beberapa fasilitas penunjang yang lainnya juga menjadi sebuah hal yang terus dikebut disana.

Suku yang Terkenal di Papua, Dikenal Berani

Karena ini adalah salah satu momen yang sangat bersejarah bagi provinsi yang berada di wilayah paling timur Indonesia tersebut. Sebelumnya Papua yang disebut dengan Irian Barat atau Irian Jaya, disana terdapat ratusan suku. Dalam artikel ini akan dibahas beberapa suku yang ada di wilayah papua.

Suku Asmat

Suku Asmat adalah salah satu dari suku terbesar dan juga suku paling terkenal yang ada di antara sekian banyaknya suku yang berada di Papua. Salah satu hal yang membuat Suku Asmat ini menjadi cukup terkenal yaitu adalah hasil ukuran kayu yang sangat khas yang dibuat oleh suku ini.Biasanya suku Asma mengambil tema nenek moyang mereka atau biasa disebut dengan mbis.

Bagaimana suku asmat membuat sebuah seni ukir, yang merupakan perwujudan dari mereka yang melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhur mereka. Sering kai biasanya kita akan menemukan motif yang menyerupai sebuah perahu di dalam beberapa ukiran yang dibuat oleh suku asmat. Mereka percaya bahwa simbol perahu arwah yang nantinya akan membawa nenek moyang mereka ke dalam alam kematian.

Suku Amungme

Suku Amungme adalah sebuah suku yang juga berasal dari Papua. Suku ini sendiri tinggal di dataran tinggi Papua. Mereka yang biasanya akan menjalankan pertanian dengan cara berpindah serta dengan cara melakukan berbagai macam kegiatan dengan cara berburu dan juga dengan cara mengumpul. Suku Amungme yang juga sangat terikat dengan tanah leluhur mereka.

Mereka yang menganggap jika sekitar gunung adalah sebuah tempat yang sangat suci untuk mereka. Gunung yang dijadikan penambangan emas yang dilakukan oleh PT.Freeport merupakan sebuah gunung suci yang sangat diagung agungkan oleh Masyarakat Suku Amungme, yang menyebutnya dengan nama Nemangkawi.

Suku Dani

Suku Dani adalah salah satu suku yang juga mendiami di daerah pegunungan. Serta suku Dani ini juga mendiami keseluruhan dari Kabupaten Jayawijaya. Banyak orang yang juga mengenal Suku Dani adalah yang mendiami suatu wilayah yang ada di Lembah Baliem. Suku Dani mereka dikenal sebagai petani yang sangat terampil dan juga sangat mahir menggunakan perkakas seperti kapak batu, pisau yang dibuat dengan menggunakan tulang binatang. Bambu dan kayu galian yang sangat terkenal kuat dan berat.

Suku Dani yang saat ini masih banyak mengenakan koteka atau salah satu penutup kemaluan pria. Sedangkan untuk para wanita mengenakan sebuah pakaian wah yang terbuat dari rumput ataupun juga serat. Mereka biasanya akan tinggalnya di rumah honai. Upacara besar serta jug sebuah upacara keagamaan dan perang biasanya juga masih sering dilaksanakan oleh Suku Dani ini. Suku ini pertama kali diketahui berada di Lembah Baliem ratusan tahun yang lalu.

Suku Korowai

Suku Korowai juga mendiami area judi bola online yang luas di dataran rendah yang ada di wilayah selatan pegunungan Jayawijaya. Daerah tersebut membentuk sebuah rawa, hutan mangrove dan juga sebuah lahan basah. Suku Korowai yang memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah salah satunya manusia yang ada di bumi.

Suku Korowai juga salah satu dari Suku Papua yang tidak mengenakan koteka. Banyak dari orang yang mengenal Suku Korowai ini sebagai pemburu. Biasanya suku ini akan tinggal di rumah pohon yang akan mereka bangun.

Suku Muyu

Suku Muyu adalah salah satu suku asli yang berasal dari papua, suku ini hidup dan juga berkembang di Kabupaten Boven DIgoel. Nenek moyang dari Suku Muyu ini dulunya tinggal di daerah sekitar sungai mayu yang terletak di sebelah timur merauke. Uniknya lagi, beberapa anthropologist yang menyebut jika Suku Muyu adalah salah satu Primitive Capitalists.

Suku Muyu yang dianggap sebagai orang-orang suku pedalaman yang pintar. Mereka yang dapat menduduki posisi penting dalam struktur birokrasi Boven Digoel. Dari 1.800 pegawai negeri sipil, dimana sekitar 45% nya yang berasal dari Suku Muyu. Suku Muyu yang juga dikenal hemat, pekerja keras dan juga sangat menghargai pendidikan. Mereka yang menyebut dirinya sendiri dengan istilah Kati. Yang artinya adalah manusia yang sesungguhnya.

Suku Bauzi

Oleh lembaga misi dan juga bahasa Amerika Serikat, suku Bauzi yang masuk juga ke dalam daftar 14 suku terasing di Indonesia. Sebagai suku yang menempati kawasan terisolir. sebagai lelaki yang ada di suku bauzi mengenakan cawat yang berapa selembar atau kulit pohon yang telah dikeringkan lalu kemudian diikat dengan tali pada ujung alat kelamin mereka Sedangkan untuk para wanita mengenakan selembar daun ataupun juga kulit kayu yang sudah dikeringkan dan di tali di pinggang mereka untuk dapat menutupi auratnya

Pada acara pesta adat atau pun sebuah upacara penyambutan tamu di suku ini. Biasanya para lelaki dewasa akan mengenakan hiasan kepala dari bulu kasuari dan juga nantinya akan mengoles tubuh mereka dengan sagu. Sebagian besar suku ini antv masih hidup dengan taraf berburu dan juga meramu serta hidup semi nomaden.

Suku Huli

Suku Huli adalah salah satu suku yang termasuk ke dalam suku terbesar yang ada di Papua. Mereka biasanya identik dengan wajah mereka dengan warna kuning, putih, merah. Mereka terkenal dengan tradisi mereka yaitu membuat wig dari rambut mereka sendiri. Alat-alat seperti kapak dengan cakar juga tidak ketinggalan, menjadi alat yang digunakan untuk melengkapi mereka agar menambah kesan menakutkan. Kesimpulannya adalah, banyak sekali suku yang mendiami pulau Papua. Sebagian mereka memiliki keunikan tersendiri dari pada suku-suku yang lainnya.

Korowai

Adalah salah satu suku pedalaman papua. Suku ini masih mempertahan tradisi lama dan menjauh dari peradaban. Satu yang cukup terkenal adalah suku Korowai. Suku ini diketahui memiliki anggota hingga 3.000 orang. Mereka biasanya tinggal di Papua Barat, Indonesia yang dekat dengan perbatasan dari Papua Nugini.

Dilansir juga dari laman en.goodtimes.my, Korowai yang dikatakan sebagai satu dari kelompok manusia yang paling terpencil di yang ada dunia. Dipercaya bahwa Korowai adalah suku yang tidak menyadari keberadaan orang lain selain diri mereka sendiri yaitu sebelum orang luar melakukan kontak dengan mereka pada tahun 1970 an.

Suku Korowai yang diyakini pertama kali ditemukan yaitu pada 1974 oleh sekelompok ilmuwan. Ilmuwan yang pada saat itu tersesat tanpa sengaja memasuki wilayah dari suku Korowai.

Demikian itulah beberapa suku yang ada di Papua. Papua memang menjadi salah satu provinsi paling timur Indonesia, papua sendiri masih didiami oleh suku khas, bahkan beberapa masuk ke dalam suku primitif. Bahkan jika diketahui ternyata ada beberapa suku pedalaman lainnya yang belum diidentifikasi.