Suku Sasak berada di sebelah Pulau Bali, Lombok merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer dari Indonesia bagian timur. Selain karena wisata bahari nya yang sangat indah, keaslian tradisi dan budayanya juga cukup menarik untuk kalian telaah lebih dalam lagi. Salah satunya adalah Suku Sasak. Terdiri dari 5 Kabupaten serta kota, yaitu Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah dan juga kota Mataram. Pulau yang satu ini menjadi kampung halaman bagi sekitar 85% penduduk Suku Sasak.

Menurut para penelitian para etnolog yang mengumpulkan hampir semua bahasa di dunia, menggolongkan bahasa Sasak ke dalam rumpun bahasa Austronesia Melayu-Polinesia, juga ada kesamaan ciri dengan rumpun bahasa Sunda-Sulawesi, Bali-Sasak. Bahasa Sasak yang digunakan di Lombok secara dialek dan lingkup kosakatanya dapat digolongkan kedalam beberapa bahasa sesuai dengan wilayah penuturnya. Berikut ini adalah sejarah dan juga tradisi yang ada pada Suku Sasak. Berikut diantaranya.

Struktur dan Sistem Masyarakat Sasak

Suku Sasak pada masa lalu secara sosial-politik, digolongkan dalam dua tingkatan sosial utama, yaitu golongan bangsawan yang disebut perwangsa dan bangsa Sama Atau jajar karang sebagai golongan masyarakat kebanyakan. Golongan perwangsa ini terbagi lagi atas dua tingkatan, yaitu bangsawan tinggi (perwangsa) sebagai penguasa dan bangsawan rendahan (triwangsa). Bangsawan penguasa (perwangsa) umumnya menggunakan gelar datu. Selain itu mereka juga disebut Raden untuk kaum laki-laki dan Denda untuk perempuan. Seorang Raden jika menjadi penguasa maka berhak memakai gelar datu. Perubahan gelar dan pengangkatan seorang bangsawan penguasa itu umumnya dilakukan melalui serangkaian upacara kerajaan. Bangsawan rendahan (triwangsa) biasanya menggunakan gelar lalu untuk para lelakinya dan baiq untuk kaum perempuan. 

Tingkatan terakhir disebut jajar karang atau masyarakat biasa.Panggilan untuk kaum laki-laki di masyarakat umum ini adalah loq dan untuk perempuan adalah le. Golongan bangsawan baik perwangsa dan triwangsa disebut sebagai permenak. Para permenak ini biasanya menguasai sejumlah sumber daya dan juga tanah. Ketika Kerajaan Bali dinanti Karangasem berkuasa di Pulau Lombok, mereka yang disebut permenak kehilangan haknya dan hanya menduduki jabatan pembekal (pejabat pembantu kerajaan). Masyarakat Sasak sangat menghormati golongan permenak baik berdasarkan ikatan tradisi dan atau berdasarkan ikatan kerajaan. Di sejumlah desa, seperti wilayah Praya dan Sakra, terdapat hak tanah perdikan (wilayah pemberian kerajaan yang bebas dari kewajiban pajak).

Setiap penduduk mempunyai kewajiban apati getih, yaitu kewajiban untuk membela wilayahnya dan ikut serta dalam peperangan. Kepada mereka yang berjasa, Kerajaan akan memberikan beberapa imbalan, salah satunya adalah dijadikan wilayah perdikan. Landasan sistem sosial masyarakat dalam kehidupan suku Sasak umumnya mengikuti garis keturunan dari pihak laki-laki (patrilineal). Akan tetapi, dalam beberapa kasus hubungan masyarakat nya terkesan bilateral atau parental (garis keturunan diperhitungkan dari kedua belah pihak; ayah dan ibu).

Pola kekerabatan yang dalam tradisi suku sasak disebut Wiring Kadang ini mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakatnya. Unsur-unsur kekerabatan ini meliputi Kakek, Ayah, Paman (saudara laki-laki ayah), Sepupu (anak lelaki saudara lelaki ayah), dan anak-anak mereka. Wiring Kadang juga mengatur tanggung jawab mereka terhadap masalah-masalah keluarga; pernikahan, masalah warisan dan hak-kewajiban mereka. Harta warisan disebut pustaka dapat berbentuk tanah, rumah, dan juga benda-benda lainnya yang merupakan peninggalan leluhur. Orang-orang Bali memiliki pola kekerabatan yang hampir sama disebut purusa dengan harta waris yang disebut pusaka.

Sejarah Suku Sasak

Pulau Lombok sejatinya adalah kampung halaman dari Suku Sasak. Ini karena penduduk Sasak sudah menghuni pulau ini selama berabad-abad, yaitu sejak 4.000 sebelum Masehi. Secara etimologi, banyak anggapan bahwa nama Sasak berasal dari kata “sak-sak” yang artinya satu atau utama. Hal ini berhubungan dengan kitab Negarakertagama oleh Mpu Prapanca yang berisi catatan kekuasaan Majapahit di abad ke-14. Di dalam kitab tersebut, terdapat ungkapan “Lombok Sasak Mirah Adi” yang diartikan sebagai “kejujuran adalah permata yang utama”. Itu sebabnya, banyak yang meyakini bahwa leluhur dari Suku Sasak adalah orang-orang Jawa.

Nah, kalian pasti pernah mendengar sebutan lain Pulau Lombok yaitu Pulau Seribu Masjid, kan? Nama lain ini didapat karena sebagian besar masyarakat Suku Sasak merupakan pemeluk agama Islam. Sehingga, hampir di tiap sudut, kalian akan menemukan banyak bangunan Masjid beserta menaranya. Meski begitu, tak sedikit pula orang-orang Sasak yang menganut kepercayaan Boda, yaitu menyembah roh-roh leluhur mereka dengan cara yang unik.

Tradisi dan Budaya Suku Sasak

Memiliki bangunan rumah yang terbuat dari tanah liat bercampur kotoran kerbau, Suku Sasak merupakan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi para leluhurnya. Salah satu yang paling terlihat jelas adalah saat dilaksanakannya prosesi pernikahan. Di Lombok istilah kawin lari sudah bukan hal yang tabu. Justru, inilah keunikan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Suku Sasak.

Di tradisi ini, pihak pria akan “membawa kabur” sang calon istri kemudian menyembunyikannya tanpa diketahui oleh orang tua wanita. Pelarian ini biasanya berlangsung selama 3 hari. Setelahnya, orang tua sang calon istri akan “menebus” dan kemudian membicarakan kelanjutan hubungan tersebut menuju ke jenjang yang lebih serius. Uniknya lagi, di dusun ini pun masih sering terjadi pernikahan antar saudara dan tak dianggap aneh. Menarik, ya?

Memiliki bangunan rumah yang terbuat dari tanah liat bercampur kotoran kerbau, Suku Sasak merupakan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi para leluhurnya. Salah satu yang paling terlihat jelas adalah saat dilaksanakannya prosesi pernikahan. Di Lombok istilah kawin lari sudah bukan hal yang tabu. Justru, inilah keunikan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Suku Sasak.

Di tradisi ini, pihak pria akan “membawa kabur” sang calon istri kemudian menyembunyikannya tanpa diketahui oleh orang tua wanita. Pelarian ini biasanya berlangsung selama 3 hari. Setelahnya, orang tua sang calon istri akan “menebus” dan kemudian membicarakan kelanjutan hubungan tersebut menuju ke jenjang yang lebih serius. Uniknya lagi, di dusun ini pun masih sering terjadi pernikahan antar saudara dan tak dianggap aneh. Menarik, ya?

Tradisi Seni Suku Sasak

Dari sejarahnya yang panjang, Suku Sasak bisa saja diidentifikasikan sebagai budaya yang banyak mendapat pengaruh dari Jawa dan Bali. Pun sejarah mencatatnya demikian, kenyataannya kebudayaan Suku Sasak memiliki corak dan ciri budaya yang khas, asli dan sangat mapan hingga berbeda dengan budaya suku-suku lainnya di Nusantara. Kini, Sasak bahkan dikenal bukan hanya sebagai kelompok masyarakat tapi juga merupakan entitas budaya yang melambangkan kekayaan tradisi Bangsa Indonesia di mata dunia. Berikut beberapa seni dan tradisi yang cukup terkenal dari suku Sasak:

  • Bau Nyale

Nyale adalah sejenis binatang laut, termasuk jenis cacing (annelida) yang berkembang biak dengan bertelur. Dalam alam kepercayaan Suku Sasak, Nyale Bukan sekedar binatang, beberapa legenda dari Suku ini yang menceritakan tentang putri yang menjelma menjadi Nyale. Lainnya menyatakan bahwa Nyale adalah binatang anugerah, bahkan keberadaannya dihubungkan dengan kesuburan dan keselamatan.

Ritual Bau Nyale atau menangkap nyale digelar setahun sekali. Biasanya pada tanggal 19 atau 20 pada bulan ke-10 atau ke-11 menurut perhitungan tahun suku Sasak, kurang lebih berkisar antara bulan Februari atau Maret.

  • Rebo Bontong

Suku Sasak percaya bahwa hari Rebo Bontong merupakan hari puncak terjadi bencana dan atau penyakit (Bala) sehingga bagi mereka sesuatu yang tabu jika memulai pekerjaan tepat pada hari Rebo Bontong. Kata Rebo dan juga Bontong kurang lebih artinya “putus” atau “pemutus”.

Upacara Rebo Bontong dimaksudkan untuk dapat menghindari bencana atau penyakit. Upacara ini digelar setahun sekali yaitu pada hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.